Showing posts with label Curcol Nggak Penting. Show all posts
Showing posts with label Curcol Nggak Penting. Show all posts

Saturday, 3 June 2017

Ah, Sudahlah

Ada satu kejadian hari ini yang  mengingatkan saya pada penggalan puisi milik Gus Mus, Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana. Puisi tersebut hampir mirip sebuah ungkapan yang sering saya dengar dari beberapa rekan kuliah saya dengan logat campurannya, “Njuk aku kudu pie, dab!”. Kejadian yang akan saya ceritakan ini tidak penting-penting amat untuk disimak sebenarnya. Andaikan ada yang bertanya, “Kalau tidak penting lalu mengapa ditulis?”, maka (sambil nyengir) saya akan jawab, “Pengen, aja”. Lagi pula, ini bukan jurnal atau tulisan terlampau ilmiah yang membutuhkan latar belakang di bagian awalnya. Suka-suka.
Cerita ini dimulai dari sebuah grup obrolan di salah satu aplikasi perpesanan. Anggaplah itu merupakan grup kawan lama yang sebenarnya juga ndak terlalu penting-penting amat. Saya katakan demikian karena pada kenyataannya saya jarang ngobrol di sana meskipun saya ditarik jadi anggotanya, dan tidak berpengaruh apa-apa, sesederhana itu. Lain soal dengan grup komunitas yang memang saya masuk atas dasar keinginan pribadi saya, tentu sedikit banyak saya akan mencoba untuk berkontribusi dan memberikan sesuatu bagi rekan-rekan yang ada di sana. Pun demikian, bagaimana pun juga, mungkin karena terbiasa di grup komunitas, saya tetap mencoba untuk mematuhi rule/aturan grup yang diberlakukan di grup kawan lama tadi.
Singkat cerita, saya yang jarang-jarang muncul iseng membuka grup tersebut dan di saat yang bersamaan seorang anggota grup mem-broadcast sebuah tulisan agak panjang. Untuk hal broadcast semacam ini, sepertinya memang sedang marak-maraknya. Terlepas dari permasalahan isinya yang kadang menggurui, mengagamakan yang “beragama”, sekadar mengingatkan, mengucapkan selamat atau jenis-jenisnya yang lain, secara subjektif, saya kadang merasa tidak nyaman berada di lingkungan grup semacam itu. Lebih-lebih bila bahan yang disebarkan tersebut disangkutkan pada seorang tokoh atau kelompok tertentu dan mleset, dalam artian itu hanya penyangkutan yang asal-asalan agar seolah tulisan yang disebarkan tadi seolah terlihat penting, berbobot, atau layak untuk dijadikan rujukan shahih.
Tunggu dulu, ini bukan soal saya anti nasihat (pada dasarnya memang iya sih) atau semacamnya, namun satu hal yang ingin saya coba sampaikan adalah mbok jangan menaruh sesuatu sembarangan. Taruhlah emas dan batu pada tempatnya masing-masing. Di sisi lain, saya pribadi juga kadang merasa jemu dengan tulisan panjang semacam apapun itu bila tidak ditempatkan pada tempat yang sesuai. 8 dari 10 teman yang saya tanya secara personal, malah selalu melakukan skip terhadap tulisan-tulisan semacam itu terlepas isinya bagus atau tidak. Salah satu dari mereka bahkan nyletuk, “Bayangin aja, kamu kamu lagi asik ngobrol, bercanda, saling cela, trus tiba-tiba muncul khotbah panjangnya kalau dicetak mungkin bisa sampai dua lembar A4. Itu khotbah kok kaya obral produk”.
Gini rek, apa yang saya tulis ini juga ndak bener-bener amat, meskipun juga ndak salah-salah amat. Namun kadang saya kok jadi mikir aneh ya, khususnya untuk tulisan-tulisan yang disangkutkan pada nama tokoh atau kelompok dan isinya berupa nasihat. Itu mirip-mirip saya harus ngibul dengan mengatasnamakan orang lain untuk menasihati adik saya agar jangan keluar rumah. Kalau memang dari kitab atau semacamnya okelah, minimal bisa ditambahi catatan dan rujukan, meskipun tetap saja tulisan panjang di obrolan itu menyebalkan.
Kembali ke grup obrolan kawan lama, iseng saya minta kepastian terhadap nama yang dicatut dalam tulisannya. Meski ndak kenal-kenal amat, setidaknya saya sedikit paham tentang orang yang namanya disangkutkan di bagian ujung tulisan. Saya ndak ada masalah dengan konten tulisan, toh nyatanya aktivitas broadcast semacam itu memang diizinkan oleh admin grup. Cuma saya agak sangsi saja, apa benar si dia itu ngomong hal semacam ini, dengan bunga-bunga bunga-bunga dan nekawarna emoticon di chat-nya?
Sontak saja, tanggapan saya tersebut langsung ditanggapi oleh anggota grup lain. Si pengirim pun sempat bercuit, “Kalau memang situ lebih ngerti, tulis donk lalu kirim sini”. Kalau aku nulis lalu aku kirim ke grup, welleh sama saja nanti saya dengan si pengirim. Lagi pula, kan bukan itu soalnya. Di sisi lain, saya cuma cengar-cengir sebenarnya ketika mendapati seketika grup menjadi ramai hanya karena pertanyaan yang saya lontarkan. Tak sedikit yang menganggap pertanyaan semacam itu berlebihan, karena (oleh mereka) digolongkan sebagai kritik. Njuk aku kudu pie, dab? Diam dibilang apatis, tanya dibilang kritis. Apesnya lagi, ketika grup lagi ramai-ramai mencoba menceramahi saya agar mengamini pendapat anggota lain, seorang dengan polosnya mengirim pesan broadcast yang sedang disinggung sebelumnya ke ruang obrolan. Daripada ribut, saya iyakan sajalah apa yang mereka mau, toh juga kan itu hanya hal yang anggap saja sepele dan hanya bertendensi pada subjektivitas saya semata. Saya juga tidak rugi sedikit pun sebenarnya. Dari pada ribut, kan mending damai. Meskipun keblinger sithik-sithik yang penting damai. Skenario Tuhan memang asyik untuk dijalani, apalagi sambil tertawa.
Bagikan:

