Wednesday, 23 September 2015

Ketika Rafaela Cemburu Pada Freya


Pada kumandang takbir Idul Adha semalam, aku akhirnya memutuskan untuk menduakan Rafaela. Ya, setelah cukup lama berpikir dan menimbang ini itu, aku pun mempersiapkan mental untuk membagi hati (baca: partisi) untuk menginstall Freya. 

Mengapa Freya dan bukan yang lain? Cukup panjang sih ceritanya, namun tak apalah sambil berbagi cerita dengan rekan-rekan pengguna Linux yang lain.

Jadi gini, aku pribadi adalah pengguna lama Linux Mint. Setidaknya aku sudah mengenal Mint sejak Julia dilahirkan (rilis). Julia adalah pendamping hidup (distro) yang mendampingiku selama beberapa waktu. Dari Julia inilah aku mendapatkan banyak pengalaman berharga, termasuk juga pengalaman remastering distro.

Aku memang sering bergonta-ganti distro awalnya, namun entah mengapa hatiku mengatakan bahwa Julia dan saudara-saudaranya, Katya, Lisa, Maya, Nadia hingga Rafaela adalah pendamping hidupku yang terbaik. Selain karena kecantikan dan ketidak-rewelannya, dukungan komunitas yang ada juga cukup membantuku untuk bertahan dan nggak pernah move on dari Mint.

Namun belakangan ini aku merasa Rafaela agak kurang vit. Aku sebenarnya maklum, karena aku adalah pacar yang selalu memforsir kehidupannya. Bagaimana tidak, aku memaksa Rafaela untuk menuruti semua nafsu dan egoku, dan ia tak pernah menolak keinginanku itu. Ah, tidak. . .  Ia pernah sekali menolak saat aku ingin mendandaninya dengan Pantheon. Ia bilang, “Baju itu tak cocok buatku, Ram. Maaf. . .”. Aku pun tak bisa berbuat apa-apa, karena kenyataannya Rafaela malah sakit (crash) ketika aku paksakan berdandan dengan Pantheon.

Rafaela-ku memiliki banyak fitur tambahan. Ia adalah pacar yang hebat dan tangguh. Bagaimana tidak, ia memiliki berbagai macam jenis desktop. Mulai dari Cinnamon (aslinya), Mate, Xfce, KDE, LXDE, Openbox, Fluxbox, dan Enlightenment. Selain itu, aku juga sering bermain-main dengan terminalnya, mengaktifkan fungsi-fungsi efeknya, hingga coba-coba bermain dengan metasplot, nmap, wireshark dkk, yah. . .meskipun hanya sekedar coba-coba, tapi aku harus mengakui bahwa Rafaela adalah pasangan paling pengertian yang pernah kumiliki.

Ah iya, beberapa waktu yang lalu, karena aku terobsesi dengan film Bloody Monday, aku pun akhirnya mendandani Rafaela sehingga mirip dengan komputer si Falcon. Sekali lagi thanks, ya Rafaela kamu udah mau ngertiin kemauanku.

Namun, di sisi lain, aku merasa Rafaela tak segesit dulu saat pertama kali kami berjumpa. Semua ini memang salahku, namun aku juga tak bisa terus-terusan menyalahkan keadaan dan diriku. Apalagi sekarang tugas mulai banyak. Sempat terbesit dalam pikiranku untuk mengulangi semua hubungan ini dari awal, namun aku takut. Aku takut Rafaela tak setuju. Aku takut kalau dia beranggapan cintaku padanya mulai luntur, padahal tidak. Aku masih menyayanginya.

Diam-diam aku melakukan uji coba beberapa distro. Mulai dari Ubuntu, Kali, Fedora, OpenSuse, hingga akhirnya EOS Freya. Entah mengapa tiba-tiba hatiku tertaut begitu saja saat menjalankan Freya melalui USB. Ia begitu memesona, pikirku. Setelah cukup lama aku berkenalan dan jalan-jalan (mencoba fitur-fitur bawaannya), kuberanikan diri untuk bilang pada Rafaela, “Ela, aku ingin mencarikanmu teman. Kenalkan, namanya Freya. Ia yang akan membantumu mendampingi hidupku”.

Airmata Rafaella menetes perlahan. Ia hanya terdiam, dan aku kikuk dengan segala yang terjadi ini. Maafkan aku Rafaela, aku tak ingin terus-terusan menyakitimu, aku tak ingin terus-terusan memaksamu untuk menuruti egoku. Percayalah, aku akan senantiasa bersamamu.

Usai instalasi, aku nyalakan ulang komputer. Dan ternyata Rafaela benar-benar ngambek, merajuk plus cemburu. Dia tidak mau meload GRUB milik Freya. Akhirnya aku bicara padanya secara baik-baik melalui terminal. Melalui terminal tersebut, aku katakan padanya, “sudo update-grub” dan dia memintaku untuk membisikkan password root dan akhirnya ikhlas juga Rafaela meload GRUB Freya. Thanks Rafaela. I love you!

Kau tahu, Freya memang cantik. Namun, dia agak sedikit manja. Ia tak seperti Rafaela yang sekali install langsung dapat digunakan kerja secara normal. Usai jadian dengan Freya aku harus membayar sekian ratus MB untuk membuatnya dapat bekerja maksimal.

Beberapa hal yang aku lakukan pasca jadia dengan Freya adalah menghidangkakan browser lain padanya, menambahkan codec, SMPlayer, synaptic (karena aku nyaman kalo pakai synaptic), WPS, XDM, Gedit, men-tweak beberapa fiturnya dan tak lupa menyapa terminalanya dengan sapaan, “sudo apt-get dist-upgrade”.

Tapi tak apalah. Toh sekarang aku sudah punya jadwal khusus dalam berkencan. Untuk urusan tugas-tugas kuliah aku serahkan pada Freya, karena dia masih gesit. Kalau untuk keseharian, dan belajar lain-lain aku tetap akan menggenggap jemari kekasih terbaikku, Rafaela.
Bagikan:

4 comments:

Anton Toni Agung said...

keren ya, saya dari 2010 pake fedora g pernah terpikirkan bagaimana menceritakannya :(

Rania el-Amina said...

tulis saja apa yang agan pikirkan . . .biarkan mengalir, sambil belajar sambil ngoprek . . hehe

Jamaludin said...

Freya siapa sih hehehe

Rania el-Amina said...

selingkuhan mas . . .