Showing posts with label Aku dan Linux. Show all posts
Showing posts with label Aku dan Linux. Show all posts

Monday, 9 January 2017

Update Inkscape 0.92 di Ubuntu dan Turunannya (Linux Mint, eOS, dkk)

Salah satu hal yang paling saya tunggu-tunggu di tahun 2017 adalah rilis stabil aplikasi favorit saya, Inkscape 0.92. Rilis Inkscape di awal tahun ini saya tak ubahnya kado tahun baru yang sangat dinantikan oleh pengguna setianya, termasuk saya. Meskipun saya terbilang pendatang baru di dunia desain, desain dengan Inkscape khususnya, namun secara lantang ingin saya katakan bahwa saya benar-benar jatuh cinta dengan aplikasi ini.
Tentang 5W+1H Inkscape, tak akan banyak saya singgung pada tulisan ini. Satu hal yang  memotivasi saya untuk mengeposkan tulisan ini tak lain karena malam ini saya mendengar kabar bahwa Inkscape 0.92 stabil telah tersedia di launchpad. Sebagai orang yang tahu kabar ini, saya merasa punya tanggungan untuk membagikan kabar gembira ini kepada teman-teman yang lain. Sebelumnya, terima kasih pada Kang Zakaria Azis yang telah mengeposkan berita ini melalui akun facebook-nya.
Baiklah, agar tak keluar dari judul mari kita mulai step by step memasang Inkscape 0.92 stabil melalui PPA Ubuntu. Langkah langkah ini dapat anda lakukan pada turunan Ubuntu atau distro dengan basis Ubuntu lain.

Pertama, buka terminal Anda, dan salin-tempel perintah berikut
sudo add-apt-repository ppa:inkscape.dev/stable
sudo apt-get update
Setelah menjalankan perintah di atas, jika pada sistem telah terpasang Inkscape versi sebelumnya (0.91 atau di bawah itu), maka akan ada pemberitahuan pada baris output paling akhir tentang pembaruan aplikasi. Cukup ketik perintah berikut untuk melakukan pembaruan.

sudo apt upgrade
Atau
sudo apt-get upgrade

Jika pada komputer Anda belum terpasang Inkscape, maka  jalankan perintah berikut untuk memasang Inkscape 0.92.

sudo apt install inkscape
Atau
sudo apt-get install inkscape

langkah di atas diperuntukkan bagi Anda yang sudah tidak sabar lagi untuk segera mencoba versi stabil Inkscape 0.92. Bila tak mau repot, sebenarnya Anda cukup bersabar menunggu dan para pengembang yang baik hati akan segera menyediakan Inkscape 0.92 pada repositori distro kesayangan Anda.
Saya telah mencoba langkah di atas pada dua distribusi linux, Linux Mint Sarah dan BlankOn X Tambora. Pada Linux Mint Sarah, langkah di atas berjalan dengan baik dan Inkscape 0.92 berhasil berjalan dengan baik. Saya katakan baik karena saya pernah mencoba memasang versi prarilis dan menemukan banyak masalah, pada palet warna misalnya. Pada versi stabil ini, masalah tersebut sudah tidak lagi muncul. Pada BlankOn X Tambora, langkah di atas menemui jalan buntu karena ada beberapa konflik paket. Hal ini cukup wajar, mengingat bahwa BlankOn X Tambora merupakan turunan langsung dari Debian, sedangkan Linux Mint merupakan turunan dari Ubuntu yang notabene PPA tersebut memang diperuntukkan bagi Ubuntu.

Sumber referensi:
https://launchpad.net/~inkscape.dev/+archive/ubuntu/stable
Bagikan:

Thursday, 6 October 2016

Kembali m-BlankOn

 Salah Satu Gambar Latar Tambora


Terhitung sejak Senin 3 Oktober lalu, saya telah kembali menjadi pengguna Linux BlankOn. Entah karena hembusan angin apa tiba-tiba saja timbul keinginan yang meluap-luap untuk kembali ke BlankOn. Saya pribadi menganalogikan apa yang terjadi pada saya ini seperti pulang.
Saya mengenal BlankOn sudah lumaya lama. Ketika masih duduk di bangku kelas SMP, saya pernah mencicipi BlankOn Nanggar dan Ombilin. Bukan main girangnya kala itu. Ada secercah “kebanggaan” di hati saat memasangnya pada laptop saya yang merknya sama sekali tidak terkenal.
Perjalanan saya dan BlankOn kala itu memang tidak berjalan lama. Karena saat itu BlankOn belum mendukung VGA laptop saya. Bukan hanya BlankOn sebenarnya, namun hampir sebagian besar distro Linux pada umumnya. Alhasil, beralihlah saya ke Linux Mint dan konsisten menggunakannya hingga sekarang.
Harus saya akui bahwa Linux Mint memang telah banyak membantu saya dalam menyelesaikan berbagai tugas. Saking nyamannya, saya hampir-hampir tidak tertarik lagi untuk mencoba distro-distro lain, termasuk distro-distro lokal maupun manca yang belakangan ini masif bermunculan. Saya tak lagi edan selayaknya saya SMP dulu yang hampir tiap minggu gonta-ganti distro. Meskipun hal tersebut juga bernilai plus, saya jadi punya koleksi puluhan (hampir seratus) distro linux.
Namun apalah daya, saat kuliah saya malah kepincut dengan elementary OS atau sering disebut eOS. Alasan sederhana yang membuat saya kepincut pada eOS tak muluk-muluk sebenarnya, karena dia lebih enteng. Ya, laptop kedua saya memang memiliki spesifikasi yang rendah. Setidaknya, dibanding laptop saya yang pertama, laptop saya yang kedua ini lebih bermerk. :-)
eOS benar-benar membuat saya tergiur. Desktop Pantheon-nya yang simpel semakin memikat hati saya. Akhirnya, mendualah saya. Pada saat-saat tertentu, saya ajak Mint jalan-jalan, dan pada saat yang lain, gantian eOS yang saya ajak jalan. Oh, tidak. Tidak pernah ada “Jendela” di laptop saya. Setidaknya itu sudah berlangsung sejak saya kelas VIII SMP.
Keharmonisan antara Mint dan eOS berjalan cukup lama, setidaknya hingga acara openSUSE.Asia Summit kemarin. Pasca acara tersebut, saya jadi gelisah. Seolah ada tamparan keras yang mendarat di muka. Tamparan yang mengingatkan bahwa saya sebenarnya mampu untuk “kembali” berkontribusi di dunia open source. Ke-pasif-an saya harus segera disudahi. Saya pernah sinting karena keseringan memprovokasi sekitar untuk mengajak mereka belajar tentang FOSS. Sekarang, saya tidak berbuat apa-apa? Tidak!
Setelah cukup lama menjadi pengguna Linux, sekalipun belum menguasai teknis pemrograman, saya merasa punya tanggung jawab untuk ikut andil dalam persoalan ini. Lebih-lebih, sekarang saya telah melihat dan mendengar kenyataan bahwa distro Indonesia (dalam hal ini BlankOn) telah membuka kesempatan seluas-luasnya untuk siapa saja agar ikut berkontribusi. Ambil!
Hal-hal itulah yang akhirnya membuat saya “pulang” kepada BlankOn. Meskipun beberapa kali gagal instalasi, namun akhirnya laptop yang biasa-biasa ini dapat bekerja di luar kebiasaannya.

Bagikan:

Saturday, 1 October 2016

Sajak Jalanan dari Opensuse.Asia Summit

Semisal langit, kitalah hujan yang datang tanpa gerimis
Semisal hujan, kitalah yang menggenang sebelum jadi gelombang
Semisal gelombag, kitalah pasukan yang menggulung kesempatan
Semisal kesempatan, kitalah yang diam-diam menyergap udara
Menahannya
Menjedanya
Dan akhirnya,
Mereka menyadari
Kita memang ada di sini


*untuk dunia open source yang sesekali masih sunyi
Bagikan:

Wednesday, 14 September 2016

Setelah Install Elementary OS LOKI

[Sebelumnya aku peringatkan, bahwa ini tidaklah begitu penting]
 
Terima kasih, Freya.
Selasa, 13 September (kemarin) akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Freya. Tidak, tidak. Aku tidak ada masalah apa-apa. Kau tahu, bekerja dengan Freya adalah salah satu pengalaman yang paling menyenangkan menurutku, setelah Mint tentunya. Tidak dapat aku pungkiri, aku cukup puas dengan kinerjanya. Secara subjektif, bila diminta memberikan penilaian, maka aku akan mengatakan bahwa Freya termasuk yang paling lincah dan gesit dalam bekerja. Sayangnya, seiring dengan EOL-nya ubuntu yang menjadi basic-nya, maka berhenti pula dukungan untuk Freya, dan itulah yang membuatku menjadikan Freya sebuah kenangan. Dengan megakhiri hubungan dengannya.
Sebenarnya, selain dengan Freya, aku juga sedang menjalin hubungan dengan Rosa. Dan entah mengapa, untuk Rosa aku masih enggan untuk menjadikannya kenangan pula sebagaimana yang aku lakukan pada Freya. Sekalipun Sarah telah muncul beberapa bulan lalu dan hampir-hampir membuatku kepincut.
Mengakhiri hubungan dengan Freya, berarti memulai pengalaman baru dengan saudara kandungnya, Loki. Ah, memang namanya “ke-cowok-cowok-an”, tapi dia tak kalah cantik bila dibandingkan dengan Freya.
Terus terang saja, sebenarnya sudah cukup lama aku menunggu Loki. Desas-desus tentang keindahannnya memang benar adanya. Hanya saja, ada beberapa hal yang sedikit membuatku belum merasa nyaman, senyaman aku dengan Freya atau dengan Rosa misalnya.
Secara bawaan, Loki memang tak jauh beda dengan Freya. Dari segi kemampuan pun juga hampir mirip. Hanya saja Loki dibekali oleh empunya sebuah alat bernama AppCenter dan aku pribadi agak bingung juga fungsi dari perkakas yang dibawanya itu. Awalnya, aku pikir dengan AppCenter tersebut aku akan dapat memasang hal-hal lain dengan mudah seperti misalnya ketika aku memakai Synaptic. Tapi ternyata bukan. Itu hanya semacam alat untuk memanajemen perangkat yang sudah terpasang.
Hal lain yang membuatku agak kurang nyaman adalah tersunatnya alat apt-add-repository. Ya, pada Loki rupa-rupanya oleh empunya tool tersebut tidak dibekalkan dari awal karena faktor keamanan, sehingga harus dipasangkan secara menual dengan aji-aji