Monday, 13 February 2017

Gagal Kreatif

Ada yang mengganjal di benak saya usai perkuliahan siang hari ini. Tidak seperti biasanya, kali ini saya merasa aneh saja dengan mata perkuliahan yang saya ambil. Awalnya, saya senang-senang saja mengambil mata perkuliahan yang “konon” dapat melatih kemampuan menulis seseorang. Namun setelah apa yang terjadi siang tadi, saya jadi berpikir ulang tentang anggapan awal saya tersbut.
Cerita dimulai dari perkuliahan yang sama tepat seminggu yang lalu. Di akhir kuliah, sang dosen memberikan tugas kepada seluruh mahasiswa yang mengambil mata kuliahnya untuk membuat sebuah tulisan menarik dengan tema bebas. Saya tak sebut genre tulisan yang dimaksud, karena secara garis perbincangan unsur kreatif dan menarik adalah hal yang berulang kali dikatakan sebagai indikator. “Usahakan belum banyak yang membahas, jadi nilai kebaruannya ada”, kata sang dosen.
Saya pribadi harus mengakui bahwa kemampuan menulis saya memang menurun drastis beberapa bulan ini. Saya lebih intens mengasah kemampuan mengoperasikan alat pengolah desain (kalau ada yang melarang menyebut mengasah kemampuan desain) saya dibanding kemampuan menulis. Di samping itu, belakangan ini saya juga terbilang lebih aktif untuk berurusan dengan dunia perangkat lunak bebas dan merdeka. Dengan demikian, tugas menulis yang biasanya menyenangkan entah mengapa terasa berat dipendengaran saya.
Singkat cerita, saya pun akhirnya memutuskan untuk menulis bidang yang sedang saya tekuni sebagai pengembang salah satu distribusi Linux lokal. Saya susun sedemikian rupa kalimat demi kalimat semampu saya hingga tersusunlah sebuah wacana. Dalam tulisan tersbut, sengaja saya tidak membahas persoalan teknis yang terlalu detail lantaran saya menyadari bahwa kemungkinan besar pembacanya adalah orang yang belum begitu familiar dengan distribusi lokal yang saya bahas.
Siang tadi kelas dimulai. Saya agak deg-degan sebanarnya. Sudah lama sekali saya tak menulis semacam ini. Terakhir saya menulis adalah berkaitan dengan tutorial untuk melakukan beberapa aksi pada distribusi lokas dan menjawab wawancara tulis dari admin kabarlinux.web.id. Satu demi satu tulisan di kelas diseleksi, dan sepertinya saya melihat tulisan saya tersingkir begitu saja. Ah, saya sangat menerima hal tersebut. Tentu saja karena saya menyadari bahwa tulisan saya tidaklah terlalu bagus bila dibanding yang lain. Hampir semua tulisan yang masuk nominasi tulisan terbaik membicarakan tentang kebudayaan. Hanya saja, ada hal yang cukup miris terdengar di akhir perkuliahan, yakni ketika sang dosen seketika berkomentar mengenai tulisan yang saya buat.
“Tadi ada yang bahas soal Linux, langsung saya lewati. Tulisan seperti itu pasti sudah banyak di internet, jadi nggak menarik lagi”. Jleb! Apa yang sempat saya khawatirkan semalam benar terjadi. Andai tulisan saya tersingkir sebab mutu tulisan saya yang rendah, saya akan dengan lapang menerima sebab saya memang mengakui hal tersebut. Namun, ini sudah masuk soal selera sepertinya. Seketika saya jadi hilang mood. Saya seperti kehilangan ruang di kelas tersebut. Saya jadi dungu soal istilah menarik dan kreatif. Apa yang saya baca semalam tentang human interest yang konon masuk dalam kategori genre tulisan ini seolah menjadi mitos dalam waktu yang begitu cepat.
Ah, sudahlah. Tulisan ini sebenarnya juga tidak ada gunanya. Tidak menarik bagi siapapun dan tidak kreatif sama sekali. Pun demikian, sampai detik ini entah mengapa saya malah merasa lebih memiliki kemampuan untuk menulis/membahas mengenai hal-hal seputar open source dan tutorial-tutorial yang berkaitan dengan itu dibanding membahas mata perkuliahan yang saya ambil. Celaka.
Bagikan:

Thursday, 6 October 2016

Kembali m-BlankOn

 Salah Satu Gambar Latar Tambora


Terhitung sejak Senin 3 Oktober lalu, saya telah kembali menjadi pengguna Linux BlankOn. Entah karena hembusan angin apa tiba-tiba saja timbul keinginan yang meluap-luap untuk kembali ke BlankOn. Saya pribadi menganalogikan apa yang terjadi pada saya ini seperti pulang.
Saya mengenal BlankOn sudah lumaya lama. Ketika masih duduk di bangku kelas SMP, saya pernah mencicipi BlankOn Nanggar dan Ombilin. Bukan main girangnya kala itu. Ada secercah “kebanggaan” di hati saat memasangnya pada laptop saya yang merknya sama sekali tidak terkenal.
Perjalanan saya dan BlankOn kala itu memang tidak berjalan lama. Karena saat itu BlankOn belum mendukung VGA laptop saya. Bukan hanya BlankOn sebenarnya, namun hampir sebagian besar distro Linux pada umumnya. Alhasil, beralihlah saya ke Linux Mint dan konsisten menggunakannya hingga sekarang.
Harus saya akui bahwa Linux Mint memang telah banyak membantu saya dalam menyelesaikan berbagai tugas. Saking nyamannya, saya hampir-hampir tidak tertarik lagi untuk mencoba distro-distro lain, termasuk distro-distro lokal maupun manca yang belakangan ini masif bermunculan. Saya tak lagi edan selayaknya saya SMP dulu yang hampir tiap minggu gonta-ganti distro. Meskipun hal tersebut juga bernilai plus, saya jadi punya koleksi puluhan (hampir seratus) distro linux.
Namun apalah daya, saat kuliah saya malah kepincut dengan elementary OS atau sering disebut eOS. Alasan sederhana yang membuat saya kepincut pada eOS tak muluk-muluk sebenarnya, karena dia lebih enteng. Ya, laptop kedua saya memang memiliki spesifikasi yang rendah. Setidaknya, dibanding laptop saya yang pertama, laptop saya yang kedua ini lebih bermerk. :-)
eOS benar-benar membuat saya tergiur. Desktop Pantheon-nya yang simpel semakin memikat hati saya. Akhirnya, mendualah saya. Pada saat-saat tertentu, saya ajak Mint jalan-jalan, dan pada saat yang lain, gantian eOS yang saya ajak jalan. Oh, tidak. Tidak pernah ada “Jendela” di laptop saya. Setidaknya itu sudah berlangsung sejak saya kelas VIII SMP.
Keharmonisan antara Mint dan eOS berjalan cukup lama, setidaknya hingga acara openSUSE.Asia Summit kemarin. Pasca acara tersebut, saya jadi gelisah. Seolah ada tamparan keras yang mendarat di muka. Tamparan yang mengingatkan bahwa saya sebenarnya mampu untuk “kembali” berkontribusi di dunia open source. Ke-pasif-an saya harus segera disudahi. Saya pernah sinting karena keseringan memprovokasi sekitar untuk mengajak mereka belajar tentang FOSS. Sekarang, saya tidak berbuat apa-apa? Tidak!
Setelah cukup lama menjadi pengguna Linux, sekalipun belum menguasai teknis pemrograman, saya merasa punya tanggung jawab untuk ikut andil dalam persoalan ini. Lebih-lebih, sekarang saya telah melihat dan mendengar kenyataan bahwa distro Indonesia (dalam hal ini BlankOn) telah membuka kesempatan seluas-luasnya untuk siapa saja agar ikut berkontribusi. Ambil!
Hal-hal itulah yang akhirnya membuat saya “pulang” kepada BlankOn. Meskipun beberapa kali gagal instalasi, namun akhirnya laptop yang biasa-biasa ini dapat bekerja di luar kebiasaannya.

Bagikan:

Wednesday, 14 September 2016

Setelah Install Elementary OS LOKI

[Sebelumnya aku peringatkan, bahwa ini tidaklah begitu penting]
 
Terima kasih, Freya.
Selasa, 13 September (kemarin) akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Freya. Tidak, tidak. Aku tidak ada masalah apa-apa. Kau tahu, bekerja dengan Freya adalah salah satu pengalaman yang paling menyenangkan menurutku, setelah Mint tentunya. Tidak dapat aku pungkiri, aku cukup puas dengan kinerjanya. Secara subjektif, bila diminta memberikan penilaian, maka aku akan mengatakan bahwa Freya termasuk yang paling lincah dan gesit dalam bekerja. Sayangnya, seiring dengan EOL-nya ubuntu yang menjadi basic-nya, maka berhenti pula dukungan untuk Freya, dan itulah yang membuatku menjadikan Freya sebuah kenangan. Dengan megakhiri hubungan dengannya.
Sebenarnya, selain dengan Freya, aku juga sedang menjalin hubungan dengan Rosa. Dan entah mengapa, untuk Rosa aku masih enggan untuk menjadikannya kenangan pula sebagaimana yang aku lakukan pada Freya. Sekalipun Sarah telah muncul beberapa bulan lalu dan hampir-hampir membuatku kepincut.
Mengakhiri hubungan dengan Freya, berarti memulai pengalaman baru dengan saudara kandungnya, Loki. Ah, memang namanya “ke-cowok-cowok-an”, tapi dia tak kalah cantik bila dibandingkan dengan Freya.
Terus terang saja, sebenarnya sudah cukup lama aku menunggu Loki. Desas-desus tentang keindahannnya memang benar adanya. Hanya saja, ada beberapa hal yang sedikit membuatku belum merasa nyaman, senyaman aku dengan Freya atau dengan Rosa misalnya.
Secara bawaan, Loki memang tak jauh beda dengan Freya. Dari segi kemampuan pun juga hampir mirip. Hanya saja Loki dibekali oleh empunya sebuah alat bernama AppCenter dan aku pribadi agak bingung juga fungsi dari perkakas yang dibawanya itu. Awalnya, aku pikir dengan AppCenter tersebut aku akan dapat memasang hal-hal lain dengan mudah seperti misalnya ketika aku memakai Synaptic. Tapi ternyata bukan. Itu hanya semacam alat untuk memanajemen perangkat yang sudah terpasang.
Hal lain yang membuatku agak kurang nyaman adalah tersunatnya alat apt-add-repository. Ya, pada Loki rupa-rupanya oleh empunya tool tersebut tidak dibekalkan dari awal karena faktor keamanan, sehingga harus dipasangkan secara menual dengan aji-aji


$ sudo apt-get install software-properties-common


diakui atau tidak, Loki memang tidak selengkap keluarga Mint dalam hal aplikasi bawaan sehingga siapa saja yang ingin bekerja dengan Loki harus sejenak meluangkan waktu untuk mendandaninya dengan LibreOffice, Tweak, Gdebi, Synaptic, Inkscape dan alat-alat lain sesuai kebutuhan. Aku pribadi telah memasang banyak aksesori pada Loki, tak lain hanya karena tuntutan pekerjaan.
Ah, iya satu hal lagi yang sepertinya perlu aku ceritakan padamu soal Loki adalah performanya ketika menjalankan pantheon-files. Entah hanya terjadi pada Asus X4452E AMD E1-ku atau juga pada yang perangkat yang lain, yang jelas Loki selalu ngambek sejenak saat aku minta untuk menjalankan pantheon-files tersebut. Awalnya kupikir karena “efek desktop” yang ia pakai, tapi nyatanya tidak mengalami perbedaan yang signifikan setelah aku matikan efek tersebut. Iya, ada sih perbedaan tapi sekali lagi tidak signifikan.
Namun, ya sudahlah semoga saja ini memang terjadi pada awal-awal hubungan belaka dan akan segera melebur seiring berjalannya waktu.
Bagikan:

Sunday, 5 June 2016

Sekedar Coretan Lalu: The Linux User

Dan akhirnya, buku ini pun tak rampung. Jadwal kerja dan kuliah yang super menjepit untuk kali ini memang saya kambing hitamkan sebagai penyebabnya. Namun, apa boleh buat? Setelah dipikir-pikir, daripada coretan ini tidak memiliki guna apa-apa jika disimpan di hardisk, lebih baik saya bagikan saja apapun keadaanya.
Ok-lah, ini nggak profesional banget. Tapi, lagi-lagi, apa boleh buat. Toh ini juga bukan buku petunjuk yang memiliki sifat wajib untuk dibaca, bukan pula buku ilmiah yang juga harus komprehensif pembahasannya, sekali lagi: sekedar coretan lama.






Sampul depan dan Belakang dengan Inkscape :-)
Saya pribadi tidak menganjurkan siapa pun untuk membaca tulisan-tulisan dalam buku ini, namun bila memang ada yang berkenan untuk membacanya, maka saya persilakan saja untuk mengunduhnya melalui tautan ini. Dan tentu saja, terima kasih! Semoga bermanfaat
Bagikan:

Monday, 18 April 2016

Tentang Empat Muwadaah di Guyangan (Bagian II - selesai)

"Selamat Bergembira! Namun, Jangan Hapus Panas Setahun dengan Hujan Sehari!"

Sebelum pagi, puluhan IKAMARU Jogja sudah siap sedia berada di Guyangan. Beberapa di antara mereka berangkat dini hari tadi, lantaran harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tak bisa dinego untuk ditinggal. Pun demikian, tidaklah berkurang semangat mereka untuk menghadiri wisuda/muwada’ah di pondok yang merupakan tempat mereka menimba ilmu. Semua berbahagia, aku pun juga amat bahagia.

Sampailah hari pada Minggu, 17 April 2016. Hari yang akan melahirkan ratusan alumni baru dari pesantren penuh barokah, Raudlatul Ulum Guyangan. Beberapa postingan di akun media sosial aku telah penuh dengan foto-foto wisuda tahun lalu. Beberapa menulis, “Tidak terasa sudah setahun!”. Tapi (karena kurang kerjaan) aku meralat, belum setahun. Karena dulu aku dan teman-teman IKAMARU 2015 diwisuda pada tanggal 27 April 2015. Tapi, lupakanlah. Bagian ini tidak terlalu penting untuk diceritakan.

Percaya atau tidak, meski sudah diwisuda setahun yang lalu, aku baru merasakan bagaiaman euforia wisuda pada tahun ini. Lucu memang. Tapi itulah kenyataan yang ada. Begini...

Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya ketika kelas MDPA, saat wisuda seperti ini aku belum punya banyak kenalan. Maklum, masih baru. Lagi pula saat itu aku hanya berada di pondok dan bersiap-siap untuk mengikuti pekemahan di tingkat provinsi. Kemudian, saat aku kelas X MA, pada saat yang sama, aku memiliki kewajiban untuk menjalankan tugas sebagai panitia (sama-sama tahulah tugasnya apa). Bukannya senang, di acara muwadaah saat itu aku merasa sedih dan sepi, lantaran saudara perempuan aku telah lulus dan harus pergi. 
Pada acara wisuda berikutnya, hampir-hampir aku kembali bersedih. Beberapa teman dekat, seperti Aryun dan kawan-kawan harus pula pergi. Namun, beberapa kesedihan sempat terobati dengan salam perpisahan dari seorang bernama Ratna yang sempat kudaulat punya kemiripan dengan kekasihku. Hehehe....

Dan saat acara muwadaahku sendiri, aku agak kesulitan menikmati muwadaah ini. Bagaimana tidak, saat teman-teman sedang senang-senangnya gladi bersih, bersiap berkemas-kemas untuk pulang, lagi-lagi aku harus berbeda. Ya, aku harus bersiap-siap untuk mengikuti perkemahan lagi di Pemalang bersama beberapa teman lain.

Ah, kalau teringat hari itu... Lucu sekali rasanya. Bayangkan, malam sebelum muawadaah (pada malam Minggu sekitar pukul setengah 12 malam), aku pergi ke suatu tempat untuk menjumpai pelatih tari yang mengajari beberapa rekan kemahku menari. Tarian ini nantinya akan dipentaskan pada saat pentas seni ketika kemah di Pemalang lusa dan baru kembali pada kisaran jam tiga pagi! Capek!

Alhasil, paginya dengan sedikit kantuk sisa semalam dan kebahagian yang menyesakkan dada (karena... tau lah) aku pun mengikuti prosesi wisuda. Petuah demi petuah Kyai aku simak baik-baik, karena terbesit kekhawatiran bahwa petuah-petuah itu akan menjadi petuah terakhir yang aku dapat dari Kyai Najib.
Dan setelah prosesi wisuda selesai, ketika aku melihat teman-temanku bergembira ria dengan temannya, ketika aku melihat anak-anak lain berbahagia pulang bersama keluarga mereka, aku hanya mampu melihat. Hanya sejenak saja. Aku belum bisa pulang bersama orang tuaku saat itu. Mereka pulang hanya dengan membawa beberapa barangku dan sekali lagi tanpa aku. Agak sesak juga rasanya waktu itu. Tapi apa boleh buat, inilah bentuk sayang yang sesungguhnya, pikirku saat itu.

Ya, saat kau sudah tidak lagi berada di dalam rumahmu, tapi kau masih mau membantu merawat dan menghiasnya, itulah bentuk sayang yang lebih dari sayang yang biasa. Tanpa sempat menikmati, euforia muwadaah saat itu, aku pun bergegas untuk bersiap-siap mengemas barang untuk perkemahan besok. Jadi, itulah mengapa aku baru merasakan senangnya muwadaah pada tahun ini.

Satu hal yang akhirnya kudapati adalah barokah itu bisa datang dengan sebab yang beragam, namun perjuangan yang ikhlas kupikir adalah sebab yang cukup potensial untuk memunculkan kebarokahan. Biar bagaimanapun juga, meski saat itu terasa sesak, toh pada akhirnya aku harus berterima kasih kepada YPRU yang telah memberikanku banyak sekali pengalaman berharga. Sesuatu yang amat berharga, yang mungkin tidak semua santri memilikinya. Barangkali, bila aku tidak mengambil pilihan-pilihan yang berbeda seperti yang aku ambil dulu, belum tentu aku bisa berada di tempat ini dan berkeadaan seperti saat ini. Terima kasih, para kyai YPRU!