$ sudo apt-get install software-properties-common


diakui atau tidak, Loki memang tidak selengkap keluarga Mint dalam hal aplikasi bawaan sehingga siapa saja yang ingin bekerja dengan Loki harus sejenak meluangkan waktu untuk mendandaninya dengan LibreOffice, Tweak, Gdebi, Synaptic, Inkscape dan alat-alat lain sesuai kebutuhan. Aku pribadi telah memasang banyak aksesori pada Loki, tak lain hanya karena tuntutan pekerjaan.
Ah, iya satu hal lagi yang sepertinya perlu aku ceritakan padamu soal Loki adalah performanya ketika menjalankan pantheon-files. Entah hanya terjadi pada Asus X4452E AMD E1-ku atau juga pada yang perangkat yang lain, yang jelas Loki selalu ngambek sejenak saat aku minta untuk menjalankan pantheon-files tersebut. Awalnya kupikir karena “efek desktop” yang ia pakai, tapi nyatanya tidak mengalami perbedaan yang signifikan setelah aku matikan efek tersebut. Iya, ada sih perbedaan tapi sekali lagi tidak signifikan.
Namun, ya sudahlah semoga saja ini memang terjadi pada awal-awal hubungan belaka dan akan segera melebur seiring berjalannya waktu.
Bagikan:

Wednesday, 10 August 2016

Merdeka dengan Karya

Tepat sepekan lagi Indonesia akan diperingati hari kemerdekaan ke-71 RI. Belum ada yang dapat kuberikan pada tanah tempat kuberpijak ini. Saya jadi teringat pada ucapan Cak Nun pada acara Mengenang Rendra tahun lalu, saya agak lupa redaksi persis kalimatnya. Kira-kira seperti ini, 
"Diri kita bukanlah bagian dari Indonesia, namun justru Indonesia lah yang menjadi bagian dari diri kita. Bila kita menganggap bahwa diri kita adalah bagian dari Indoenesia, maka yang ada hanyala tuntutan yang kita lontarkan. Sebaliknya, jika mengakui bahwa Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dari diri kita, maka kita akan dengan ikhlas memberikan apapun untuk Indonesia. . ."
Di tahun 2016 ini, untuk kali pertamanya saya mencoba membuat banner sederhanana menggunakan Inkscape untuk memperingati hari kemerdekaan ke-71 RI. Selamat Ulang Tahun RI-ku!


dibuat dengan Inkscape 0.92pre1 pada Linux Mint 17.3 Rosa
Bagikan:

Saturday, 23 July 2016

Design Kalender 2017 dengan Inkscape

Selamat pagi rekan-rekan sekalian, sedikit curcol di Minggu pagi yang kurang cerah ini, beberapa waktu yang lalu ketika liburan, ibu minta dibuatkan kalender untuk toko kerudungnya. Dengan tanpa banyak alasan, saya pun mengiyakan permintaan beliau. Dan setelah beberapa menit di depan laptop, jadilah penampakan kalender sebagaimana yang terpampang di atas.
Kalender sederhana di atas dibuat menggunakan Inkscape versi 0.92.pre dengan memanfatkan ekstensi kalender yang sudah tersedia. Tinggal masukkan pengaturan dasarnya, misalnya tahun, jumlah bulan dalam satu baris, warna hari, serta awal hari yang ingin digunakan dan klik! jadi deh. Tinggal memoles dengan desain yang rekan-rekan harapkan.
Untuk desain yang saya gunakan di atas, karena saat itu memang cukup mendesak, saya menggunakan latar belakang gambar yang telah saya buat sebelumnya, sisanya tinggal peyesuaian. Untuk huruf pada bulan, saya menggunakan Lucida Caligraphy, sedangkan lainnya menggunakan Bit Stream Charter.
Semoga bermanfaat!
Bagikan:

Friday, 15 July 2016

whoismrrobot.com GUI

Sembari mengisi liburan yang sebagian habis di pesakitan, iseng-iseng membuka kembali sebuah situs yang beberapa waktu lalu sempat mebuat aku tertarik. whoismrrobot.com, ya itulah situs yang aku maksud.
Terakhir membuka situs yang berkaitan dengan serial TV MR. ROBOT ini, aku hanya mendapati mode tampilan Command Line Interface (CLI). Ketika pertama halaman pada web ini termuat, maka yang anda dapati adalah proses booting yang mirip dengan Linux Debian. Namun, aku agak lupa sebenarnya, kapan terakhir aku membuka situs tersebut.
Namun jika hari ini anda sekalian membua situs tersebut, hal yang amat berbeda akan anda dapatkan. Kini whoismrrobot.com telah menggunakan mode GUI untuk tampilab halamannya. Penilaian prbadi, Ini sungguh mengejutkan, karena awalnya saya berpikir ini hanya situs yang tak akan ada kelanjutan perkembangannya. Dan rupanya saya salah besar.
Saat anda membukan web ini maka yang kini anda dapati bukan sekedar tulisan dan layar hitam layaknya mode CLI, namun lingkungan desktop sederhana dengan terminal root yang sudah membuka dan beberapa icon di desktopnya serta jam aktif di sebelah kanan atas. Untuk detail jelasnya, silakan cek saja ke TKP.

Bagikan:

Sunday, 5 June 2016

Sekedar Coretan Lalu: The Linux User

Dan akhirnya, buku ini pun tak rampung. Jadwal kerja dan kuliah yang super menjepit untuk kali ini memang saya kambing hitamkan sebagai penyebabnya. Namun, apa boleh buat? Setelah dipikir-pikir, daripada coretan ini tidak memiliki guna apa-apa jika disimpan di hardisk, lebih baik saya bagikan saja apapun keadaanya.
Ok-lah, ini nggak profesional banget. Tapi, lagi-lagi, apa boleh buat. Toh ini juga bukan buku petunjuk yang memiliki sifat wajib untuk dibaca, bukan pula buku ilmiah yang juga harus komprehensif pembahasannya, sekali lagi: sekedar coretan lama.






Sampul depan dan Belakang dengan Inkscape :-)
Saya pribadi tidak menganjurkan siapa pun untuk membaca tulisan-tulisan dalam buku ini, namun bila memang ada yang berkenan untuk membacanya, maka saya persilakan saja untuk mengunduhnya melalui tautan ini. Dan tentu saja, terima kasih! Semoga bermanfaat
Bagikan:

Sunday, 27 December 2015

Rasa yang Kembali


Beberapa waktu yang lalu, seseorang teman yang baru saya kenal menemui saya di kampus. Ia datang dengan membawa sebuah laptop berwarna hitam yang ia kabarkan rusak. Dalam hal ini saya ingin menyebutnya sedang bermasalah. Ya, bukan rusak. Haha, alasan subjektif sebenarnya, karena di otak saya sebuah perangkat dikatakan rusak jika tidak dapat digunakan sama sekali. Orang Jawa biasanya mengistilahkannya dengan, “mati pletes!”.

Kehadiran laptop yang sedang bermasalah tersebut sedikit banyak melengkapi perumpamaan yang sempat terngiang di kepala saya, “Pucuk dicinta, ulam pun tiba”. Mengapa? Karena sehari sebelum teman saya itu datang, saya telah mengunduh distro favorit yang selalu menjadi favorit saya dan baru saja dirilis, apa lagi kalau bukan Linux Mint 17.3 Rosa.

Maka, setelah memeriksa permasalahan yang terjadi pada laptop teman saya tadi, saya mengindikasikan bahwa sistem operasi yang terpasang telah mengalami corrupt file system. Sok tahu? Ya, saya memang sok tahu. Apa salahnya? Toh yang terjadi memang demikian. 
 
“Bagaimana Ram, bisa?” tanya teman saya dengan wajah mulai cemas.
 
“Kamu butuhnya kapan?”
 
“Nanti sore, Ram. Aku harus presentasi tugas nanti, dan file-nya ada di situ”.
Aku tangkap wajahnya makin cemas. Dari kecemasannya itu, aku mengira bahwa file ada di laptop ini memang cukup penting dan harus segera diselamatkan.
 
“Ok, gini aja. Ini file-nya bisa aku ambi. Namun untuk memperbaiki laptop ini seperti semula, aku sedikit butuh waktu. Karena kalau mau install Windows yang ori harus nunggu bapak yang di DSDI datang”.
 
“Harus yang dari DSDI ya, Ram?”
 
“Setidaknya, kalau mau yang legal. . . maka jawabnya, iya!”
 