Baca Bagian Pertama
Bagikan:

Tentang Perjalanan di Muwadaah 2016 (Bag. I dari 2 tulisan)

“IKAMARU bukan sekedar kebanggan, namun juga tantangan untuk menjadi khoirunnas anfa’uhum linnas”

Jumat kemarin, usai kuliah dan menyelesaikan beberapa kegiatan di kampus, saya menyempatkan diri untuk menghadiri acara muwada’ah di pesantren yang amat saya rindukan. Sebelum keberangkatan, sempat ada sedikit masalah soal jadwal, namun apa boleh buat bila tekad di hati sudah bulat. Dengan diantarkan oleh teman sekelas, saya pun pergi ke terminal. Dan singkatnya, sampailah juga saya di Pati sekitar pukul 22.00 dengan lelah yang bercampur bahagia.

Malam itu saya dijemput oleh salah seorang teman baik saya, seorang teman yang dulu juga berjuang bersama saya ketika masih nyantri di Guyangan, Insanul Mahfidz. Saya sering memanggilnya dengan sebutan Kajar. Di rumah Kajar-lah saya menginap malam itu.

Sembari melepas lelah, saya dan anak berperawakan tinggi kurus itu bernostalgia dengan apa yang pernah terjadi selama kami berdua bersekolah di Raudlatul Ulum. Kami berdua bukan sekedar dekat, tapi amat dekat. Kegiatan padatlah yang dulunya membuat kami saling mengenal satu sama lain hingga seperti sekarang.

Akan sangat panjang jadinya, bila saya ceritakan isi nostalgia kami berdua. Setelah sama-sama lelah, kami pun rehat dengan sendirinya. Dan sejurus kemudian, datanglah pagi di hari Sabtu.

Sabtu itu, hanya ada dua agenda besar yang benar-benar ingin saya lakukan. Pertama, berziarah ke Almaghfurulah Yi Suyuthi kemudia yang kedua adalah berkunjung ke pondok yang bertahun-tahun dulu menampung kisah dan semua kenangan saya.

Di temani Kajar, berangkatlah saya ke maqbaroh Guyangan. Tanpa diduga, beberapa teman IKAMARU dari beberapa wilayah, termasuk Semarang, Malang dan Surabaya juga sedang beberapa di sana. Usai “bersapa rindu” dengan Yi Thi dengan bacaan Surat Yasin dan Tahlil, saya dan Kajar bergegas menuju rumah salah seorang teman kami (yang juga saya kangeni), Fajrul Falah alias Jin.
Jin inilah yang dulunya juga banyak membantu saya selama di Guyangan. Orang yang lugu dan sesekali membuat perasaan jengkel lahir karena ucap dan polahnya. Dia orang yang cerdas, setidaknya nama Jin yang melekat pada dirinya bisa dijadikan sebagai bukti. Ya, Jin merupakan potongan silabel dari kata dengan bunyi JIN-ius (plesetan dari jenius). Malam ini, saya akan bermalam di rumah Jin yang letaknya tak jauh dari pondok. Sebelum ini, saya sudah sering menginap di rumah Jin. Jadi, boleh dibilang, saya cukup akrab dengan keluarga si Fajrul ini.

Sesuai rencana yang sempat saya singgung di awal tadi, setelah cukup melepas penat, usai dzuhur kami bertiga berkunjung ke pondok putra, (sekali lagi) tempat yang benar-benar saya rindukan belakangan ini. Dag dig dug rasanya, ketika kaki ini kembali menapak dan melewati gerbang hijau pondok yang dulunya sering mengunci anak-anak yang telat berangkat ke madrasah.
Setelah mendapat izin dari lurah pondok, saya pun hilang sabar untuk segera masuk ke kamar. Dan, Allah! Betapa senangnya hati ini ketika mendapati teman-teman sekamar dulu sedang berkemas-kemas hendak wisuda besok. Semua anak di kamar menyalami saya dengan wajah penuh keceriaan. Saya hampir pangling. Bagaimana tidak, anak-anak MTs yang dulu masih kecil-kecil ketika aku lulus, kini sudah nampak besar. Hampir sebesar saya!

Kamar yang penuh kenangan itu, Abdullah bin Mas’ud namanya. Letaknya amat strategis. Bila ke bawah langsung ke kamar mandi dan dapur, bila ke atas menuju ke komplek G dan lantai 4, tempat menjemur pakaian. Sedangkan jika lurus menuju ke kamar-kamar komplek E dan jika ke kanan menuju komplek d. Banyak yang berubah dari kamar ini. Mulai dari warna cat yang dulunya hijau kini menjadi merah muda, serta beberapa penataan-penataan lain terhadap hiasan kamar. Ini kamar kami!

Puas bercengkrama dengan anak-anak kamar Mas’ud, saya teringar salah seorang teman saya di MDPA yang karena suatu hal ia tidak dapat wisuda bersama saya tahun lalu. Faisal Amar. Dari bawah, saya memberi kode kepada anak di lantai tiga untuk memanggilkan Amar. Dan tidak sampai satu menit, datanglah ia. Wajahnya penuh kebahagiaan. Suara tawanya masih sama. Rambutnya saja yang agak berbeda, agak pendek bila dibandingkan rambut saya, biasanya sebaliknya, hehehe....

Kami berdua bercakap banyak hal di teras kamar Mas’ud. Hingga akhirnya ia harus pergi, karena harus mengikuti gladi bersih wisuda di madrasah. Ya Allah, semua tampak gembira hari ini. Saya yang sudah lulus ini, malah jadi ikut tidak sabar untuk mengikuti prosesi wisuda besok pagi.

Selain Amar, di kantor pondok, saya juga berjumpa dengan Gus Nabil, putra dari pengasuh pondok ini. Dari beliau, saya mendapatkan buku wirid as-Suyutiyyah yang dulu belum dicetak sebagus yang saya dapatkan ini. Selain as-Suyutiyyah, saya juga beroleh majalah Bangkit dari pentolan ISRU yang sedang berkemas-kemas hendak ke madrasah untuk mengikuti gladi bersih pula. 
Saya tidak bisa menuliskan, bagaiamana perasaan saya yang amat senang siang itu melalui tulisan ini. Rasa-rasanya, saya kesulitan mencari kata yang dapat mewakili kegembiraan saya kala itu. Tak apa, toh nantinya semua rekan-rekan IKAMARU 2016 juga pasti akan merasakannya sendiri. Perasaan bahagia ketika kembali ke pondok pesantren. Perasaan bahagia ketika dapat kembali mencium tangan guru-guru Guyangan. Perasaan bahagia-bahagia lain ketika rindu dapat dipatahkan!

Bagikan:

Saturday, 12 March 2016

Bagaimana Coba?!

Ada satu hal yang cukup menggelikan sekaligus membuat semacam ironi dalam benak saya beberapa bulan terakhir ini. Lagi-lagi ini tentang open source.

Sebagaimana yang pernah saya kisahkah sebelumnya, saya kuliah di Fakultas Ilmu Budaya UGM yang konon pernah memiliki proyek bernama Budaya Goes Open Source (BUGOS). Dan kini, proyek itu hanya tinggal nama, dan hanya menyisakan beberapa unit komputer di perpustakaan yang masih tertanam Linux Mint.

Selain BUGOS, sebenarnya di tingkat universitas juga sempat berjalan proyek UGM Goes Open Source (UGOS) namun sekali lagi teramat disayangakan proyek tersebut tak terdengar lagi gaungnya. 

Ya, MoU dengan pihak Microsoft mungkin saja adalah salah satu sebab mengapa kedua proyek ini ter-pause, jika tidak ingin dikatakan terhenti. Saya menulis ini secara subjektif dari apa yang saya ketahui di lapangan, jadi soal data empirik silakan bisa dibuktikan oleh pembaca sekalian dengan malakukan penelitian khusus jika memang diperlukan.

Sebelum tulisan ini, saya pernah juga menulis tentang hal yang senada dengan ini. Tentang kesimpangsiuran proyek FOSS di kampus. Namun, tulisan tersebut memang sengaja tidak saya posting karena beberapa alasan.