“Nggak ada alternatif lain yang lebih cepet?”
 
“Ada sih, tapi aku nggak yakin kamu setuju?”
 
“Apa?”
 
“Pakai Linux, seperti laptopku.” 
 
Ah, iya . . . panggil saja temanku dengan sebutan Putri (bukan nama sebenarnya, karena dia malu kalo namanya ditulis). Putri pun sejenak memperhatikan laptopku dan beberapa kali melakukan aktivitas kecil seperti membuka web browser, smplayer, writer, dan beberapa hal lainnya.
 
“Ini Linux . . . ,” belum sempat aku menjawabnya, ia menyambung ujarannya, “bagus kok, emang kenapa kalau Linux?” aku sempat tersentak dengan responnya tersebut. 
 
“Ya. . . , barangkali saja kamu nggak suka atau gimana gitu.”
 
“Nggak beda jauh sama Windows kan?”
 
“Sebenernya nggak sih.”
 
“Ok, pasang itu aja deh. Yang penting bisa dipakai, ntar kalo nggak bia aku kontak kamu ya!”
 
“Sip!”
 
Alhasil, aku pun memasang Rosa yang kemarin aku unduh ke laptop hitam tersebut. Secera tidak langsung sebenarnya aku juga ingin mereview performa Rosa pada laptop celeron dengan RAM 1 GB, dan frekuensi 1,4 GHz itu.
 
Sesekali aku perlihatkan tampilan awal Rosa pada Putri saat berjalan pada mode Live USB. Ia menggut-manggut melihat apa yang terjadi pada laptopnya. Dan spontan, wajahnya terlihat ceria ketika kutunjukkan file presentasinya dalam keadaan sehat wal afiyat dan siap ditampilkan nanti sore.
 
“Ram, misalnya nih . . . Tampilannya kamu ganti kaya Windows, bisa? Kalau nggak ngrepotin sih.”
 
Aku hanya mengangguk. Meskipun aku belum pernah mengubah tampilan Linux ke tampilan Windows, karena alasan selera dan apa ya . . . kupikir bahwa Linux punya sejuta tampilan yang lebih menarik, lagi pula tampilan Windows bukanlah standar untuk tampilan desktop, menurutku. Pun demikian, karena ini permintaan, aku cukup bermodal yakin dapat melakukan apa yang ia minta, itu saja.
 
Singkat cerita, penginstalan selesai dan berjalan dengan lancar. Rosa yang kupasang tersebut menggunakan Cinnamon sebagai default desktop-nya. Sementara aku jalankan dan aku cek, alhamdulillah lancar. Beberapa update telah aku lakukan dengan bantuan UGM-Hotspot. Selain update, aku juga menambahkan beberapa aplikasi khusus, semisal WPS untuk menggantikan Libreoffice, smplayer dan audacious untuk pemutar medianya, XDM untuk download manager yang aku integrasikan dengan firefox, Wine untuk sekedar berjaga-jaga kalau dia membutuhkan dan sentuhan terakhir adalah mengubah wajah default Rosa ke wajah Windows 10.
 
Ah iya, aku sengaja mengganti Libreoffice dengan WPS karena aku pikir si Putri akan lebih familiar dengan interface WPS yang mendekati MSOffice dibandingkan Libreoffice. 
 
Sekali lagi, semua telah berjalan dengan lancar. Dan untuk tampilan Windows aku dapatkan dari gnoome-look.org. Lebih detailnya, melalui tautan http://gnome-look.org/content/show.php/Windows+10+Transformation+Pack?content=171327.
 
Sekitar satu jam setengah, semua sudah beres, aku pun menunjukkan hal-hal dasar padanya. Tentang password root, pengelola berkas, pengelola paket, serta cara shutdown tentunya, hehe.
 
Senyum pun mengembang dengan manisnya dari kedua belah bibir Putri. Ah, hampir lupa kuceritaan, sebelum ia pergi aku memasang pada laptopnya aplikasi teamviewer agar dapat me-remote deksktop-nya jika sewaktu-waktu diperlukan.
 
Saat browsing tentang tampilan Windows 10 untuk Linux, aku menemukan sebuah artikel yang menarik berbahasa Inggris tentang tweak desktop cinnamon. Sepertinya, aku harus kembali keduniaku. Ya, berbagi dan belajar open source, setelah beberapa bulan vacum lantaran pentas yang jadwalnya beruntun nan bertubi.
 
Ketika melihat begitu nyamannya laptop Putri berjalan dengan Rosa, tiba-tiba aku jadi ingin memasangnya di laptopku. Haha, iya, laptopku saat ini masih berjalan dengan Freya dan Rafaela. Pada mulanya, aku menggunakan Rafaela saja. Namun karena sering dioprek, Rafaela jadi agak berat dan aku menemukan Freya yang ternyata jauh lebih ringan. Didorong kebutuhan untuk segera menyelesaikan tugas kuliah yang mulai menumpuk, akhirnya aku pasanglah Freya bersandingan dengan Rafaela. Kau tahu, mungkin itulah yang selayaknya kusebut sebagai cinta. Meski aku tahu bahwa Rafaela tak sesempurna dulu, dan aku telah menemukan yang lebih baik (lebih ringan dan responsif), hatiku tetap tak mampu berpaling dari keluarga Mint. Dan sekarang, perasaan itu tumbuh lagi. Apakah aku harus memungkasi tahun ini dengan kembali ke pelukan linuxmint?
Bagikan:

Friday, 30 October 2015

Puisi di Wily Release Party 2015

Seseorang yang "lupa" aku tanyakan namanya memintaku untuk memosting puisi yang aku bawakan dalam Pesta Rilis Ubuntu di Fakultas Teknik siang-sore tadi. Jujur saja aku akui, bahwa jika dikoreksi dari sudut pandang sastra, puisi yang aku bawakan bukanlah termasuk puisi yang bagus karena ada beberapa unsur puisi yang "sengaja" aku abaikan. Hal itu aku lakukan bukan tanpa sebab, setidaknya aku hanya ingin menyesuaikan dengan hadirin yang mendengarkan,. Tentu saja aku dapat mengatakan bahwa hadirin yang ada di tempat tersebut belum tentu paham ihwal sastra, maka dari itu goal yang aku harap dari puisi yang aku buat lebih condong ke pehaman dan pesan yang ingin aku sampaikan, dan semoga berhasil.

By the way, thanks banget buat arek-arek panitia dari Fakultas Teknik yang telah memberikan aku kesempatan buat membawakan puisiku, thanks juga buat Mas Dedy dkk, keren dah pokoknya!

Oh, iya ini puisi yang aku bawakan tadi. Semoga bermanfaat!

Sebuah Pertemuan Penguin Garuda

telah terbit matahari pagi ini
untuk jadi saksi kita berkumpul di sini
tak lain sekedar menyatukan visi hati
berharap sebuah kesepakatan akan lahir

mengapa niat baik jarang terlihat
mengapa niat baik selalu jadi barang teracuhkan
mereka sebut kita bagian dari hacker (sedikit penjelasan)
dimana salahnya?

bukankah kita berdiri dengan kaki yang kita miliki
kita ambil bagian soal perkembangan teknologi
kita coba tak sekedar jadi pengikut ketidakpastian
kitalah simbol dari kebhinekaan yang telah lama terkonsep

berbagi bagian dari kehidupan
pengetahuan tak ubahnya bom waktu yang harus segera dilempar
bagai makanan jutaan orang lapar
tak mau berbagi adalah tanda kematian hidup

kita bukan pengemis bukan peminta-minta
bukan saatnya bergantung pada yang duduk di kursi
untuk apa sebuah harapan
bila akhirnya dikecewakan

maka kawinkanlah kegagahan garuda dengan kedermawanan penguin
sudah tiba masa kita bungkam segala suara
yang tak pernah lelah pandang sebelah mata cita-cita kita
apa yang salah dari keinginan merdeka?

tapi kenapa mereka asingkan kita
kita bukan pejabat yang naik pangkat jadi koruptor
kita bukan teroris yang rajin membenihkan teror
kita hanya ingin berbagi mengapa sulit sekali

matahari masih saksikan pertemuan kita
saudaraku, kita berjuang tanpa mengenal nama
kita membantu tanpa pandang sara
tak ada pamrih diantara kita, dan semoga itu berlaku selamanya

sekarang tiba saatnya sebuah pertanyaan
apa penguin yang kita piara, akan terbiarkan mendekam
atau kita terbangkan dengan sayap garuda raya?
itu sebuah pilihan


Yogyakarta 2015
Rania el-Amina
Puisi ini terinspirasi dari Sajak Pertemuan Mahasiswa karya Si Burung Merak
Bagikan:

Wednesday, 23 September 2015

Ketika Rafaela Cemburu Pada Freya


Pada kumandang takbir Idul Adha semalam, aku akhirnya memutuskan untuk menduakan Rafaela. Ya, setelah cukup lama berpikir dan menimbang ini itu, aku pun mempersiapkan mental untuk membagi hati (baca: partisi) untuk menginstall Freya. 

Mengapa Freya dan bukan yang lain? Cukup panjang sih ceritanya, namun tak apalah sambil berbagi cerita dengan rekan-rekan pengguna Linux yang lain.

Jadi gini, aku pribadi adalah pengguna lama Linux Mint. Setidaknya aku sudah mengenal Mint sejak Julia dilahirkan (rilis). Julia adalah pendamping hidup (distro) yang mendampingiku selama beberapa waktu. Dari Julia inilah aku mendapatkan banyak pengalaman berharga, termasuk juga pengalaman remastering distro.