Baiklah, kembali pada kalimat pertama yang saya tulis di awal tulisan ini. Semenjak beberapa bulan lalu, form login untuk menikmati hotspot di lingkungan FIB mengalami sedikit perubahan. Sebelum masuk pada form login, kini para mahasiswa harus menyetujui beberapa peraturan terkait etika penggunaan fasilitas wifi di kampus. Ada lima poin utama yang tertuang dalam perjanjian tersebut, dan pada ini, saya fokus pada poin kelima yang menganjurkan para mahasiswa untuk menggunakan Free Open Source Software.




Saya ingin memberikan analogi kecil, ketika Anda dilarang melompati pagar namun tidak disediakan pintu atau semacamnya untuk Anda lewat, apa yang kemudian muncul di benak Anda? Bingung? Tepat sekali. Kira-kira kira itulah yang saya pribadi rasakan di lingkungan ini. Bagaimana dengan orang lain? Bukannya saya hendak berprasangka buruk, namun sepertinya meraka tak acuh soal hal ini. Bahkan mereka juga tak acuh soal perangkat yang mereka pakai. Asal menyala, tugas lancar, selesai masalah.

Entahlah, saya juga tak mengerti. Sementar, ada baiknya tulisan ini saya cukupkan dulu. Pening!
Bagikan:

Sunday, 25 October 2015

Rindu pada Rasa

Kalu boleh aku katakan, aku tak begitu paham motifku dalam menulis tulisan ini. Aku rasa tulisan kali ini benar-benar berangkat dari kegersangan hatiku yang berlarut-larut. Secara sederhana, aku sedang mengalami kerinduan yang tak jelas. Ya, tak jelas pada siapa, dan tak jelas mengapa aku merasa rindu. Namun, yang sementara ini kusadari adalah kerinduanku pada sesuatu yang kesebut rasa.
Sudah sebulan lebih sandaran yang selama ini menegakkan hatiku pergi. Sesuatu yang rumit membuatnya lenyap begitu mudahnya. Menyisakan lembab dan basah di kedua pipi. Entahlah, apakah hidup yang dijalaninya saat ini mengalami perubahan dengan ada atau tidak adanya diriku, aku tak tahu. Lagi-lagi aku sekedar tahu, bahwa kalimat dalam puisi Chairil Anwar benar-benar berlaku pada diriku. Ya, batinku terasa mampus karena dikoyak sepi.
Ketika kembali kupndangi foto-fotonya yang tersenyum, kubaca kembali surat demi surat yang pernah ia kirimkan untukku, seketika sesak sekali dadaku. Aku tak mampu mengatur naik-turun napasku. Aku ingin menyapanya kembali, namun rupanya kehangatan yang dulu telah benar-benar marah padaku dan mungkin hengkang karena alasan itu.
Ya, sadar atau tidak, ini tulisan memang nglantur. Aku tak tahu harus dengan kalimat apa kurepresentasikan perasaanku ini. Puisi tak lagi cukup untuk mengobati kerinduanku pada rasa. Jika aku trus berdiam diri seperti ini, aku seolah merasakan perih Zainuddin ketika ditinggal oleh Hayati. Seperti Rendra yang kehilangan intuisi kebahasaannya, atau seperti Sujiwo Tejo yang kehilangan republiknya.
Kekacauan ini mungkin saja simbol dari kekacauan dalam diriku yang sebagian memang aku biarkan keluar. Kekecewaan pada diriku pasca acara dimalam Jumat kemarin jelas masih tergambar detail di kepalaku. Dalam nuraniku pun aku sedang terjadi kecamuk antara aku dan seseorang yang mengaku-aku diriku. Arg! Aku tak bisa menjelaskan, sialan! Kali ini, aku benar-benar ingin airmata basahi wajahku, aku ingin airmata melegakan semua yang kusebalkan ini, bagai awan yang menyatu sebagai air dalam hujan.

Rania dalam Ombangambing Hati
Bagikan:

Saturday, 26 September 2015

SEPUCUK SURAT UNTUK PRESIDEN RI DARI SEORANG PENGGUNA LINUX INDONESIA

Kepada Yth. Presiden RI 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Presiden RI yang terhormat, sebelumnya saya mohon maaf atas kelancangan dan ketidaksopanan saya ini. Mohon maaf juga bila surat (yang mungkin dianggap tidak penting) ini mengganggu kesibukan njenengan. Sekali lagi saya mohon maaf.

Nama saya Rania, salah satu dari sekian juta rakyat njenengan yang tinggal dan hidup selama bertahun-tahun di Indonesia, negara yang njenengan pimpin saat ini. selain sebagai seorang rakyat, saya mengirim surat ini juga sebagai seorang pengguna Linux tanah air.

Mungkin njenengan tak peduli dan kurang begitu tertarik dengan barang yang namanya Linux, namun menurut pribadi saya, eksistensi Linux di negera ini cukup penting untuk menuju sebuah kemandirian teknologi bangsa.

Dari beberapa media, saya juga tahu keadaan Indonesia hari ini tak begitu baik (bila tidak mau dikatakan buruk). Permasalahan ekonomi, sosial dan segala tetek bengek lainnya selalu mewarnai negara yang Bapak pimpin. Sebagai rakyat yang masih bodoh, saya hanya mampu membantu lewat doa, semoga yang mimpin negara besar ini benar-benar mampu menjadi orang yang sabar, inovatif, ulet dan mampu menjadi pemberi solusi, dalam bahasa anehnya Problem Slover.

Kembali ke posisi saya sebagai pengguna Linux di Indonesia. Pak, saya tidak begitu tahu menahu soal investasi yang diberikan pihak Microsoft pada bangsa ini. Yang saya tahu, pihak Microsoft itu malah merupakan salah satu item yang yang membuat kita melarat. Setidaknya ada dua pilihan, antara melarat dan amoral.

Lha bagaimana ndak melarat coba, kalau semua komputer-komputer yang ada di pemerintahan yang jumlahnya seabrek menggunakan sistem operasi Windows sedangkan untuk satu komputer saja perlu biaya lisensi yang harganya melebihi penghasilan bapak saya perbulan. Belum lagi nanti kalau ada rilis terbaru pasti akan ada yang namanya upgrade dan pembaharuan perangkat untuk menyesuaikan kebutuhan dari perangkat lunak yang digunakan. Sekali lagi, biayanya itu mahal Pak, dan komputer itu tidak hanya di kantor-kantor pemerintahan. Rakyat-rakyat njenegan juga banyak yang menggunakan barang ajaib ini.

Di sisi lain, para pengguna komputer di Indonesia cenderung masih gemar dengan yang namanya barang bajakan. Kalau menggunakan barang bajakan memang sih tidak perlu membayar, namun saya yakin njengan adalah orang pinter yang tahu jelas mengenai hitam-putihnya barang bajakan serta dampak negatifnya sekalian. 

Di tengah kesibukan njenengan mengurus pelbagai permasalahan ini dan itu, saya mohon luangkanlah satu menit saja dari waktu yang Bapak punya untuk kembali melihat potensi Linux yang dapat membantu bangsa ini.

Bukanlah saya orang yang suka muluk-muluk. Saya punya banyak teman sesama pengguna Linux, lebih tepatnya penggiat Open Source. Kami hidup di dalam suatu komunitas yang mengedepankan kebersamaan, kebebasan berbagi pengetahuan dan kelegalan perangkat lunak. Meski kami bukan orang-orang politik, namun sering sekali kami merasa tersakiti karena beberapa kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

Salah satu hal yang sampai saat ini masih menyakiti kami adalah ketika materi-materi pengajaran di bangku sekolah masih didominasi dengan materi dari perangkat lunak close source. Mungkin njenengan kurang begitu ngeh bagaimana rasa sakit yang kami maksudkan ini.

Jadi begini, Pak. Indonesia memiliki sebuah proyek bernama Indonesia Goes Open Source (IGOS). Proyek ini sejatinya adalah proyek yang diresmikan oleh lima menteri yang menjabat beberapa tahun silam. Secara garis besar, tujuan diadakannya proyek ini adalah sebagai bentuk nyata untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri dalam bidang teknologi perangkat lunak. Namun sayang, beberapa tahun silam pula, ada menteri yang tiba-tiba mengadakan MoU dengan pihak Microsoft, naasnya meneteri tersebut adalah salah satu menteri yang dulunya ikut merilis proyek IGOS.

Bila keadaanya seperti ini terus, bagaimana mungkin produk lokal dapat berkembang bila tidak mendapatkan dukungan dari berbagai pihak? Termasuk di dalamnya adalah dukungan dari pemerintah. Rekan-rekan sekolah saya sering sekali beranggapan Linux itu susah dan lebih memilih menggunakan perangkat lunak bajakan ketimbang peragkat lunak legal. Padahal Linux bukanlah momok yang patut ditakuti layaknya koruptor. Tentu saja ini adalah imbas daripada minimnya pembelajaran dan pengenalan Linux di sekolah-sekolah.

Bukan saya bermaksud membanding-bandingkan atau bagaimana, meski pada beberapa hal saya kurang suka, namun pada masalah ini saya salut dengan Tiongkok. Setidaknya mereka berani mengambil tindakan untuk memopulerkan produk teknologi mereka sendiri di negara mereka sendiri. Bahkan mereka menolak menggunakan mesin pencari Google dan lebih menekankan pada penggunanaan mesin pencari buatan mereka sendiri yang bernama Baidu. Sebuah tindakan berani, menurut saya.

Pak Jokowi, soal Linux, Indonesia bukanlah negara yang tertinggal. Sejatinya kita adalah negara yang cukup produktif (meskipun belum mendapat dukungan secara nyata dan signifikan). Indonesia punya produk Linux bernama Blankon yang telah diakui dunia. Hal tersebut terbukti dengan masuknya Blankon ke dalam jajaran distribusi Linux dunia di laman distrowatch.com. Selain itu kita juga punya IGOS Nusantara yang begitu getol mempromosikan Indonesia melalui desktopnya yang cantik nan indah. Ditingkat daerah ada Grombyang OS, Asril OS, Linux Biasawae dan ratusan karya lain yang sampai saat ini belum ter-list dan termanajemen dengan baik oleh pemerintah. Mereka hanya berkembang di komunitas dan sedang mencoba berkembang keluar dengan segala kemadirian dan keterbatasan.

Sampai pada bagian ini sejujurnya saya khawatir njenengan bingung dengan semua yang saya sampaikan ini. Pada intinya, saya dan tentunya teman-teman pengguna Linux di seluruh Indonesia, akan senantiasa siap dan berkenan untuk memajukan NKRI di bidang teknologi perangkat Lunak. Kami percaya dan kami yakin sekali bahwa dunia per-Linux-an Indonesia dapat memberikan kontribusi yang baik untuk negara ini.

Satu hal saja yang kami butuhkan, dukungan pemerintah. Ya, mungkin itu saja. Setidaknya dengan hal tersebut para pengguna komputer yang jumlahnya cukup banyak itu akan menjadi melek dan paham soal sisi buruk dari pembajakan perangkat Lunak. 

Oh iya, agar tidak salah paham. Saya menulis surat ini lantaran saya membaca sebuah berita yang mengatakan bahwa njenengan, pada sebuah acara, mengatakan agar kemajuan teknologi tidak hanya menguntungkan satu pihak dan seterusnya pada Selasa 22 Spetember 2015 lalu. Jawaban sementara dari saya dan rekan-rekan untuk permintaan Bapak sementara ini adalah Linux. 

Saya bukanlah programmer, hacker, atau ahli di bidang komputer. Saya hanya seorang yang mencoba menjadi orang yang pedulia. Saya sekedar sastrawan Linux, itu saja. Semoga Bapak Jokowi berkenan untuk membantu Indonesia menuju sebuah kemerdekaan. Merdeka! 

Terimakasih dan sekali lagi, maaf untuk kelancangan ini.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Yogyakarta, 27 September 2015
Seorang Pengguna Linux Tanah Air
Bagikan:

Thursday, 13 August 2015

Tentang Rumah Kos

Sekitar pukul sebelas malam kemarin, aku tiba di kos. Ya, rumah yang sepertinya akan menjadi tempatku tinggal setidaknya selama setahun ke depan. Saat baru samapai di kos, anak laki-laki ibu kos itu langsung menyambutku di rolling door rumahnya. Rupa-rupanya seisi rumah itu belum ada yang tertidur, dan mereka menunggu kedatanganku.
Hahay, biaya kos yang aku tempati ini menurutku tak begitu mahal sih, terlebih dengan segala fasilitas yang aku dapatkan. Tempatnya pun juga bersih nan sejuk, tak jauh di sebelah kiri rumah kos terdapat sungai yang mengalir begitu segar. Ah, iya . . . Kos yang aku tempati ini berada di bawah tanah, jadi udaranya tidak panas sama sekali, airnya pun juga sejuk. Setidaknya itu yang aku rasakan ketika mandi pagi pertama kali hari ini.
Di kos ini baru ada tiga orang. Sebab penghuni-penghuni sebelumnya sudah wisuda dan pulang ke rumahnya masing-masing, suatu hal yang sepertinya masih jauh untuk aku lakukan, haha.
Dua orang yag tinggal bersamaku ini berasal dari Bandung. Rizal dan Rizki namanya. Entah memang kebetulan atau bagaimana, ketiga penghuni kos ini namanya berawalan dengan huruf, “R”. 
Rizki nampak lebih ramah dari Rizal. Kamarnya berada tepat di depan kamarku. Ialah orang yang memperdengarkan padaku lagu Peterpan pertama kali di kos ini. Lalu, Rizal, kamarnya bersebelahan dengan kamar RIzki. Kalo aku perhatikan wajah Bang Rizal ini, mirip dengan Dwi Sasono.
Secara keseluruhan, enak sih tinggal di sini. . .  Suasana yang kondusif, akses kebutuhan yang mudah, warung yang lumayan murah, juga segala fasilitas yang memadai, semuanya bisa kudapat. Sayangnya, sementara ini aku merasa kesepian lantaran belum ada teman seangkatanku yang tinggal di sini. Tadi pagi, Izbik dan Irham, teman pondokku telah mampir kemari. Mereka berdua adalah orang pertama dan kedua yang bertamu di kamarku. Dan saat mereka pulang, sepi deh . . . 
Sementara ini aku belum begitu padat berkegiatan. Hari-hari aku isi dengan hal yang berguna untuk diriku dan sekitar saja, lantaran kuliah juga belum aktif. Besok rencananya aku hendak membeli sepeda onthel dengan bapak kos untuk transportasiku ke kampus. Ah, aku jadi rindu dengan yang di rumah . . .  Sedang apa ya mereka sekarang . . . Aku juga rindu pada senyummu, iya kamu . . .
Bagikan:

Tuesday, 11 August 2015

Aku Hendak Melangkah

Baik, baik. Beberapa jam lagi aku akan berangkat, memulai perjalanan dan cerita baruku di Jogja sana. Sekilas, semua nampak canggung. Aku bahkan merasakan sedikit kegelisahan di hati saat mengemasi barang-barang yang akan aku bawa ini. Tapi, entahlah . . . satu harapanku, aku tak ingin mengecewakan siapapun, termasuk kedua orang tuaku dan diriku sendiri serta orang-orang yang aku sayangi dan menyayangiku.
Saat masih dusuk di bangku sekolah dasar, aku tak pernah membayangkan bahwa di masa depan kelak aku akan jadi mahasiswa. Bahkan saat di SMP pun, aku juga belum berpikir jauh ke sana, bagiku saat itu, hidup adalah saat ini, dan masa depan akan mengikuti. Ya, aku selalu percaya bahwa masa depan yang akan kita jalani adalah buah dari tingkah-polah kita saat ini. Meskipun demikian, entah mengapa berat sekali menghilangkan sifat malas yang seolah-olah membenalu sejak sekian lama didiriku ini.
Beberapa waktu yang lalu, aku menulis beberpa postingan di blog ini. Cukup senang rasanya melihat jumlah pembaca yang terus meningkat. Sebenarnya aku juga ingin memulai usaha online, namun rasa-rasanya masih jauh dan aku bingung hendak mulai darimana.
Ah, iya . . . bagai mendapat durian runtuh. Hobiku bermesraan dengan FOSS sepertinya mendapat repon positif dari salah satu dosen di UGM. Bahkan, Beliau--melalui emailnya--mengajak aku untuk ikut andil memperbaiki repository repo.ugm.ac.id. . . wih, benar-benar kejutan rasanya.
Tentu saja, aku mengenal istilah repo saat aku masih duduk di bangku kelas 8 SMP, saat itu juga aku mengenal repo UGM yang cukup baik soal urusan kecepatan. Ya, biasanya sih aku download iso linux di repo-repo lokal, dan UGM adalah salah satu pilihanku. Meskipun kini repo UGM sedikit trouble lantaran kehabisan space, but it's so cool di telinga. Dan andai benar terjadi, beberapa waktu mendatang, aku akan ikut andil dalam urusan FOSS di UGM, aih. . aih . . . jadi nggak sabar.
Ok, sekarang saatnya berpamitan dan memohon doa restu pada siapa saja yang kukenal. Lewat tulisan ini, aku ingin meminta doa dan maaf bila selama kita saling mengenal, baik mengenal langsung atau kenalan secara virtual di dunia maya, aku sering bikin ulah dan mungkin saja ada yang tersakiti. Hoho, lebay ya?
Intinya, izinkan aku melangkah menuju nasib baruku . . .