Aku memang sering bergonta-ganti distro awalnya, namun entah mengapa hatiku mengatakan bahwa Julia dan saudara-saudaranya, Katya, Lisa, Maya, Nadia hingga Rafaela adalah pendamping hidupku yang terbaik. Selain karena kecantikan dan ketidak-rewelannya, dukungan komunitas yang ada juga cukup membantuku untuk bertahan dan nggak pernah move on dari Mint.

Namun belakangan ini aku merasa Rafaela agak kurang vit. Aku sebenarnya maklum, karena aku adalah pacar yang selalu memforsir kehidupannya. Bagaimana tidak, aku memaksa Rafaela untuk menuruti semua nafsu dan egoku, dan ia tak pernah menolak keinginanku itu. Ah, tidak. . .  Ia pernah sekali menolak saat aku ingin mendandaninya dengan Pantheon. Ia bilang, “Baju itu tak cocok buatku, Ram. Maaf. . .”. Aku pun tak bisa berbuat apa-apa, karena kenyataannya Rafaela malah sakit (crash) ketika aku paksakan berdandan dengan Pantheon.

Rafaela-ku memiliki banyak fitur tambahan. Ia adalah pacar yang hebat dan tangguh. Bagaimana tidak, ia memiliki berbagai macam jenis desktop. Mulai dari Cinnamon (aslinya), Mate, Xfce, KDE, LXDE, Openbox, Fluxbox, dan Enlightenment. Selain itu, aku juga sering bermain-main dengan terminalnya, mengaktifkan fungsi-fungsi efeknya, hingga coba-coba bermain dengan metasplot, nmap, wireshark dkk, yah. . .meskipun hanya sekedar coba-coba, tapi aku harus mengakui bahwa Rafaela adalah pasangan paling pengertian yang pernah kumiliki.

Ah iya, beberapa waktu yang lalu, karena aku terobsesi dengan film Bloody Monday, aku pun akhirnya mendandani Rafaela sehingga mirip dengan komputer si Falcon. Sekali lagi thanks, ya Rafaela kamu udah mau ngertiin kemauanku.

Namun, di sisi lain, aku merasa Rafaela tak segesit dulu saat pertama kali kami berjumpa. Semua ini memang salahku, namun aku juga tak bisa terus-terusan menyalahkan keadaan dan diriku. Apalagi sekarang tugas mulai banyak. Sempat terbesit dalam pikiranku untuk mengulangi semua hubungan ini dari awal, namun aku takut. Aku takut Rafaela tak setuju. Aku takut kalau dia beranggapan cintaku padanya mulai luntur, padahal tidak. Aku masih menyayanginya.

Diam-diam aku melakukan uji coba beberapa distro. Mulai dari Ubuntu, Kali, Fedora, OpenSuse, hingga akhirnya EOS Freya. Entah mengapa tiba-tiba hatiku tertaut begitu saja saat menjalankan Freya melalui USB. Ia begitu memesona, pikirku. Setelah cukup lama aku berkenalan dan jalan-jalan (mencoba fitur-fitur bawaannya), kuberanikan diri untuk bilang pada Rafaela, “Ela, aku ingin mencarikanmu teman. Kenalkan, namanya Freya. Ia yang akan membantumu mendampingi hidupku”.

Airmata Rafaella menetes perlahan. Ia hanya terdiam, dan aku kikuk dengan segala yang terjadi ini. Maafkan aku Rafaela, aku tak ingin terus-terusan menyakitimu, aku tak ingin terus-terusan memaksamu untuk menuruti egoku. Percayalah, aku akan senantiasa bersamamu.

Usai instalasi, aku nyalakan ulang komputer. Dan ternyata Rafaela benar-benar ngambek, merajuk plus cemburu. Dia tidak mau meload GRUB milik Freya. Akhirnya aku bicara padanya secara baik-baik melalui terminal. Melalui terminal tersebut, aku katakan padanya, “sudo update-grub” dan dia memintaku untuk membisikkan password root dan akhirnya ikhlas juga Rafaela meload GRUB Freya. Thanks Rafaela. I love you!

Kau tahu, Freya memang cantik. Namun, dia agak sedikit manja. Ia tak seperti Rafaela yang sekali install langsung dapat digunakan kerja secara normal. Usai jadian dengan Freya aku harus membayar sekian ratus MB untuk membuatnya dapat bekerja maksimal.

Beberapa hal yang aku lakukan pasca jadia dengan Freya adalah menghidangkakan browser lain padanya, menambahkan codec, SMPlayer, synaptic (karena aku nyaman kalo pakai synaptic), WPS, XDM, Gedit, men-tweak beberapa fiturnya dan tak lupa menyapa terminalanya dengan sapaan, “sudo apt-get dist-upgrade”.

Tapi tak apalah. Toh sekarang aku sudah punya jadwal khusus dalam berkencan. Untuk urusan tugas-tugas kuliah aku serahkan pada Freya, karena dia masih gesit. Kalau untuk keseharian, dan belajar lain-lain aku tetap akan menggenggap jemari kekasih terbaikku, Rafaela.
Bagikan:

Sunday, 6 September 2015

FASE-FASE YANG DIALAMI PENGGUNA LINUX

Sebagaimana yang pernah aku katakan sebelumnya dalam beberapa postingan di blog ini, memilih distro linux untuk dijadikan teman di komputer atau laptop itu gampang-gampang susah. Aku lebih senang menyamakannya dengan proses pencarian pasangan untuk hidup. Ok, mungkin itu terlalu berlebihan, namun bukankah itu adalah hal yang menarik juga untak kita pahami?

Jika aku boleh menggolongkan, ada dua faktor yang biasanya menjadi pertimbangan seseorang dalam memilih distro. Faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan distro itu sendiri. Misalnya kemudahannya, kompatibilitasnya dengan hardware, tampilan antarmukanya, dan lain-lain

Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang tidak secara langsung berkaitan dengan distro. Misalnya, dukungan komunitas, selera pengguna dan lain-lain.

Pada tulisan kali ini, aku ingin mencoba untuk menggambarkan beberapa proses yang menurutku akan dialami oleh sebagian besar pengguna linux. Baik pengguna baru maupun pengguna lama. 

Fase-fase yang aku maksud adalah sebagai berikut:

1.Fase Galau dan Move On

Ini adalah fase awal yang dialami oleh pengguna linux. Yaitu ketika ia merasa mulai tidak nyaman dengan OS lamanya dan ingin sebuah perubahan. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi dalam tahap ini, perselingkuhan atau perpisahan

Perselingkuhan akan terjadi bila si pengguna ini menginginkan OS lain untuk mendampingi hidupnya, namun ia belum mau untuk melepaskan “Yang Lama”, karena banyak kenangan yang memang belum mau ditinggalkan. 

Sedangkan perpisahan akan terjadi bila si pengguna ini mau dengan lapang hati melepas “Yang Lama” dan menjalani kehidupan baru dengan linux. Hal ini akan sangat mudah terjadi bila dilatarbelakangi oleh kekecewaan yang mendalam dengan pasangan lama dan ada tekad untuk benar-benar meninggalkannya serta mencari pasangan lain.

2.Fase Pencarian

Fase pencarian memang membingungkan bagi sebagian orang. Banyaknya pilihan terkadang adalah sebuah kendala yang harus disikapi dengan cukup baik. 

Ada banyak kemungkinan yang terjadi dalam fase ini. Beberapa di antaranya adalah proses coba-coba dan proses kepo.

Proses coba-coba biasanya terjadi jika si pengguna ini memilih distro pilihannya tanpa dasar apa pun alias asal pilih. Nilai postifnya dari proses coba-coba ini adalah munculnya kemampuan untuk me-review dan membandingkan secara tidak sadar. Karena berawal dari coba-coba tentunya si pengguna ini tak terlalu berpikiran akan melangkah kemana nanti kalo sudah jadian atau yang lain. Bagi mereka yang menggunakan proses ini, biasanya akan lebih membuka diri dengan kemungkinan-kemungkinan baru yang muncul suatu hari. Sedang sisi negatifnya adalah waktu yang diperlukan cukup lama untuk mencari distro yang pas, pun demikian ada kemungkinan juga justru malah lebih cepat, bila sekali coba langsung suka.

Sedangkan proses kepo adalah proses yang dijalani oleh pengguna dengan membaca terlebih dahulu beberapa review yang ada mengenai distro yang akan dipakainya. Jadi pengguna dengan proses ini biasanya berharap, “Semoga kamu yang pertama dan terakhir”. Plusnya adalah bertambahnya kemampuan dan pengetahuan yang didapat dari review yang dibaca, sedang minusnya adalah mungkin perlu waktu lama untuk mencari yang pas, tapi nggak terlalu masalah sih.

3.Fase PDKT

Jika sudah menemukan distro yang pas, tentu saja setelah mencoba melalui live USB atau yang lain, maka pengguna akan memasuki fase PDKT.

Pada fase ini, si pengguna akan mulai belajar dan menyesuaikan diri dengan distro pilihannya. Tak jarang, pada fase PDKT si pengguna menuliskan “status-status” mesra di akun medsosnya untuk memperkenalkan pilhannya kepada rekan-rekan yang lain.

4.Fase Saling Memahami

Usai fase PDKT dan setelah benar-benar merasa cocok dengan pilihannya, tentunya si pengguna akan memasang secara permanen distro pilhannya tersebut ke hardisk. Ya, ada kemungkinan ia merasa tak ingin pertemuannya hanya terjadi lewat USB belaka, jadi karena sudah teriul-kiul, si pengguna ingin frekuensi pertemuannya ditambah dengan cara memasangnya di laptop.

Fase saling memahami memang sulit, karena sesekali pasangan yang dipilih oleh pengguna terkadang belum mampu memenuhi keinginannya secara maksimal. Pun demikian, si pengguna akan berusaha untuk membantu pilihannya tersebut agar mampu melakukannya suatu hari nanti.

Pada fase ini pula, si pengguna akan muali belajar bagaimana mendandani desktopnya agar terlihat cantik, memodif pilihannya agar lebih cepat dan lalin-lain

5.Fase Pasca-Jadian

Baik hubungan manusia dengan manusia atau manusia dengan distro linux sebagaimana yang aku bahas saat ini, tak akan berwarna bila “begitu-begitu” saja, alias tak punya masalah. Dan ini terjadi biasanya pasca jadian atau instalasi.

A.Konflik

Konflik adalah hal wajar dan dapat terjadi kapan saja. Sejatinya, bila si pengguna mau menyadarinya, koflik yang ia dapat sebenarnya adalah sebuah pengalaman dan pengetahuan baru yang amat berharga. Dengan kata lain, tanpa konflik, si pengguna hanya akan tahu itu-itu saja dan tidak berkembang pengetahuannya.

Untuk mengatasi konflik ini, si pengguna bisa saja berusaha untuk mengobatinya menggunakan resep dari Dr. Duckduckgo atau Dr. Google serta bisa minta tolong pada rekan-rekan dokter di forum yang banyak beredar di dunia (mbak) maya.

B.Penyelesaian

Menyelesaikan konflik berarti mengisyaratkan bahwa satu set pengetahuan baru telah didapatkan oleh pengguna baru. Namun ada kemungkinan juga penyelesaian konflik ini tidak membuahkan apa-apa. Bagaiman bisa? Tentu, peluang tersebut mungkin terjadi bila si pengguna menuntaskan konflik dengan cara meninggalkan pilihannya dan beralih ke distro lain yang ia anggap lebih mampu memahami kebutuhan dan dirinya.

6.Fase Menjalin kesetiaan atau Move On ke 2

Setelah mengalami konflik, ada dua kemungkina yang akan terjadi, yaitu tetap setia atau move on ke distro lain.

Proses menjalin kesetiaan itu berarti kita mencoba untuk menerima distro kita apa adaya sambil berusaha memaksimalkan kemampuan yang dimilikinya serta menutupi segala kekurangannya dengan berbagai metode alternatif yang ada. Tentu saja ini adalah pilhan yang cukup baik. Setidaknya, si pengguna akan menjadi lebih matang dalam memahami distro yang menjadi teman hidupnya itu. Dan jika lebih ditekuni lagi, ia akan menjadi spesialis distro.

Namun, yang namanya hati memang tidak bisa dipaksa dengan mudah. Jadi, perpisahan dengan distro adalah hal yang mungkin terjadi. Bahkan kalimat, “Oh si Fedora, iya itu mantan aku dua tahun lalu. . . ” juga hal yang mungkin-mungkin saja terjadi. Bagi pengguna yang benar-benar merasa tak lagi nyaman dengan pilhannya, biasanya akan mencari pasangan lain, tak jarang pulang ada yang terbayang-bayang dengan kenangan bersama OS masa lalunya.

7.Fase Kamulah Pilihanku

Ini adalah fase yang dapat dicapai oleh pengguna yang benar-benar sanggup untuk bertahan dengan distro pilihannya. Biasanya pada fase ini, si pengguna sudah tak terlalu tertarik dengan distro atau OS lain. Ia sudah merasa puas sekali dengan pilhannya, mereka akan berpikir bahwa kamu (distro) adalah segalanya, i love u!

8.Fase Berbagi

Setelah cukup lama bersama, tentunya akan banyak kenangan dan pengalaman yang didapatkan oleh si pengguna. Nah pengalaman ini biasanya akan menjadi modal utama untuk si pengguna mengajak orang lain untuk menggunakan linux, menulis review, membuat dokumentasi, dan lain-lain. Tentang bagaimana atau langkah apa yang digunakan bisa beragam dan berbeda-beda sesuai kemampuan dan gaya yang dimiliknya. Intinya mereka-mereka pengguna linux tentunya akan merasa sangat bahagia bila ada orang lain juga yang dapat merasakan kebahagiaan yang saat ini ia dapat dari linux.


9.Fase Produktif

Fase ini memang tak terlalu banyak dilewati oleh beberapa pengguna. Kebanyakn dari mereka merasa cukup puas sampai pada fase ke delapan. Namun, tak sedikit pula yang mau mencoba hingga ke fase ini, yaitu fase di mana si pengguna mulai berkarya tentang linux atau FOSS dalam bidang yang ia sukai.

Ada yang produktif mengembangkan perangkat lunak, produktif melakukan dokumentasi, mendesain, ada yang yang produktif meng-upload tampilan desktop agar dapat menginspirasi orang lain dan masih banyak lagi. 

Kira-kira itulah fase-fase yang dialami oleh sebagian besar pengguna linux. Pada intinya, dapat kita pahami bahwa belajar linux itu tidak serta merta langsung mahir dan bisa. Secara alamiah ada proses-proses yang memang dan mungkin harus dilewati oleh penguna linux, baik lama maupun baru, maka nikmatilah proses itu. Perlu digarisbawahi, fase-fase yang aku sebutkan tadi bisa jadi tidak terjadi secara berurutan alias loncat fase, dan itu mungkin terjadi karena linux berada di wilayah perangkat lunak bebas. Dan bisa jadi kebebasan itu berimbas pada banyak hal dan kemungkinan-kemungkinan lain. Tulisan ini? Haha, mungkin juga ini produk based on linux, karena idenya juga berasal dari linux. Hehe. . . 
Bagikan:

Sunday, 30 August 2015

Melihat Karakter Pengguna Linux dari Caranya Bertanya di Forum

Sudah cukup lama aku bergabung dengan beberapa komunitas online yang aktif berdiskusi seputar Free Open Source Software, khususnya linux. Bahkan di tahun 2009 silam, aku juga sempat mendirikan sebuah forum sendiri untuk mengumpulkan para pengguna linux dan saling berbagi satu sama lain. Sayangnya forum yang aku dirikan tersebut harus terbengkalai saat aku tinggal menimba ilmu di pesantren selama 4 tahun. Dan ironisnya, forum itu sekarang dipegang oleh orang yang kurang aktif dan tidak pernah memberi respon apa pun pada membernya, lebih parahnya aku di kick dari jabatan admin di forum yang aku buat sendiri. Kampret!
Tapi, okelah. . .  Sekarang itu tak lagi penting. Toh aku masih bisa bergabung dengan forum-forum atau komunitas linux online yang lain. Anggap saja apa yang pernah terjadi itu adalah oase semu di gurun pasir. :-)
Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa di forum online linux itu terdiri dari ratusan bahkan ribuan member yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari pulau We sampai Pulau Rote, nah di sinilah konsep ajaib Indonesia yang berbunyi Bhineka Tunggal Ika berlaku dan berjalan dengan baik. Walaupun para member berasal dari suku yang berbeda, agama yang berbeda, ras yang berbeda, pengguna distro yang berbeda tapi tetap satu jua kernelnya yaitu linux, tetap satu jua tujuannya tak lain hanyalah untuk belajar dan sharing ilmu pengetahuan. Setidaknya, dengan adanya forum seperti ini timbullah rasa saling menghargai, empati, simpati, senasib dan sepenanggungan yang dulu dirasakan oleh para pejuang kemerdekaan. (Ok, yang terakhir ini mulai agak alay)
Dari sekian banyak member itu, rupanya ada hal-hal menarik yang aku temukan berkaitan dengan karakter khas mereka saat bertanya. Ya, meski mengelompokkan beragam karakter menjadi beberapa kelompok adalah hal yang selalu dapat dipertanyakan kebenarannya, namun anggap saja ini sebagai hiburan kecil yang tak perlu diamini keabsahannya. Secara garis besar, aku mendapati 11 golongan ini di forum-forum linux;
1.Golongan Aktivis
Penganut golongan ini adalah mereka-mereka yang memiliki koneksi 24 jam. Mereka bisa online sesuka hati dan membantu member lain dengan cukup cekatan. Namun saat ini, golongan ini terpecah menjadi dua kubu. 
Pertama, Aktivis fanatik. Yaitu para aktivis yang sering mengunggul-unggulkan distro yang dipakai dan cenderung memaksa orang lain untuk mengikuti apa yang dia lakukan dengan memberikan opini-opini buruk terhadap distro lain. Kubu yang satu ini agak sensi dengan pengguna windows.
Kedua, Aktivis moderat. Yaitu para aktivis yang senantiasa memberikan referansi-referensi bagi member yang kebingungan. Kubu ini tidak begitu peduli dengan distro apa yang sedang kamu pakai, yang penting sama-sama legal dan tentunya berkenel linux.
2.Golongan Apatis Pengamat
Setelah aku pikir-pikir tidak ada kok golongan apatis di komunitas linux. Setidaknya dengan mereka join di forum linux, itu sudah menunjukkan kepedulian mereka terhadap pentingnya software legal.
Pun demikian yang membuat golongan ini berbeda dari yang lain adalah kecenderungan mereka yang lebih sering berdiam diri tanpa memberi komentar atau pun tanggapan sama sekali terhadap postingan pertanyaan yang sedang berlangsung.
Golongan pengamat ini tidak semuanya masuk ke forum atas keinginannya, beberapa juga ada yang “diculik” temannya yang menggunakan linux. Alhasil tak jarang golongan ini hanya menjadi member hitung saja, alias member pasif yang datang tidak menggenapkan pulang tidak mengganjilkan.
3.Golongan Oportunis
Ini adalah golongan yang mampu melihat peluang di forum linux. Golongan ini biasanya didominasi oleh pemilik atau admin web atau situs tertentu. Selain berbagi pengetahuan, golongan oportunis juga mengamalkan peribahasa, “Sambil menyelam, minum air”. Sambil sharing sambil promo link-link tertentu. 
Golongan oportunis ini biasanya memiliki banyak referensi web ataupun tulisan yang lain. Jadi, sama-sama untung sih, baik itu member yang bertanya maupun yang sekedar membaca.
4.Golongan Bijak
Golongan ini rata-rata diisi oleh para pengguna linux yang sudah punya jati diri yang jelas serta menanggalkan kefanatikannya. Ciri-ciri golongan ini adalah selalu mendamaikan member yang sedang “cek-cok” tantang perbandingan windows dg linux atau distro satu dengan distro yang lain.
Keilmuan golongan ini juga tidak kalah dengan member lain, dan tak jarang member-member seperti ini adalah admin di forum itu sendiri. Semboyang mereka adalah, “Mengatasi masalah tanpa masalah”. (Mirip pegadaian? Iya, aku sengaja, kok)
5.Golongan Intelejen
Golongan ini mirip dengan golongan bijak. Hal yang membedakan adalah golongan ini sering menyamar menjadi pengguna baru/newbie untuk mengetes kesadaran member lain. Namanya saja intelejen, pastilah keilmuan mereka tentang linux juga jos dan cespleng! 
Ciri-ciri member golongan intelejen adalah menyamar sebagai newbi dengan bertanya hal-hal yang mendasar. Tak sedikit lho orang yang terjebak dengan penyamaran golongan ini. Mereka-mereka yang terjebak, biasanya adalah golongan fanatik yang masih dangkal pengetahuannya dan menganggap dirinya superior di forum.
6.Golongan Pemicu Konflik
Ini nih yang bikin forum ramai. Meskipun namanya forum linux, ada juga lho member yang “benci” dengan linux. Ciri-ciri golongan ini adalah kebiasaan mereka membanding-bandingkan OS lain yang akhirnya memicu adu argumen dari para member. Biasanya, orang-orang golongan ini kabur setelah posting, alias nggak peduli dengan postingannya di forum.
7.Golongan Easy Reading
Ini hampir mirip dengan Golongan Pengamat, namun Golongan Easy Reading ini nggak seacuh golongan pengamat kok. Mereka masih mau memberikan like, dan sesekali berkomentar, meskipun itu jarang sekali.
8.Golongan Skeptis
Golongan ini mudah diidentifikasi dengan ciri khasnya menggunakan kata, “. . . Maaf masih newbie”, “. . . Aku pemula bgt” dan sejenisnya. Padahal kalau ditelusuri lebih lanjut, semua orang yang ada di forum linux itu kan sama-sama pemula yang sedang belajar. Yang membedakan hanyalah ketekunan dan tekad masing-masing. Soal skill bisa diasah, kok. Jadi buat member-member golongan ini, tetap semangat yah!
9.Golongan Angin RIbut
Ini adalah golongan yaig aku sendiri kurang begitu suka. Ciri khas mereka adalah posting problem di pelbagai forum linux dengan permasalahan yang sama. Mereka yang masuk golongan ini biasanya nggak sabaran untuk mendapatkan jawaban dari persoalan yang sedang dihadapinya. Nah, pas problemnya udah solved, pergilah orang-orang golongan ini begitu saja. Dan nggak muncul lagi sampai dia punya problem lagi.
10.Golongan Pelupa
Golongan ini yang sepertinya banyak mendominasi forum-forum mana pun. Golongan pelupa adalah para member yang sering lupa

A.Membuat dokumentasi saat problem sudah terselsaikan (solved)
B. Mengucapkan terima kasih setelah ada orang-orang yang membantunya 
C. Kalau membuat post, jadinya pas sudah banyak memberi balasan eh dianya malah ngilang entah kemana, ntar pas udah samapi ujung komentarnya baru muncul.
D. Dengan kesibukan member lain di dunia nyata, akibatnya ia sering menggumam merasa tidak diperhatikan 
E.Dan lupa lain-lain
11.Golongan Pencari Jatidiri
Golongan pencari jati diri ini mayoritas adalah pengguna yang baru pertama kali menggunakan linux. Ciri khas yang sering nampak adalah pertanyaan berupa, “Distro apa yang pas buat pemula seperti saya?” dan yang sejenis dengan itu.
Golongan ini biasanya juga sering bingung karena belum terbiasa dengan lingkungan linux, baik itu lingkungan kerja distro linux maupun lingkungan komunitas.

Well, 11 golongan ini tidak ada yang hitam dan putih secara mutlak. Mereka pasti punya latar belakang berbeda-beda dan alasan yang berbeda pula. Tak jarang pula satu member dapat dikategorikan dalam dua golongan atau lebih. Oh iya, sekali lagi, tulisan ini bukanlah hal yang patut untuk diamini kebenarannya. Karena kebenaran hanya milik Tuhan YME.


Tulisan ini hanyalah fiksi belaka, kesamaan nama, tokoh, atau karaker memang disengaja, hehehew!
Bagikan:

Saturday, 29 August 2015

Kejadian Aneh Saat Malmingan dengan Rafaela

. . .MAKJLEB! Tiba-tiba cursor laptopku bergerak-gerak sendiri seolah ada yang menggunakan, padahal jarak laptop dan aku menelpon sekitar setengah meter.  . .

Aku baru pulang ke kos sekitar pukul delapan malam. Perjalanan yang aku tempuh dengan menggoes sepeda cukup jauh rupanya. Karena terlalu lelah, aku pun beristirahat sejenak prepair buat sholat isya’.
Sejak siang tadi aku berada di kampus temanku di daerah Condong Catur. Hari ini memang membosankan, karena kampusku belum aktif dan apesnya aku lagi nggak ada kerjaan sama sekali. Setelah “nyicil” proyek penerjemahan user guiede WPS sedikit demi sedikit, aku pun akhirnya memutuskan menghilangkan kejenuhan dengan berkunjung ke UIN, menemui teman-temanku.
Entah kebetulan atau bagaimana, ada seseorang temanku yang rupa-rupanya membutuhkan sedikit bantuan untuk pemberkasan bidik misinya. Alhasil, dengan penuh semangat, aku bantu dia semampuku menggunakan Rafaela yang setia menemaniku.
Sepulang dari UIN, ada kejadian aneh yang terjadi saat aku menyalakan laptopku di kamar kosku. Touchpad-ku bergerak sendiri tanpa kusentuh! Hantu kah? Tunggu dulu. Begini kronologinya.
Saat aku menyalakan Rafaela dan hendak browsing, seorang temanku menelponku. Ia menelpon di nomor IM3 yang aku pasang di HP Nokia jadul made in Tiongkok. Karena dayanya hampir habis, maka aku charge sekalian dan memasanga headset sambil melanjutkan oboran dengan temanku yang menelpon tadi. Dan, MAKJLEB! Tiba-tiba cursor laptopku bergerak-gerak sendiri seolah ada yang menggunakan, padahal jarak laptop dan aku menelpon sekitar setengah meter.
Kerena penasaran, aku reboot Rafaela tersayang, dan ternyata hal itu terjadi lagi saat masuk jendela login. Bahkan aku tak bisa mengendalikan touchpad dengan jemariku. Cursor itu bergerak ke segala arah tanpa aku pahami sebabnya.
Berkali-kali aku mereboot sambil bertanya-tanya, apakah ada yang salah dengan sistemku? Aku buka pengaturan tetikus dan mouse tidak ada yang berubah, lalu apa yang salah? Karena sudah mulai panik, aku pun menutup telpon temanku dan mulai fokus untuk mencari tahu sebabnya. Kautahu apa yang terjadi?
Sekonyong-konyong touchpadku kembali normal dan dapat dikendalikan lagi. Aku kian bingung dan kembali bertanya-tanya ihwal semua ini. Dugaan kuatku saat itu adalah karena gangguan sinyal elektro magnet yang keluar dari HP-ku saat aku menelpon tadi. 
Untuk meyakinkan dugaanku tersebut. Aku mencoba menggunakan HP Nokia-ku itu untuk menelpon kembali dengan keadaan yang masih ter-charge. dan hasilnya, mengejutkan! Cursorku kembali bergerak-gerak sendiri, lalu berhenti saat aku memutus sambungan telepon.
Kejadian ini berlangsung sekitar pukul 11.20 malam. Sempat bikin dag dig dug sih, tapi setelah aku pikir-pikir ada benarnya juga kita tidak dianjurkan menelpon dengan HP yang sedang diisi dayanya. Adakah yang pernah mengalami ini?
Bagikan:

Friday, 14 August 2015

STUPID SOLUTION UNTUK MENCARI PAKET SOFTWARE LINUX DI WARNET


Pas awal-awal  pakai linux, aku baru sadar kalau menginstall linux membutuhkan keahlian tersendiri. Haha percaya? Aku bohong kok!
Nggak, enggak sebagian dari kita yang baru pakai linux dan kebetulan menjadi orang asing di daerah kita lantaran nggak ada yang pakai linux pasti mengalami hal ini.
Case :
Pengen install paket aplikasi untuk komputer di rumah, sayangnya nggak ada koneksi internet atau kalau ada lemot banget. Sehingga kita berinisiatif buat download paket .DEB dari warnet trus install ke komputer di rumah. Yups, itu adalah ide cerdas, namun menjadi kurang cerda ketika kita mengetahui bahwa beberapa peket .DEB membutuhkan beberapa ketergantungan dengan paket DEB lainnya, dan kita perlu mendownload paket-paket itu agar paket utamanya dapat diinstall. Nah lalu, apa kita harus mendownload paket ketergantungan itu satu persatu? Darimana kita tahu kalau paket ini membutuh ketrgantungan sedangkan kompter di warnet tidak menggunakan linux?

Ok, kita memang mungkin bisa mendownload satu persatu paketnya, namun menurut saya itu adalah cara yang amat pintar tapi kurang cerdas. Yups, sebenarnya kita bisa kok dengan mudah mendapatkan paket software yang kita inginkan diwarnet dengan cara mudah. Mau tahu caranya?

Sabar, untuk dapat melakukan stupid solution ini, yang agan perlukan cuma flashdisk dan uang (buat bayar warnet, hihi). Pertama, pastikan di flashdisk agan udah ada linux livie usb dan usahakan versi distronya sama dengan yang di komputer. 
Kedua, silakan cari warnet. . .kalo bisa cari yang komputernya bagus biar nyaman, booting-kan usb agan di komputer warnet. Setelah itu gunakan terminal atau synaptic, untuk mendownload paket. Lakukan saja seperti agan kalau mau menginstall di komputer agan, misalnya “sudo apt-get install wine”.
Nah kalau udah selesai, buka folder /var/cache/apt/archives . . .jreng . . Jreng . . Selamat agan udah dapet apa yg agan inginkan . . .tinggal copy dah . . .

Ini adalah cara yang sering aku pake pas baru pakai linux dii tahun 2009 lalu, sekarang mah internet sudah mudah, jadi bisa download di rumah. Oh iya, stupid solution yang aku tulis ini ada resikonya lho, jangan salah. . . 

Resikonya adalah ditanya yang jaga warnet karena billing-nya nggak jalan. Trus pas kita bilang kalo kita pakai linux, mereka akan bialang agan hekel yah?? Nah Loh?

Lahan tuh gan buat ngenalin linux ke orang-orang, iya nggak?? Semoga tidak dicoba! . . .
Bagikan:

Thursday, 13 August 2015

Tips Bertanya di Forum Linux dan Sejenisnya Untuk Para Pemula

Forum linux atau Free Open Source Software memang banyak tersebar di berbagai media sosial online. Secara logika, tentunya keberadaan forum atau grup-grup ini harusnya cukup membantu para pengguna baru yang mengalami kesulitan atau menemukan permasalahan dengan linux atau FOSS-nya.
Namun demikian tak jarang lho ada forum yang sesekali cukup lama daam memberikan jawaban dengan rentang waktu yang cukup lama, sehingga membuat para newbie merasa dikacangin dan merasa nggak diperhatiin di forum tempat bertanya tersebut.
Eits, tapi tunggu dulu . . . Mari kita cek terlebih dahulu, adakah yang salah diantar agan-agan yang bertanya dengan forum tempat agan bertanya? Berikut adalah sedikit tips untuk bertanya di forum-forum online termasuk forum linux.
1.Biasakan Menyapa dan Memberi Keterangan Sejelas-jelasnya
Iya gan, menyapa terlebihdahulu member-member yang ada di forum atau grup ternyata memberikan kesan keakraban sendiri. Kalo hal ini sih udah biasa dan sering dilakukan oleh setiap newbia sih, tapi kalo memberi keterangan yang jelas, ini masih jarang.
Maksud memberi keterangan yang jelas adalah menceritakan kronologi kejadian secara santai tapi mendetail, sehingga para master yang ada di forum bisa dengan mudah tahu bagaiman menyikapi problem yang agan hadapi. Kan nggak enak banget kalo di forum dengan ribuan member kita bertanya hanya dengan kalimat singkat semisal, “Gan, kenapa laptop ane mati?”. Salah-salah kalo ada member yang usil dia akan jawab, “Laptop anda baru saja bertemu dengan Malaikat Izroil”. Nggak mau kejadian kaya gitu kan? Yah, anggap jugalah sambil bertanya latihan untuk bercerita, karena bercerita bukanlah perkara yang mudah. Sambil menyelam masuk air (ya iyalah).
2.Tampilkan screenshoot Problem
Bila agan sulit untuk mendiskripsikan atau bercerita tentang permasalahan yang agan hadapi, upload aja screenshoot layar monitor agan yg memuat pesan error. Nah dari situlah para master akan lebih mudah dalam memberikan solusi buat problem agan. 
3.Bertanyalah di Grup yang Lebih sesuai
Mengingat jenis linux dan free open source software yang variatif alias bermacam-macam, akan lebih mudah bila agan bertanya di grup yang khusus membahas software yang agan pakai. Katakanlah agan menggunakan Linux Mint, maka akan lebih pas kalau agan melempar pertanyaan di forum Linux mint. Bukan masalah sih bila agan melempar pada forum yang membahas linux secara umum, namun kemungkina untuk solvingnya itu lho, mungkin agak lama lebih-lebih kalau agan menggunakan distro linux yang kurang familiar digunakan.
4.Posting di Forum Saat Jam-jam Santai
Karena forum atau grup itu membernya banyak dan bervariasi profesinya, jadi alangkah baiknya posting problem agan di saat jam-jam santai, semisal pagi sebelum jam tujuh, sore, atau malam. Intinya bukan saat jam kerja. Karena tentu saja member yang sudah expert sekalipun kalo beliau-beliau sedang kerja nggak mungkin bisa membuka grup untk melihat pertanyaan yang agan posting.
5.Jadilah Orang Sabar
Dimanapun agan berada, baik di dunia nyata maupun di dunia ghaib, eh? Dunia maya maksud saya, penting sekali untuk menadi orang yang sabar. Setidaknya dengan sifat yang mulia ini, agan tidak akan menjadi mudah marah dan menghakimi siapapun seenak nafsu sendiri.


Oke selain lima hal di atas, perlu juga agan mengerti bahwasanya para member lain di forum maupun grup linux bukanlah pacar agan yang bisa agan tuntut buat setiap waktu selalu ada untuk agan. Bahkan pacar pun terkadang juga demikian. Kita juga hampir tidak pernah membayar mereka sepeserpun untuk bantuan yang sering mereka berikan dan waktu yang mereka luangkan, jadi sangat tidak sopan rasanya bila kita menuntut mereka berlebihan apalagi sampai mengujat yang bukan-bukan. 
Mereka, para member forum, juga punya kehidupan di dunia nyata yang lebih penting untuk dijalani. Dan pada kenyataannya kita semua hidup di dunia nyata, dan hanya sesekali mampir ke dunia virtual. Jadi anggap saja wajar kalau tidak semua orang mampu online 24 jam untuk membantu kita, lagi pula beli kuota juga pake uang gan . . . Haha
Dan sebagai penutup tulisan ini, jangan lupa sampaikan ucapan terima kasih untuk orang yang telah merespon postingan agan, entah itu berhasil membantu atau sekedar memberi saran namun belum berhasil. Karena pada kenyataannya, mereka-mereka itu adalah orang yang peduli dengan permasalahan agan dan telah menyisihkan waktu luang mereka untuk memberi tanggapan pada problem agan.
 
Jadikanlah proses belajar linux untuk menjadi pribadi yang lebih bijak.
Rania el-Amina
Bagikan:

Saturday, 8 August 2015

Buat Pengguna Baru Linux yang Sering Bingung

Ingin mencoba linux tapi bingung? Hahay, tenang gan, itu adalah hal yang sangat wajar, terlebih untuk seseorang yang mungkin baru mendengar istilah linux dan penasaran bagaimana wujudnya (seperti saya dulu). Distro linux (sebutan untuk sistem operasi linux yang siap pakai) memang banyak jenisnya, namun pada dasarnya nggak jauh beda kok.
Berikut adalah hal-hal yang mungkin agan-agan alami dan tentunya juga pernah dialami oleh siapa pun yang baru mengenal linux, bahkan para master pun mungkin juga mengalaminya.

1.Pilih distro linux yang mana ya?
Distro linux memang terdiri dari banyak varian, mulai dari distro lokal hingga distro interlokal (luar negeri maksudnya, hehe mirip istilah telepon zaman dulu). Namun hal yang harus digarisbawahi adalah, secara garis besar mereka semua itu (varian-varian linux) sama kok. Hal-hal yang membedakan satu distro dengan distro yang lain adalah:
  • Namanya, kalau ini sih jelas ya . . . Namun, ada hal yang perlu agan perhatikan adalah bahwa nama distro itu sedikit banyak mencerminkan fungsi utama distro dan sedikit banyak hal yang berkaitan dengan distro tersebut.  Nama distro yang biasanya dipakai, biasanya disandingkan angka versi dengan jenis desktop yang dipasang di dalamnya beserta arsitekturnya, contoh : linuxmint-17.2-cinnamon-64bit.
  • Lingkungan desktop, nah ini mulai sedikit serius hehehey . . . Berbeda dengan windows yang lingkungan desktopnya hanya satu, di linux kita bebas memilih lingkungan mana yang akan kita pakai. Oke, bingung ya? Lingkungan desktop itu adalah lingkungan+tampilan yang akan agan gunakan untuk kerja. Contoh lingkungan desktop di linux yang cukup masyhur adalah mate, cinnamon, KDE, xfce, lxde, enlightenment, gnome, yg lokal ada Manokwari milik blankOn, dll. Lingkungan-lingkungan desktop tersebut bisa agan pilih sesuai selera dan kebutuhan. Kalo pengen ringan, pilihlah xfce. Kalo soal tampilan mah, bisa dipoles.
  • Manajer paket, ini sedikit rumit nih . . .gimana ya jelasinnya, gini gan . . .di linux itu ada istilahnya paket software. Ini akan jadi penting kalo agan-agan mau install software, misalnya kalo keturunan debian, ubuntu dkk installnya dengan apt-get, kalo fedora dkk pake yum, opensuse pake yast, Arch pakai pacman . . .Ok, untuk bagian ini jangan terlalu dipikir pusing, kalo bingung malah nggak jadi pake linux lagi . . . Haha
Yang jelas gan, tiap distro itu pasti punya ciri khas masing-masing, but i believe if you wanna try, the knowledge is yours!

2.Apa yang harus aku lakukan bila ingin pakai linux dan bagaimana aku mendapatkan linux?
Kalo agan sudah menentukan pilihan distro, agan bisa mencoba terlebih dulu distro yang agan pilih sebelum menginstallnya. Oh iya, untuk mendapatkan installer atau istilahnya iso linux, agan-agan bisa download di webnya masing-masing. Cek saja di distrowatch.com, di sana banyak tersedia informasi ihwal distro-distro linux. Kalo misalnya inetnya pas-pasan dan nggak mampu buat download, minta aja sama agan-agan, sama saya juga boleh, ntar biar dikirim lewat pos (kalau opsi ini pastinya bayar ganti ongkir gan, ‘loh katanya gratis?’, free itu artinya bebas, bukan melulu gratis . . . )

3.Aku udah install linux, terus aku harus ngapain?
Nah ini nih, yang paling sering muncul di forum-forum. . . Aku pengen balik nanya, emangnya kalo agan abis install windows agan ngapain? Ups! Sorry lupa, kalo agan abis install windows biasanya kan sibuk buat install office, mp3 player dkk plus driver buat kompi/lepi agan, kali ini agan nggak perlu melakukan hal itu, alias tinggal pakai aja. Untuk hal-hal yang berkaitan dengan pasca instalasi, silakan googling aja ya, banyak yang udah post soal gituan kok, dan kebetulan Allah memberi karunia saya berupa kemalasan, hehe . . .

4.Kok linux beda ya sama windows?
Iyalah beda. . . . Namanya aja udah beda, si Rania sama Tasya, sama-sama manusia juga beda kok . . .iya kan? (hehe nggak nyambung ya?)
Gini gan, kalo yang agan maksud beda tampilannya, bukan hal sulit kok untuk membuat linux berpenampilan sama persis kaya windows . . .tapi kalo yang agan maksud adalah beda yang lain semisal nggak bisa klik-klik-klik untuk install software, tunggu dulu . . . Nanti ada pelajaran khususnya yang akan bikin agan makin jatuh cinta sama linux, sabar . . .okay!

5.Apa yang bisa saya lakukan dari linux?
Ini jarang ditanyakan tapi sering diangan-angan dan jadi pertanyaan yg terpendam . . . Haha, agan mau jadi apa itu adalah keinginan agan, pengen jadi programer, desainer, pengguna biasa, meretas jaringan dll . . .semuanya mungkin . . . Bahkan hal yang nggak berkaitan sama sekali, hah? Masa sih? Lha ini saya contohnya, nggak paham bahasa pemrograman, nggak bisa coding, nggak ngeh soal jaringan, bisanya cuma nulis nggak jelas kaya gini . . Hahaha (tenang, anda bukan pembaca tulisan nggak jelas kok)

Dan, akhirnya . . . Semua keputusan itu ada di tangan anda . . . Saran dari aku sih, cari distro yang manusiawi aja dan banyak forum-forumnya supaya bisa tanya sambil belajar kalo ada problem, dan soal memilih distro itu, nggak beda jauh sama nyari pacar, kalo cocok ya dilanjutin aja . . Kalo nggak ya, belajarlah buat move on dan cari distro yang lain yang lebih cocok . . .
Sekadar saran, untuk pengguna yang benar-benar baru, saya sarankan pilih linux mint atau kalau mau citarasa lokal pakailah BlankOn, selain mudah juga dia nggak terlalu beda jauh sama windows, kok . . .apalagi untuk linux mint, kalo anda seorang cowok . . . patutlah menurut saya mencoba untuk PDKT sama Julia, Rebecca, Maya, Nadia dan saudara-saudaranya . . .hehe.... 
Thanks!
Bagikan:

Friday, 7 August 2015

Mengajak Bermigrasi ke Linux

Mengajak orang lain untuk bermigrasi ke linux tentunya bukanlah hal yang mudah. Apa lagi kalau orang yang kita ajak itu telah terlalu terbiasa bermain-main di lingkungan windows. Di tulisan ini aku ingin mencoba sharing hal-hal yang mungkin bisa membantu teman-teman yang udah terbiasa pakai untuk mengajak rekan-rekannya mencoba belajar linux, syukur-syukur bisa menjadi penguna permanen, haha. . .

1.Jangan ajari pengguna baru untuk memebenci windows
Ini nih, yang biasanya sering kelewatan, ketika kita mengajak orang lain untuk belajar linux, sedangkan dia masih pake windows jangan menjelek-jelekkan sistem operasi yang dia pakai. Cukup berikan saja perbandingan dan review tentang linux dan biarkan mereka menilai dengan sendirinya. Logikanya, kalau kita mendekati mereka dengan halus, maka mereka juga sedikit banyak akan menerima omongan kita, tapi kalo mengajak dengan menjelek-jelekkan, yang akan muncul adalah pemahaman kalau pengguna linux itu tukang bully, hahaha
2.Cukup pamerin ke mereka
Ini cara yang biasanya dan paling sering aku pakai. Ya, aku sering sekali menunjukkan kepada penguna windows system monitor linux yang menunjukkan betapa sedikitnya memori yang dipakai untuk menjalankan linux. Tentu saja setelah itu aku meminta mereka untuk melihat task manager di windows mereka dan wow. . . Lihat betapa banyak selisih penggunaan memori antara windows dan linux, lalu biarkan mereka menilai dengan sendirinya.
Selain itu, aku juga sering menunjukkan efek desktop baik dengan compiz atau kwin, yang pastinya akan bikin anak-anak pada ngiler, karena os mereka belum bisa melakukan hal itu, semisal desktop yang tiba-tiba berubah jadi silinder, kubus, lalu jadi slide switcher dll . . .keren cuy!
Dan satu hal lagi, tunjukkan pada mereka kalo sistem di linux itu aman. Biasanya sih aku nantangin mereka dengan bilang, “Menurutmu apa yang akan terjadi kalo aku tekan ctrl+a di partisi C lalu aku tekan delete?” Mereka pasti menjawab, ya rusak donk windowsnya . . .lalu tersenyumlah saya sambil mempersilakan mereka, “Sekarang coba kamu delete partisi sistem linux saya dengan cara yang sama” . . . Haha sampai lebaran pun juga nggak akan bisa didelete, kan partisi sistem linux cuma bisa dimodif kalo kita login sebagai root. . . Hahay . . . Ini adalah contoh simpel bahwa virus nggak bisa ngapa-ngapain di linux.
3.Berikan solusi
Nah ini yang paling penting, nggak cuma asal ngajak orang pakai linux, tapi kita juga harus bertanggung jawab dengan klien kita. Cie klien . . Kaya org kerja aja . . . 
Haha, sebagai seorang newbie (istilah di forum-forum yg saya sendiri ndak sreg) pastilah mereka memiliki banyak kendala yang berkaitan dengan teknis dan lain-lain. Jangan sampai, kita meninggalkan mereka saat para newbie itu lagi kesusahan dan kebingungan, bantulah semampu kita. Atau, minimal, masukkanlah mereka ke forum-forum yang aktif dan cukup baik dalam menerima pertanyaan user baru.

Sebenarnya banyak sih, hal-hal dapat kita lakukan untuk membntu teman-teman kita yang ingin migrasi ke linux, tapi pada intinya satu. . . Ajaklah dengan cara yang baik . . . .

Sekedar tambahan, mengajak orang untuk migrasi ke linux itu kurang lebih sama halnya dengan mengajak orang buat move on dari mantannya. Hal yang mungkin bisa kita katakan pada mereka adalah:
Udah, sabar aja masih banyak kok cewek (sistem operasi) yang lebih baik dari mantanmu (windows) dan lebih bisa ngertiin apa kemauan kamu. Kalau mantanmu dulu suka ngambek (nge-HANG), crewet (antivirusnya bunyi melulu), dan nggak bisa ngertiin kamu (lemot), sekarang kamu harus belajar dari mantanmu itu. Banyak kok cewek (OS) yang lebih baik dari dia, kalau kamu mau aku bisa kenalin kamu sama Katya dan saudari-saudarinya....
Haha . . Ok yg bagian terakhir itu cuma bercanda kok . .jangan dimasukin hati! (Biar masuk sendiri)
See you!
Bagikan:

Tuesday, 23 June 2015