Bagikan:

Saturday, 4 July 2015

Kamu Sebenarnya Hidup Dimana Sih?

Aku jadi teringat tentang sebuah cerpen yang pernah termuat di koran Minggu Jawa Pos, yang judulnya, “Isrtri Pengarang”. Setidaknya ada beberapa hal menjengkelkan yang saat ini aku alami--dan kurang ajarnya--hampir mirip dengan plot cerita di cerpen itu.
Istri Pengarang, berkisah tentang kecemburuan seorang istri pengarang novel yang kurang terkenal pada suaminya. Perempuan bernama Diana itu mulai merasa curiga pada suaminya yang sering keluar malam dengan alasan bisnis bersama penerbit. Kecemburuan Diana kian menguat ketika ia membaca kisah-kisah percintaan yang ditulis oleh sang suami dalam novel atau cerpen-cerpennya. Tak sedikit cerpen yang bersudut pandang orang pertama itu menggambarkan hal-hal mesra bahkan sampai intim dengan dengan seorang perempuan bernama Nadia. Kedetailan si suami dalam menulis kisah membuat Diana berpikiran bahwa hal-hal yang keluar dari pikiran suaminya adalah nyata dan benar-benar terjadi.
Namun masalahnya adalah, siapa sebenarnya Nadia? Suatu hari, dengan kecurigaan yang kian menggebu Diana mencoba mencari tahu ihal perempuan yang namanya sering muncul sebagai tokoh utama perempuan di tulisan suaminya itu. Namun hasilnya nihil, tak ada kejelasan sama sekali tentang Nadia.
“Kau tahu, ini rasanya seperti cemburu pada hantu. . . Hantu juga tak pernah jelas adanya, namun berhasil membuat sebagian besar orang takut, begitu pun gadis bernama Nadia itu.” ungkap Diana.
Di akhir kisah, saat Diana tak lagi punya pekerjaan lantaran terkena PHK, dan bayang-bayang ketakutan akan hadirnya sesosok Nadia, membuatnya menjadi kalap dan tanpa sadar menusukkan pisau ke tengkuk suaminya saat sedang menulis kisah tentang percintaanya dengan Nadia.  Namun sekali lagi penyesalan selalu datang terlambat, karena Diana baru menyadari bahwa yang ditulis suaminya adalah dirinya sendiri. Ya, Nadia hanyalah permainan suku kata dari Dia-na menjadi Nadia. Sayangnya saat ia menyadari hal itu, suaminya telah lenyap di bawah nisan, dan dirinya meringkuk di rumah sakit jiwa karena cemburu pada hantu.
Kisah tentang Diana itu mungkin juga aku alami, namun aku bukan sebagai Diana melainkan sebagai suami Diana alias si pengarang. Beberapa hari setelah kembali dari Kalimantan, aku mendapati banyak perubahan aneh pada beberapa teman akrabku. Namun bila melihat seperti ini jadinya, mungkin akan kucabut status mereka sebagai teman akrab, karena rupanya mereka tak benar-benar paham tentang aku, hanya sebatas kenal atau lebih tepatnya hanya sebatas teman (tidak) akrab.
Sebagai manusia yang telah nyata hidup di dunia, sebenarnya aku kurang begitu suka dengan tradisi baru tentang medsos yang berkembang saat ini. Mengapa, karena kegiatan bermedsos saat ini terlalu berlebihan, bahkna membuat sebagian besar dari orang-orang, termasuk teman-temanku lupa bahwa medsos adalah bagian dari dunia maya bukan dunia nyata. 
Hal menjengkelkan yang baru kualami kemarin adalah saat aku kembali menulis beberapa kisah-kisah semi fiktif dan memostingnya di media sosial. Kisah-kisah yang aku tulis memang sedikit berbau percintaan remaja, dan celakanya beberapa temanku beranggapan bahwa itu adalah 100% nyata. Alhasil . . . . Ya, begitulah. Karena aku sedang menjaga hati untuk seseorang dan dalam cerita-cerita yang kubuat itu tidak berkaitan dengan orang yang kukasihi, melahirkan dugaan bahwa aku akan meninggalkan kekasihku yang juga teman mereka itu.
Sebenarnya bukanlah suatu masalah bila teman-temanku itu hanya sabatas menduga-duga, toh aku juga sering menduga-duga tentang akhir kisah drama dari Detective Conan, namun hal menjemukan yang terjadi adalah mereka dengan sok tahunya membawa kisah dari dunia maya itu ke dunia nyata, dan BRAK! Timbullah konflik yang benar-benar nyata, masalah yang benar-benar terjadi dan menghampiri aku, si Tuhan dalam ceritaku. Melihat kenyataan itu, aku baru menydari bahwa mereka dan sebagian dari kita rupanya belum siap untuk menjadi bagian dari masyarakat dunia maya, bahkan celakanya kita juga belum bisa dengan baik menjadi masyarakat dunia nyata.
Bagaimana tidak, bukankan seorang yang jiwanya terganggu pun bisa (menyamar) menjadi orang yang alim dan bijak dengan mengutip berbagai qoute dari orang-orang yang waras. Bukankah tak jarang, kita temui orang-orang yang di dunia nyata tampaknya waras namun menjadi begitu gila di dunia maya? Sebenarnya itu bukan suatu kesalahan menurutku, sekali lagi kutegaskan ini adalah dunia maya, menyalahkan dunia maya tak ubahnya seorang Diana yang menyalahkan Nadia yang “seolah-olah” merebut suaminya. Di akhir coretan ini, aku hanya ingin mengatakan sekaligus mengajak pada teman-teman yang lain, jika ingin menilai suatu barang di dunia nyata, maka jadilah masyarakat dunia nyata, dan begitu pun sebaliknya jika ingin menilai susuatu di dunia maya. Tentu saja kita akan sulit mengetahui betapa hebatnya suatu software tanpa menggunakan lalu menilainya saat ia berada di dalam komputer, sama halnya dengan kita akan amat kesulitan mengetahu pedasnya sambal jika itu ada di dalam komputer.
Bukankah hal yang biasa seseorang mengatakan dirinya sedang galau di medsos, namun pada kenyataannya ia sedang bersenang-senang dengan pujaan hatinya? Kau mengerti bukan?
Bagikan:

Sunday, 28 June 2015

Pesan Untuk Tiga Teman sepermainan

Entah ada angin apa yang menerpa batinku, tiba-tiba saja aku teringat dengan kisah-kisah yang pernah kita lalui bersama saat masih duduk di sekolah menengah dulu. Bagaimana keadaan kalian? Sehat kan?? Tentu saja aku berharap Tuhan senantiasa melindingi teman-teman sepermainanku.
Cukup lama kita tak saling berjumpa, jarak dan kesibukan boleh tersalahkan sebagai penyebabnya. Kita berempat terpencar di tiga tempat yang berbeda, dan kecil kemungkinan kita berjumpa walau rumah kita sebenarnya berdekatan, kecuali kalian berdua, Anin dan Alin, sebab kalian sama-sama berada di Surabaya, meskipun sebenarnya aku sendiri tak yakin kalau kalian akan mau menyempatkan waktu buat bertemu. Kesibukan, ya aku maklum.
Saat masih di SMP aku tak mengira kita akan berpisah seperti ini, Ega di Malang, Anin Alin di Surabaya, dan aku . . . Ahay aku masih transisi dari Pati ke Yogyakarta alias Jogja. Tentu saja, saat itu, hampir tak ada hari yang kita lalui tanpa kebersamaan. Bahkan saat hari libur pun, selalu saja ada alasan buat kita untuk bertemu di sekolah. Haha, mungkin itulah yang namanya teman.
Baru saja aku termenung, dan menyadari bahwa dunia seni adalah satu hal yang menyatukan kita yang berbeda-beda ini. Ya. . . Meski pun aku sadar, seniku tak terlalu baik--lebih-lebih seni musik--jika dibandingkan dengan kalian, Setidaknya aku cukup cakap untuk bercerita dan memberikan kalian peluang untuk mengejekku atas guyonan-guyonanku yang jarang berhasil. Tak apa.
Satu kenangan yang masih terekam kuat di benakku adalah saat kiat bermain teater di Oktober 2010 lalu. Yang aku ingat bukanlah keberhasilan kita menampilkan sebuah drama yang pada akhirnya menarik minat kakak-kakak SMA untuk mengajak kita tampil bersama di Januari 2011, melainkan proses-proses yang kita lalui untuk sampai pada keberhasilan kecil itu.
Aku masih ingat betapa seriusnya seorang sutradara cantik bernama Agatha Mega Kristi membuat naskah drama berjudul Hilangnya Happy Ending Story Maker. Aku masih ingat betapa kerasnya ia mengoreksi hasil editan naskah yang aku ketik, dan tentunya juga aku akan salalu ingat bagaimana ia memaksaku untuk mencari laptop untuk menulis naskah karena saat itu laptopku sedang digaransikan. Aku masih ingat betapa all out-nya seorang Anindia Hardiyanti mendandani dirinya yang seharusnya tanpa didandani pun wajahnya sudah mendekati make up penyihir jahat dengan rambut yang bermekaran.
Dan tentunya aku masih ingat betapa hebatnya seorang Alinnur Awalina membuat dirinya nampak bodoh dengan baju dan tingkahnya, ya aku masih ingat semua itu, termasuk teman-teman lain.
Kalian ingat, aku sempat dimarahi habis-habisan oleh Bu Endah lantaran hendak menyalahkan sekolah karena tak sedikitpun memberi dana untuk acara ini. Tak hanya Bu Endah, bahkan suaminya pun, Pak Dadija Oetama juga mendiamkan aku lantaran menyebut Apresiasi Seni & Sastra dengan Pentas Seni karena dianggap mengubah total inti makna kegiatan. Dan saat itu aku sempat berpikir, apakah semua seniman itu serumit ini? Namun beberapa tahun aku mondok, aku baru sadar bahwa itulah yang namanya prinsip dan The Power of Words.
Ahay, kita pernah bertingkah tanpa logika saat usia itu, bahkan terlampau sering. Sekarang, diusia kita yang boleh dikatakan telah remaja menuju dewasa ini, terbesit dalam benakku sebuah pertanyaan yang mengkin tak memerlukan jawaban vokal, namun memerlukan jawaban berupa tindakan, “Kapan kita akan berpentas dalam satu panggung lagi?” 
Aku menyadari, bahkan sudah sejak dulu, bahwa kelihaianku berakting kalah jauh dibandingkan kalian bertiga, namun sudah sejak lama pula aku sedikit mengubah cara pandangku, bahwa kualitas akting yang sesungguhnya tak diukur saat seseorang menginjak panggung semata, melainkan juga saat ia turun dari panggung, masih mampukah ia berakting sesuai tuntutan naskah yang telah ditulis oleh Tuhannya? Karena rupanya itu adalah akting yang paling sulit dan drama manusia terpanjang yang pernah di pentaskan di jagat ini.
Anin, Ega, Alin, aku berprasangka kalau kalian akan menjadi orang yang berhasil, satu hal saja yang ingin kumohon pada kalian untuk suatu hari nanti, tolong ajari juga anak-anak generasi bangsaku. Ajari mereka untuk berbuat jujur, berterima kasih dan memaafkan, itu saja.
I Miss you all.
Bagikan:

Monday, 8 June 2015

Diapit Bimbang

Dari hati yang paling dalam
Kudendangkan...sebuah
lagu temani sepi
Sejenak iringi nurani
Ada jarak diantara kita
Selimuti sekian waktu
t'lah tersita
Ingin kubilang jarak
terbentang....semoga

Datanglah kau kekasih
Dekap aku erat-erat
Jangan buang pelukku
yang tulus
Biarkan hujan turun
Basahi jiwa yang halus
Jangan tutup dirimu
Buat apa kau diam saja
Bicaralah agar aku
semakin tau
Warna dirimu duhai permata
Kau mimpiku...
aku tak bohong
Seperti yang kau kira
Seperti yang s'lalu kau duga
Pintaku kau percayalah
usah ragu
Datanglah kau kekasih
Dekap aku erat-erat
Jangan campakkan pelukku
yang tulus
Biarkan hujan turun
Basahi jiwa yang kering
Jangan tutup dirimu

Iwan fals, Jangan Tutup Dirimu


Aku tak sanggup buat berkata apa-apa padamu, mungkin lewat syair itu saja kusampaikan perasaan yg membelengguku saat ini . . .
Aku tahu betapa sepi yang kualami, namun apa boleh dikata bila memang tuhan belum memperkenankan aku tuk temanimu. Kekasihku, mengertilah kau adalah salah satu alasan dalam hidupku.

#Pada hati yang hampir bimbang diapit keteguhan
Bagikan:

Monday, 25 May 2015

Dengan Apa Kan Kubalas?

Pernahkah kau merasa menjadi sesorang yang seolah tak ada artinya bagi seseorang yang kaucintai? Pernahkah kau merasa seolah-olah kehadiranmu tak memberikan perbedaan sama sekali untuk orang yang kaukasihi?
Jika kau terlanjur menjadi seperti itu, apa yang akan kaulakukan selanjutnya? Mengutuki dirimu sendirikah, atau malah pergi menjauh dari orang yang mungkin juga mencintaimu?
Sejujurnya aku tak begitu tahu tentang apa yang akan kutulis ini, namun perasaan yang kuungkapkan di atas itulah yang saat ini aku rasakan. Aku memang sulit untuk berbohong pada diriku sendiri, terlebih soal perasaan.
Beberapa bulan silam, saat aturan sistem amat kuat mengikatku. Sehingga pada akhirnya aku menjumpai berbagai kesulitan untuk menjalin komunikasi dengan orang yang aku sayangi. Namun pada kenyataanya, kesulitan itu justru membuatku terus termotivasi dan berusaha yang berujung pada kegiatan berkirim-terima surat melalui kantor pos selayaknya zaman-zaman sebelum gadget atau hp banyak dikenal seperti sekarang ini.
Ya, setidaknya. . . satu bulan sekali aku akan mengirim surat yang berkisah tentang keadaanku di tempatku belajar itu. Dan setidaknya pula, dalam satu bulan aku akan menerima balasan yang berisi kisah dan kabar tentang orang yang aku cintai sejak SMP nun di sana.
Surat terakhir yang aku terima adalah saat aku pulang dari kegiatan perkemahan usai wisuda purnaku di tanah rantau. Kauyahu, saat rindu amat membelenggu, lembaran-lembaran surat yang ditulis dengan jemarinya itulah obat paling mujarab yang kupunya.
Namun sekarang, saat semuanya sudah boleh kulakukan—tak lagi terikat sistem—aku malah jarang sekali menghubunginya. Bukan karena aku tak mau sebenarnya, namun karena kesibukan pasca kelulusankulah salah satu penyebabnya.
Aku menyadari, belakangan ini sikapnya cukup manja padaku. Seringkali ia mencoba untuk mencari perhatian dengan pesan-pesan singkat yang ia kirimkan. Sayangnya, aku benar-benar tak lagi punya waktu untuk sedikit saja bersantai. Bahkan untuk diriku sendiri pun, aku tak punya.
Harus kuakui, ia memang amat perhatian denganku. Meskipun pada kenyataannya aku belum bisa membalas perhatian itu secara penuh. Andai kau mengalami seperti yang kualami ini, apa yang akan kaulakukan?

Ah, iya . . . nama orang yang amat kusayangi itu adalah Nining.
Bagikan: