Showing posts with label Sepotong Kisah. Show all posts
Showing posts with label Sepotong Kisah. Show all posts

Thursday, 6 October 2016

Kembali m-BlankOn

 Salah Satu Gambar Latar Tambora


Terhitung sejak Senin 3 Oktober lalu, saya telah kembali menjadi pengguna Linux BlankOn. Entah karena hembusan angin apa tiba-tiba saja timbul keinginan yang meluap-luap untuk kembali ke BlankOn. Saya pribadi menganalogikan apa yang terjadi pada saya ini seperti pulang.
Saya mengenal BlankOn sudah lumaya lama. Ketika masih duduk di bangku kelas SMP, saya pernah mencicipi BlankOn Nanggar dan Ombilin. Bukan main girangnya kala itu. Ada secercah “kebanggaan” di hati saat memasangnya pada laptop saya yang merknya sama sekali tidak terkenal.
Perjalanan saya dan BlankOn kala itu memang tidak berjalan lama. Karena saat itu BlankOn belum mendukung VGA laptop saya. Bukan hanya BlankOn sebenarnya, namun hampir sebagian besar distro Linux pada umumnya. Alhasil, beralihlah saya ke Linux Mint dan konsisten menggunakannya hingga sekarang.
Harus saya akui bahwa Linux Mint memang telah banyak membantu saya dalam menyelesaikan berbagai tugas. Saking nyamannya, saya hampir-hampir tidak tertarik lagi untuk mencoba distro-distro lain, termasuk distro-distro lokal maupun manca yang belakangan ini masif bermunculan. Saya tak lagi edan selayaknya saya SMP dulu yang hampir tiap minggu gonta-ganti distro. Meskipun hal tersebut juga bernilai plus, saya jadi punya koleksi puluhan (hampir seratus) distro linux.
Namun apalah daya, saat kuliah saya malah kepincut dengan elementary OS atau sering disebut eOS. Alasan sederhana yang membuat saya kepincut pada eOS tak muluk-muluk sebenarnya, karena dia lebih enteng. Ya, laptop kedua saya memang memiliki spesifikasi yang rendah. Setidaknya, dibanding laptop saya yang pertama, laptop saya yang kedua ini lebih bermerk. :-)
eOS benar-benar membuat saya tergiur. Desktop Pantheon-nya yang simpel semakin memikat hati saya. Akhirnya, mendualah saya. Pada saat-saat tertentu, saya ajak Mint jalan-jalan, dan pada saat yang lain, gantian eOS yang saya ajak jalan. Oh, tidak. Tidak pernah ada “Jendela” di laptop saya. Setidaknya itu sudah berlangsung sejak saya kelas VIII SMP.
Keharmonisan antara Mint dan eOS berjalan cukup lama, setidaknya hingga acara openSUSE.Asia Summit kemarin. Pasca acara tersebut, saya jadi gelisah. Seolah ada tamparan keras yang mendarat di muka. Tamparan yang mengingatkan bahwa saya sebenarnya mampu untuk “kembali” berkontribusi di dunia open source. Ke-pasif-an saya harus segera disudahi. Saya pernah sinting karena keseringan memprovokasi sekitar untuk mengajak mereka belajar tentang FOSS. Sekarang, saya tidak berbuat apa-apa? Tidak!
Setelah cukup lama menjadi pengguna Linux, sekalipun belum menguasai teknis pemrograman, saya merasa punya tanggung jawab untuk ikut andil dalam persoalan ini. Lebih-lebih, sekarang saya telah melihat dan mendengar kenyataan bahwa distro Indonesia (dalam hal ini BlankOn) telah membuka kesempatan seluas-luasnya untuk siapa saja agar ikut berkontribusi. Ambil!
Hal-hal itulah yang akhirnya membuat saya “pulang” kepada BlankOn. Meskipun beberapa kali gagal instalasi, namun akhirnya laptop yang biasa-biasa ini dapat bekerja di luar kebiasaannya.

Bagikan:

Saturday, 1 October 2016

Sajak Jalanan dari Opensuse.Asia Summit

Semisal langit, kitalah hujan yang datang tanpa gerimis
Semisal hujan, kitalah yang menggenang sebelum jadi gelombang
Semisal gelombag, kitalah pasukan yang menggulung kesempatan
Semisal kesempatan, kitalah yang diam-diam menyergap udara
Menahannya
Menjedanya
Dan akhirnya,
Mereka menyadari
Kita memang ada di sini


*untuk dunia open source yang sesekali masih sunyi
Bagikan:

Sunday, 5 June 2016

Sekedar Coretan Lalu: The Linux User

Dan akhirnya, buku ini pun tak rampung. Jadwal kerja dan kuliah yang super menjepit untuk kali ini memang saya kambing hitamkan sebagai penyebabnya. Namun, apa boleh buat? Setelah dipikir-pikir, daripada coretan ini tidak memiliki guna apa-apa jika disimpan di hardisk, lebih baik saya bagikan saja apapun keadaanya.
Ok-lah, ini nggak profesional banget. Tapi, lagi-lagi, apa boleh buat. Toh ini juga bukan buku petunjuk yang memiliki sifat wajib untuk dibaca, bukan pula buku ilmiah yang juga harus komprehensif pembahasannya, sekali lagi: sekedar coretan lama.






Sampul depan dan Belakang dengan Inkscape :-)
Saya pribadi tidak menganjurkan siapa pun untuk membaca tulisan-tulisan dalam buku ini, namun bila memang ada yang berkenan untuk membacanya, maka saya persilakan saja untuk mengunduhnya melalui tautan ini. Dan tentu saja, terima kasih! Semoga bermanfaat
Bagikan:

Monday, 18 April 2016

Tentang Empat Muwadaah di Guyangan (Bagian II - selesai)

"Selamat Bergembira! Namun, Jangan Hapus Panas Setahun dengan Hujan Sehari!"

Sebelum pagi, puluhan IKAMARU Jogja sudah siap sedia berada di Guyangan. Beberapa di antara mereka berangkat dini hari tadi, lantaran harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tak bisa dinego untuk ditinggal. Pun demikian, tidaklah berkurang semangat mereka untuk menghadiri wisuda/muwada’ah di pondok yang merupakan tempat mereka menimba ilmu. Semua berbahagia, aku pun juga amat bahagia.

Sampailah hari pada Minggu, 17 April 2016. Hari yang akan melahirkan ratusan alumni baru dari pesantren penuh barokah, Raudlatul Ulum Guyangan. Beberapa postingan di akun media sosial aku telah penuh dengan foto-foto wisuda tahun lalu. Beberapa menulis, “Tidak terasa sudah setahun!”. Tapi (karena kurang kerjaan) aku meralat, belum setahun. Karena dulu aku dan teman-teman IKAMARU 2015 diwisuda pada tanggal 27 April 2015. Tapi, lupakanlah. Bagian ini tidak terlalu penting untuk diceritakan.

Percaya atau tidak, meski sudah diwisuda setahun yang lalu, aku baru merasakan bagaiaman euforia wisuda pada tahun ini. Lucu memang. Tapi itulah kenyataan yang ada. Begini...

Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya ketika kelas MDPA, saat wisuda seperti ini aku belum punya banyak kenalan. Maklum, masih baru. Lagi pula saat itu aku hanya berada di pondok dan bersiap-siap untuk mengikuti pekemahan di tingkat provinsi. Kemudian, saat aku kelas X MA, pada saat yang sama, aku memiliki kewajiban untuk menjalankan tugas sebagai panitia (sama-sama tahulah tugasnya apa). Bukannya senang, di acara muwadaah saat itu aku merasa sedih dan sepi, lantaran saudara perempuan aku telah lulus dan harus pergi. 
Pada acara wisuda berikutnya, hampir-hampir aku kembali bersedih. Beberapa teman dekat, seperti Aryun dan kawan-kawan harus pula pergi. Namun, beberapa kesedihan sempat terobati dengan salam perpisahan dari seorang bernama Ratna yang sempat kudaulat punya kemiripan dengan kekasihku. Hehehe....

Dan saat acara muwadaahku sendiri, aku agak kesulitan menikmati muwadaah ini. Bagaimana tidak, saat teman-teman sedang senang-senangnya gladi bersih, bersiap berkemas-kemas untuk pulang, lagi-lagi aku harus berbeda. Ya, aku harus bersiap-siap untuk mengikuti perkemahan lagi di Pemalang bersama beberapa teman lain.

Ah, kalau teringat hari itu... Lucu sekali rasanya. Bayangkan, malam sebelum muawadaah (pada malam Minggu sekitar pukul setengah 12 malam), aku pergi ke suatu tempat untuk menjumpai pelatih tari yang mengajari beberapa rekan kemahku menari. Tarian ini nantinya akan dipentaskan pada saat pentas seni ketika kemah di Pemalang lusa dan baru kembali pada kisaran jam tiga pagi! Capek!

Alhasil, paginya dengan sedikit kantuk sisa semalam dan kebahagian yang menyesakkan dada (karena... tau lah) aku pun mengikuti prosesi wisuda. Petuah demi petuah Kyai aku simak baik-baik, karena terbesit kekhawatiran bahwa petuah-petuah itu akan menjadi petuah terakhir yang aku dapat dari Kyai Najib.
Dan setelah prosesi wisuda selesai, ketika aku melihat teman-temanku bergembira ria dengan temannya, ketika aku melihat anak-anak lain berbahagia pulang bersama keluarga mereka, aku hanya mampu melihat. Hanya sejenak saja. Aku belum bisa pulang bersama orang tuaku saat itu. Mereka pulang hanya dengan membawa beberapa barangku dan sekali lagi tanpa aku. Agak sesak juga rasanya waktu itu. Tapi apa boleh buat, inilah bentuk sayang yang sesungguhnya, pikirku saat itu.

Ya, saat kau sudah tidak lagi berada di dalam rumahmu, tapi kau masih mau membantu merawat dan menghiasnya, itulah bentuk sayang yang lebih dari sayang yang biasa. Tanpa sempat menikmati, euforia muwadaah saat itu, aku pun bergegas untuk bersiap-siap mengemas barang untuk perkemahan besok. Jadi, itulah mengapa aku baru merasakan senangnya muwadaah pada tahun ini.

Satu hal yang akhirnya kudapati adalah barokah itu bisa datang dengan sebab yang beragam, namun perjuangan yang ikhlas kupikir adalah sebab yang cukup potensial untuk memunculkan kebarokahan. Biar bagaimanapun juga, meski saat itu terasa sesak, toh pada akhirnya aku harus berterima kasih kepada YPRU yang telah memberikanku banyak sekali pengalaman berharga. Sesuatu yang amat berharga, yang mungkin tidak semua santri memilikinya. Barangkali, bila aku tidak mengambil pilihan-pilihan yang berbeda seperti yang aku ambil dulu, belum tentu aku bisa berada di tempat ini dan berkeadaan seperti saat ini. Terima kasih, para kyai YPRU!

Baca Bagian Pertama
Bagikan:

Tentang Perjalanan di Muwadaah 2016 (Bag. I dari 2 tulisan)

“IKAMARU bukan sekedar kebanggan, namun juga tantangan untuk menjadi khoirunnas anfa’uhum linnas”

Jumat kemarin, usai kuliah dan menyelesaikan beberapa kegiatan di kampus, saya menyempatkan diri untuk menghadiri acara muwada’ah di pesantren yang amat saya rindukan. Sebelum keberangkatan, sempat ada sedikit masalah soal jadwal, namun apa boleh buat bila tekad di hati sudah bulat. Dengan diantarkan oleh teman sekelas, saya pun pergi ke terminal. Dan singkatnya, sampailah juga saya di Pati sekitar pukul 22.00 dengan lelah yang bercampur bahagia.

Malam itu saya dijemput oleh salah seorang teman baik saya, seorang teman yang dulu juga berjuang bersama saya ketika masih nyantri di Guyangan, Insanul Mahfidz. Saya sering memanggilnya dengan sebutan Kajar. Di rumah Kajar-lah saya menginap malam itu.

Sembari melepas lelah, saya dan anak berperawakan tinggi kurus itu bernostalgia dengan apa yang pernah terjadi selama kami berdua bersekolah di Raudlatul Ulum. Kami berdua bukan sekedar dekat, tapi amat dekat. Kegiatan padatlah yang dulunya membuat kami saling mengenal satu sama lain hingga seperti sekarang.

Akan sangat panjang jadinya, bila saya ceritakan isi nostalgia kami berdua. Setelah sama-sama lelah, kami pun rehat dengan sendirinya. Dan sejurus kemudian, datanglah pagi di hari Sabtu.

Sabtu itu, hanya ada dua agenda besar yang benar-benar ingin saya lakukan. Pertama, berziarah ke Almaghfurulah Yi Suyuthi kemudia yang kedua adalah berkunjung ke pondok yang bertahun-tahun dulu menampung kisah dan semua kenangan saya.

Di temani Kajar, berangkatlah saya ke maqbaroh Guyangan. Tanpa diduga, beberapa teman IKAMARU dari beberapa wilayah, termasuk Semarang, Malang dan Surabaya juga sedang beberapa di sana. Usai “bersapa rindu” dengan Yi Thi dengan bacaan Surat Yasin dan Tahlil, saya dan Kajar bergegas menuju rumah salah seorang teman kami (yang juga saya kangeni), Fajrul Falah alias Jin.
Jin inilah yang dulunya juga banyak membantu saya selama di Guyangan. Orang yang lugu dan sesekali membuat perasaan jengkel lahir karena ucap dan polahnya. Dia orang yang cerdas, setidaknya nama Jin yang melekat pada dirinya bisa dijadikan sebagai bukti. Ya, Jin merupakan potongan silabel dari kata dengan bunyi JIN-ius (plesetan dari jenius). Malam ini, saya akan bermalam di rumah Jin yang letaknya tak jauh dari pondok. Sebelum ini, saya sudah sering menginap di rumah Jin. Jadi, boleh dibilang, saya cukup akrab dengan keluarga si Fajrul ini.

Sesuai rencana yang sempat saya singgung di awal tadi, setelah cukup melepas penat, usai dzuhur kami bertiga berkunjung ke pondok putra, (sekali lagi) tempat yang benar-benar saya rindukan belakangan ini. Dag dig dug rasanya, ketika kaki ini kembali menapak dan melewati gerbang hijau pondok yang dulunya sering mengunci anak-anak yang telat berangkat ke madrasah.
Setelah mendapat izin dari lurah pondok, saya pun hilang sabar untuk segera masuk ke kamar. Dan, Allah! Betapa senangnya hati ini ketika mendapati teman-teman sekamar dulu sedang berkemas-kemas hendak wisuda besok. Semua anak di kamar menyalami saya dengan wajah penuh keceriaan. Saya hampir pangling. Bagaimana tidak, anak-anak MTs yang dulu masih kecil-kecil ketika aku lulus, kini sudah nampak besar. Hampir sebesar saya!

Kamar yang penuh kenangan itu, Abdullah bin Mas’ud namanya. Letaknya amat strategis. Bila ke bawah langsung ke kamar mandi dan dapur, bila ke atas menuju ke komplek G dan lantai 4, tempat menjemur pakaian. Sedangkan jika lurus menuju ke kamar-kamar komplek E dan jika ke kanan menuju komplek d. Banyak yang berubah dari kamar ini. Mulai dari warna cat yang dulunya hijau kini menjadi merah muda, serta beberapa penataan-penataan lain terhadap hiasan kamar. Ini kamar kami!

Puas bercengkrama dengan anak-anak kamar Mas’ud, saya teringar salah seorang teman saya di MDPA yang karena suatu hal ia tidak dapat wisuda bersama saya tahun lalu. Faisal Amar. Dari bawah, saya memberi kode kepada anak di lantai tiga untuk memanggilkan Amar. Dan tidak sampai satu menit, datanglah ia. Wajahnya penuh kebahagiaan. Suara tawanya masih sama. Rambutnya saja yang agak berbeda, agak pendek bila dibandingkan rambut saya, biasanya sebaliknya, hehehe....

Kami berdua bercakap banyak hal di teras kamar Mas’ud. Hingga akhirnya ia harus pergi, karena harus mengikuti gladi bersih wisuda di madrasah. Ya Allah, semua tampak gembira hari ini. Saya yang sudah lulus ini, malah jadi ikut tidak sabar untuk mengikuti prosesi wisuda besok pagi.

Selain Amar, di kantor pondok, saya juga berjumpa dengan Gus Nabil, putra dari pengasuh pondok ini. Dari beliau, saya mendapatkan buku wirid as-Suyutiyyah yang dulu belum dicetak sebagus yang saya dapatkan ini. Selain as-Suyutiyyah, saya juga beroleh majalah Bangkit dari pentolan ISRU yang sedang berkemas-kemas hendak ke madrasah untuk mengikuti gladi bersih pula. 
Saya tidak bisa menuliskan, bagaiamana perasaan saya yang amat senang siang itu melalui tulisan ini. Rasa-rasanya, saya kesulitan mencari kata yang dapat mewakili kegembiraan saya kala itu. Tak apa, toh nantinya semua rekan-rekan IKAMARU 2016 juga pasti akan merasakannya sendiri. Perasaan bahagia ketika kembali ke pondok pesantren. Perasaan bahagia ketika dapat kembali mencium tangan guru-guru Guyangan. Perasaan bahagia-bahagia lain ketika rindu dapat dipatahkan!

Bagikan:

Friday, 30 October 2015

Puisi di Wily Release Party 2015

Seseorang yang "lupa" aku tanyakan namanya memintaku untuk memosting puisi yang aku bawakan dalam Pesta Rilis Ubuntu di Fakultas Teknik siang-sore tadi. Jujur saja aku akui, bahwa jika dikoreksi dari sudut pandang sastra, puisi yang aku bawakan bukanlah termasuk puisi yang bagus karena ada beberapa unsur puisi yang "sengaja" aku abaikan. Hal itu aku lakukan bukan tanpa sebab, setidaknya aku hanya ingin menyesuaikan dengan hadirin yang mendengarkan,. Tentu saja aku dapat mengatakan bahwa hadirin yang ada di tempat tersebut belum tentu paham ihwal sastra, maka dari itu goal yang aku harap dari puisi yang aku buat lebih condong ke pehaman dan pesan yang ingin aku sampaikan, dan semoga berhasil.

By the way, thanks banget buat arek-arek panitia dari Fakultas Teknik yang telah memberikan aku kesempatan buat membawakan puisiku, thanks juga buat Mas Dedy dkk, keren dah pokoknya!

Oh, iya ini puisi yang aku bawakan tadi. Semoga bermanfaat!

Sebuah Pertemuan Penguin Garuda

telah terbit matahari pagi ini
untuk jadi saksi kita berkumpul di sini
tak lain sekedar menyatukan visi hati
berharap sebuah kesepakatan akan lahir

mengapa niat baik jarang terlihat
mengapa niat baik selalu jadi barang teracuhkan
mereka sebut kita bagian dari hacker (sedikit penjelasan)
dimana salahnya?

bukankah kita berdiri dengan kaki yang kita miliki
kita ambil bagian soal perkembangan teknologi
kita coba tak sekedar jadi pengikut ketidakpastian
kitalah simbol dari kebhinekaan yang telah lama terkonsep

berbagi bagian dari kehidupan
pengetahuan tak ubahnya bom waktu yang harus segera dilempar
bagai makanan jutaan orang lapar
tak mau berbagi adalah tanda kematian hidup

kita bukan pengemis bukan peminta-minta
bukan saatnya bergantung pada yang duduk di kursi
untuk apa sebuah harapan
bila akhirnya dikecewakan

maka kawinkanlah kegagahan garuda dengan kedermawanan penguin
sudah tiba masa kita bungkam segala suara
yang tak pernah lelah pandang sebelah mata cita-cita kita
apa yang salah dari keinginan merdeka?

tapi kenapa mereka asingkan kita
kita bukan pejabat yang naik pangkat jadi koruptor
kita bukan teroris yang rajin membenihkan teror
kita hanya ingin berbagi mengapa sulit sekali

matahari masih saksikan pertemuan kita
saudaraku, kita berjuang tanpa mengenal nama
kita membantu tanpa pandang sara
tak ada pamrih diantara kita, dan semoga itu berlaku selamanya

sekarang tiba saatnya sebuah pertanyaan
apa penguin yang kita piara, akan terbiarkan mendekam
atau kita terbangkan dengan sayap garuda raya?
itu sebuah pilihan


Yogyakarta 2015
Rania el-Amina
Puisi ini terinspirasi dari Sajak Pertemuan Mahasiswa karya Si Burung Merak
Bagikan:

Tuesday, 8 September 2015

KISAH INSPIRATIF PERKEMBANGAN LINUX DI MUSHOLA SASTRA


Sejak pertama kali datang ke Jogja, aku telah memiliki niat untuk tetap mengembangkan dan menyebarkan “wabah” linux pada orang-orang di sekitarku nantinya. Atas hal ini, aku sangat bersemangat, lantaran asumsi bahwa di UGM pasti banyak yang paham soal linux. 

Hari pertama kuliah, saat ada sebuah kesempatan berkenalan, aku sengaja menyinggung istilah-istilah open source untuk memoles bicaraku. Misalnya, “Salam FOSS, Salam Merdeka!” dan lain-lain. Begitu pun saat aku mengungkapkan hobiku selain menulis, aku beranikan diriku untuk berucap, “Selain menulis, hobi saya adalah bermain sambil pacaran dengan Rafaela”. Atas ujaranku itu, akhirnya beberapa teman baruku banyak yang penasaran dan bertanya, “Siapa itu Rafaela?”. Aku tersenyum dan akhirnya pada sesi perkenalan yang singkat itu, aku sedikit demi sedikit memperkenalkan linux pada teman-teman baruku.

Beberapa memang tertarik, namun malangnya nasib tak dapat kutolak. Aku kalah promo dengan staf bagian sumber daya informasi yang memromosikan windows dan office “legal”nya yang merupakan buah dari MoU dengan Microsoft. 

Aku tak kehabisan akal. Aku dekati staff yang kemarin memresentasikan ihwal windows dan office kemarin, dan akhirnya aku tahu, bahwa mahasiswa hanya mendapatkan jatah Ms. Office saja, sedang Ms. Windows hanya diberikan pada Dosen dan staf-staf administrasi. Aku tertawa dalam hati, “Sama aja bohong”.

Kau tahu, mungkin seperti inilah rasanya Tenzin (anak dari Avatar Aang) atau mungkin Avatar Aang sendiri, saat mencari pengendali udara selain dirinya. Sedang di sisi lain, ia dihadapkan dengan serangan negara api yang begitu ambisius di masa itu. Ok, ini hanya joke.

Pencarianku tetap berlanjut. Hingga akhirnya aku mencoba untuk menghubungi KPLI Jogja yang sialnya tak lagi begitu aktif. Aku masih mencari, hingga pada suatu kesempatan, aku beranikan diri untuk menghubungi dosen-dosen yang pernah bersinggunag dengan proyek UGM Goes Open Source (UGOS). Alhasil, berkenalanlah aku dengan Pak Mardhani dan Pak Erwin. Mereka berdua inilah yang akhirnya memacu semangatku, karena ternyata Pak Erwin termasuk pegiat FOSS yang masih aktif sampai sekarang.

Tak puas sampai di situ, aku masih berusaha untuk mencari pengguna linux yang statusnya mahasiswa sepertiku. Tak lama kemudian, seorang mahasiswa dari Fakultas Teknik menguhubungiku via pesan Facebook. Dengan bahasa yang amat halus ia meminta bantuan tentang linux untuk dijadikan tugas akhir. Aku sempat merinding saat ia bilang, “Saya pakai CentOS mas.”

Masih juga belum puas, aku kembali bertanya-tanya pada diriku, “Bukankah dulu di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) ini pernah ada proyek Budaya Goes Open Source (BUGOS) ya? Lalu, dimanakah sisa-sisa puing proyek tersebut?”. Aku kembali melakukan penelusuran. Satu-satunya sisa proyek BUGOS yang masih dapat kujumpai adalah di perpustakaan FIB yang masih menggunakan linux untuk komputer-komputernya.

Sejujurnya aku hampir putus asa. Namun Tuhan berkata lain. Tuhan memang sutradara paling hebat, pengatur cerita yang tak pernah bisa kutebak dengan pasti. Pemberi kejutan yang paling indah.

Kemarin sore (8 September 2015), usai kuliah, aku hendak menuju ke mushola Al-Adab FIB untuk menunaikan sholat Ashar. Setelah berwudlu, ketika akan masuk mushola, tiba-tiba mataku menangkap sebuah layar notebook axio yang sedang menjalankan libreoffice. Hatiku dag-dig-dug. Aku amati secara diam-diam, dan benarlah dugaanku. AKU MENEMUKAN PENGGUNA LINUX!!!

Kuberanikan diri untuk menyapa orang yang sedang serius bekerja tersebut, “Pakai linux ya, Mas?” tanyaku.

“Iya, mas paham linux juga?” Dan akhirnya perbincangan pun tak dapat dihindari. Perbincangan sempat terhenti saat aku mohon izin untuk menunaikan sholat, dan berlanjut lagi setelah itu.

Dari penuturan Adif, mahasiswa S2 semester akhir ini, masih lumayan banyak kok pengguna linux di FIB. Namun rata-rata mereka anak mushola dan Pak Erwin adalah orang di balik semua ini. Semangat dan gairahku pun kembali memerah. Pada Mas Adif ini, aku bertanya-tanya seputar kronologis perkembangan linux di mushola FIB.

Dari penjelasannya, linux di mushola FIB itu dimulai bertahun-tahun saat ada diskusi tentang pembajakan yang dikaitkan tentang problem hala-haram dari sudut pandang agama. Nah, pada saat itulah Pak Erwin untuk pertama kalinya memperkenalkan linux sebagai alternatif terbaik untuk menghindari pembajakn perangkat lunak. “Kalau kita bekerja menggunakan software bajakan, dan kita tahu akan keharaman melakukan hal itu, maka boleh jadi semua tugas yang kita buat juga bernilai haram. Mengapa? Karena hasil pekerjaan yang kita peroleh bersumber dari hal yang tidak halal” ucap Mas Adif menirukan argumen Pak Erwin.

Setelah diskusi tersebut, akhirnya muncullah kesadaran bersama untuk menggunakan linux dan meninggalkan windows. Dan lagi-lagi, Pak Erwin inilah yang dengan sabar membanti rekan-rekan di FIB untuk masalah instalasi, panduan teknis dan lain-lain.

Hal yang benar-benar aku kagumi dari pengguna linux di mushola FIB ini adalah kesinambungannya. Mereka semua mengakui bahwa pada tahap awal memang perlu sedikit adapatasi, namun pada akhirnya semua itu menjadi lebih mudah saat telah menjadi kebiasaan. Hal tersebut dibuktikan dengan tidak terkendalanya tugas-tugas para pengguna linux di FIB yang selama ini mereka buat denga libreoffice. Yang paling manarik menarik lagi adalah kenyataan bahwa para pengguna linux di mushola FIB adalah sekedar pengguna, bukan tukang oprek seperti aku atau mungkin teman-teman di forum. Mereka mungkin tak paham apa itu sudo, terminal, grub, lingkungan desktop dan hal-hal teknis lainnya, namun kenyataannya mereka telah bertahun-tahun menggunakan linux mint yang bahkan sengaja tidak diupdate untuk keperluan sehari-hari. 

Jika kita mau jujur, kenyataan itu benar-benar menampar kedua pipi kita yang selama ini beranggapan bahwa linux itu sulit, ribet, harus pakai terminal, harus update ini itu dan segudang alasan yang sekarang menurutku merupakan konyol karena tidak mau belajar.
Sebagian dari kita mungkin masih menggugat, OS dan software memang legal, lalu bagaimana dengan MP3 atau film di dalamnya? Jika masih ada orang yang ngotot soal ini, aku hanya akan tertawa. Ya, tertawa untuk menertawakan orang yang hanya berujar tanpa punya tidakan nyata. Tahukah kau, tidak perlu mengejar kesempurnaan untuk sebuah perubahan, langkahkan saja kakimu dan buat perubahan semampumu.

Hari ini aku adalah orang paling bahagia, mungkin inilah rasanya ketika Tenzin atau ayahnya, Avatar Aang menemukan pengndali udara selain dirinya. Dan inilah saatnya untuk aku melanjutkan harapanku.
Bagikan:

Sunday, 23 August 2015

Friday, 19 June 2015

Senyum Terakhir Karlina (Bagian 3 End)

Semalaman suntuk aku sulit untuk sekedar melelapkan diri. Kupandang awang-awang, yang tampak hanya bentangan kain hitam dengan beberapa gumpal kapas mendung yang mengapit rembulan. Harus jujur kuakui, aku terbayang wajahnya. Namun, apa ini? Aku tak boleh jatuh hati pada dia. Aku tak boleh menghianati sesorang yang tersenyum untuk nun di Jawa sana. Ah, entahlah . . . Aku tak mau berlarut-larut memikirkannya, kan kubiarkan bayang seorang Karlina menguap dengan sendirinya, karena aku tak ingin memaksakan diriku untuk melupakannya.

Saat pagi kembali, rupanya itu adalah hari penutupan PPSN IV tahun 2015. Tak terasa, cepat nian kegiatan ini usai. ”Kenang-kenangan untukmu dan Kak Ovi aku titipkan pada Anis, anak Jawa Tengah” pesan singkat Karlina di pagi yang masih temaram itu.

“Iya... makasih Lin...”

“Nilainya nggak seberapa sih, Ram. Tapi, disimpen aja ya...”

“Iya, pasti kusimpan...”

“Jangan lupakan aku ya, Ram!”

“...” untuk permintaan ini sebenarnya aku agak kikuk untuk menjawabnya. Kautahu, aku benar-benar takut jatuh hati pada gadis Kalimantan Selatan itu.

“Permintaanku sulit ya?”

“Eh... enggak, kok... Iya kamu kan temenku LIn, insyaallah aku bakal ingat kamu saat sampai di Jawa nanti...”

“Makasih lho, Ram...”

Usai percakapan singkat melalui SMS, ternyata Tuhan masih mengizinkan kami untuk bertemu. Dan dalam pertemuan di tepi jalan, dekat baliho depan lapangan itu, gantian aku yang memberikan kenag-kenangan kecil buat Karlina. Kuberikan padanya, sebuah pengikat hasduk bertuliskan, “Pramuka, Generasi Anti Galau” ungu. Sudah sepatutnya merah putih diikan dengan semangat bukan dengan pemuda-pemuda yang gampang berputus asa dan bergalau ria saat tertimpa masalah.

Seketika, Karlina memasang pengikat hasduk itu di kerudunnya. Ia tersenyum kembali ke arahku, lalu pergi bersama salah seorang temannya untuk suatu hal yang tak begitu aku pedulikan saat ia ucapkan.

Langit begitu cerah pagi itu, meskipun awalnya tetes gerimis silih berganti menghujam tubuh di subuh tadi. Alhamdulillah, saat pengumuman juara, Kontingen Jawa Tengah berhasil meraih 5 buah tropi kemenangan. Itu adalah jumlah terbanyak dan membawa kita menjadi juara umum PPSN IV 2015 di Banjarmasin Kalsel.

Usai upacara penutupan, kamu berjalan beriringan sambil melantunkan yel-yel kemenangan dengan penuh suka cita, dan saat hendak meninggalkan bumi perkemahan, sekali lagi aku bertemu dengan Karlina.

Aku bertemu dengannya saat hendak menuju ke base camp Jateng. Aku dan Karlina sempat ngobrol singkat sambil berjalan menuju base camp. Kulepaskan topi merah-putih yang kukenakan dan kupasangkan ke kepala Karlina. Ia nampak kaget dan spontan memegang topi itu soealh-olah merapikan penampilannya. Kami berdua terdiam, lalu tersenyum bersamaan dan di pertemuan terakhir itu, ia mengambil gambar kita berdua dengan hendphone-nya, dan . . . berakhirlah pertemuanku denga Karlina, pertemuan singkat yang berhasil mengubah mindsetku ihwal suku Dayak di Kalimantan.

Semua tentang Karlina masih tersimpan di hatiku, namun mau tak mau aku harus memegang komitmenku untuk menjaga hati seseorang yang kusayangi nun di sana. Seseorang yang mungkin juga saat ini sedang membaca tulisan ini, I miss you!

Baca Cerita sebelumnya
Bagian 1
Bagian 2
x
Bagikan:

Sunday, 14 June 2015

Malam Terakhir dengan Karlina (2 dari 3 Bagian)


Pertemuan singkatku dengan Karlina, berlanjut menjadi hubungan pertemanan yang cukup akrab. Tentu saja, kami hanya berteman dan tak lebih dari sekedar itu. Sehari usai perkenalanku itu, iseng-iseng aku menawarinya untuk berkenan mampir ke tenda yang letaknya paling ujung di kelurahan IV. Aku pikir tawaranku itu akan ditolaknya dengan bahasa halus sebagaimana orang-orang pada lazimnya. Ternyata dugaanku salah, Karlina justru dengan senang hati bersedia untuk mampir ke tendaku bersama seorang temannya. Amboi, betapa bingungnya aku waktu itu, apa lagi saat itu tenda masih dalam keaadaan kurang rapi. Dengan sikap sigap dan cepat segera kuminta teman-teman sanggaku untuk merapikan tenda, malu kan kalu tenda berantakan disinggahi tamu.
Rupanya benar, siang itu Karlina datang bersama seorang adik didiknya bernama Nia. Aku dan Kak Ofi, menyambutnya dengan lagu selamat datang khas anak-anak pramuka. Secangkir teh hangat kusuguhkan pada mereka berdua, sedang Kak Ofi malah menyuguhkan permainan puzle yang membuat mereka berdua berpikir keras.
Di sela-sela itu, kami ngobrol ringan sambil sesekali saling meledek astu sama lain. Ya, jujur saja terkadang ledekan yang dibumbui dengan canda dapat mengakrabkan orang-orang yang bahkan baru berkenalan sekalipun.
Lin, kamu orang Kalimantan asli ya?” tanyaku dengan wajah datar.
Iya...”
Oh... pantesan...”
Pantesan apa, Ram?” tanyanya agak penasaran.
Wajahmu kinclong banget, mirip batu akik yang baru digosok” ucapku pelan yang akhirnya menimbulkan tawa orang-orang yang duduk di teras tenda.
...” ekspresi kecewa bercampur dengan ekspresi menahan tawa menghiasi wajah manis Karlina.
Usai menemukan jawaban puzle yang diajarkan oleh Kak Ofi dan ngbrol “ngalor-ngidul” nggak tentu arah, Karlina dan Nia pun berpamitan. Hari itu, langit Tanah Laut Banjarmasin nampak begitu cerah mengiringi kepergian mereka berdua.
Awalnya, aku pertemuanku di siang menjelang sore itu adalah pertemuan terakhirku dengan Karlina, kenalan perempuanku yang pertama kali di PPSN IV, ternyata dugaanku salah.
Di malam terakhir PPSN IV, aku masih sempat bertemu dengan gadis keturunan suku Dayak itu. Ya, kami berjumpa di lapangan utama saat acara pentas seni perpisahan. Aku dan dia saling berkirim balas pesan menyampaikan tempat kami berdua duduk, awalnya aku tengok kanan kiri berkali-kali lanataran tak tahu pasti ihal posisi yang ia sampaikan melalui sms terakhirnya. Namun setelah sepersekian menit, kordinat tempat duduknya pun dapat kutemukan, dan ngobrollah lagi kita di sana.
Kami tak berduaan kok, karena di sana kami duduk bareng teman-teman bahkan gurunya Karlina.
Kamu nggak ke bazar, Ram?” tanya Karlina di antara obrolan kita malam itu.
Pengen sih, aku pengen nyari kain batik khas Kalimantan Selatan sini”
Owh, batik Sasirahan . . . ya udah ntar bareng aja, kita juga mau ke sana kok...”
Ehm... boleh, ntar aku tolong bantuin nyari ya, Lin...”
Okey...”
Sebelum pentas seni benar-benar usai, aku, Karlina, dan rekan-rekannya beranjak dari lapangan menuju ke tempat bazar. Karena ini malam terkhir, mungkin rekan-rekan Karlina juga hendak belanja oleh-oleh, sama sepertiku.
Kau tahu, aku agak canggung jalan dengan Karlina. Bukan apa-apa, aku jadi teringat yang di rumah, yang bahkan aku tak pernah mengajaknya jalan. Tak pernah sama sekali. Sialnya, tak jarang keadaan jalan yang sempit terkadang membuatku terpaksa berjalan dengan Karlina dengan jarak yang amat dekat.
Maaf Lin, bisa agak jaga jarak kan?”
Aha... kenapa? Ingat yang di rumah ya?” ucapanya menggoda.
Iya, nggak enak sama yang udah nunggu di rumah”
Untunglah Karlina mengerti posisiku dan status hubunganku, jadi hatiku sedikit lebih tenang. Aku tak ingin ada hati yang merasa kecewa usai pertemuan ini.
Aku, Karlina dan rombongan yang lain sempat berpencar. Ditengah perjalanan, kami jumpai Kak Ofi dan Kak Kholis sedang asik mencoba kacamata di depan si penjual sambil bertanya-tanya entah tentang apa.
Ram, kamu tunggu sini dulu ya... aku mau kesana dulu sama Nia, ntar aku balik ke sini lagi...” ucap Karlina setengah berlari. Dari wajahnya ia nampak tergesa-gesa dan tiba-tiba aku merasa kepergiannya itu akan lama.
Karena terlanjur mengiyakan permintaan Karlina untuk menunggunya, aku pun menepati ucapanku, dan benar rupanya, ia pergi lama sekali. Sambil menuggunya kembali, kusempatkan berbincang dengan penjual batu akik yang berada di pinggir bazar depan toko kacamata tempat Kak Kholis dan Kak Ofi berdiri tadi.
Masih nunggutemen adik yang tadi ya?” tanya penjual batu itu di sela-sela pembicaraan.
Iya, pak”
Pacar adik ya"
Bukan, kok!”
Lah dia orang Kalimantan kan?” selidiknya.
Iya, dia asli Kalsel, pak”
Wah-wah suatu saat pian pasti balik lagi kemari”
Loh, kenapa emangnya?”
Sudah mitos dik, apa lagi adik kayaknya kecantol sama gadis yang pakai jaket tadi...”
Ah, bapak ngaco aja ...”
Sudahlah, itu tak penting sebenarnya... ini, belilah batu yang ulun jual ini buat oleh-oleh keluarga pian di rumah sana...”
...?”
Tak terasa hampir setengah jam aku menunggu, akhirnya aku coba menghubunginya lewat pesan singkat, dan balasannya sungguh mengejutkan...
Maaf, Ram. Temenku tadi terpeleset dan jatuh nggak bisa bangun lagi, ini aku lagi perjalanan ke rumah sakit”
Aku terdiam, menatap rembulan yang bersinar di atasku sambil menarik pnjang napasku. Mungkin, inilah pertemuanku yang benar-benar terakhir dengan Karlina.
(Bersambung...)
Lanjut Membaca Bagian Akhir
Bagikan:

Saturday, 13 June 2015

Senyum Karlina di Antara Bumi Perkemahan (1 dari 3 Bagian)


Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) memang telah usai, namun kisah dan kenangan tentang PPSN masih berlanjut dan tersimpan di hati kita masing-masing. Pada postingan ini, aku akan menceritakan padamu tentang kenalan—yang sekarang menjadi teman baikku—dari Kalimantan Selatan.
Bila boleh kukatakan, anginlah yang membawaku padanya. Bukan, bukan maksudku berlagak sok puitis atau apalah itu, namun memang begitulah adanya. Jika kau ada waktu, duduklah sejenak untuk menyimak kisah kecilku ini.
Pada itu, cuaca cukup panas, namun mendung dan gumpalan awan hitam masih setia mengintai di langit-langit Banjarmasin. Cuaca di sini memang sulit untuk di tebak, hujan dan panas bisa datang tiba-tiba tanpa permisi terlebih dahulu. Akibat dari perubahan cuaca yang spontan itu, angin-angin kencang nakal tak jarang menyapa tenda-tendang yang telah kami pancangkan di bumi perkemahan Agro Wisata Tanah Laut.
Angin yang cukup kencang datang pada hari ke-4 PPSN, akibatnya beberapa tenda dan gapura tampak roboh lantaran diterjang bayu, termasuk di antaranya tenda-tenda anak putri.
Karena kedekatanku dengan kakak Pinkonda (Pimpinan Kontingen Daerah) sore itu juga, aku diajak untuk ke camp putri buat bantu-bantu ngecek sekaligus jaga-jaga kalau arek putri butuh bantuan tenaga untuk membenahi tenda mereka.
Pinkonda yang mengajakku itu bernama Ofi. Jangan salah kira, namanya memang mirip cewek, tapi itu nama doank. Kak ofi orangnya seru, tak jarang aku dan Kak Ofi saling bertingkah konyol di depan anak-anak lain, tak terkecuali anak putri.
Senja telah tiba, aku dan Kak Ofi berjalan berdua memeriksa tenda demi tenda kontingen Jawa tengah Putri sembari bertanya-tanya untuk sekedar mengakrabkan diri. Di tengah perjalanan, kami menjumpai satu sangga yang tenda tamunya ambruk.
Ram, beresin...” perintah Kak Ofi Hamuza sambil nunjuk tenda yang tersimpuh lunglai tak berdaya.
Sendirian?”
Iya tho ya... yang lama ya, aku tak ngobrol dulu sama anak-anak Kalsel”
Sangga yang tendanya aku perbaiki itu memang bersebelahan dengan kontingen tuan rumah, Kalimantan Selatan, yang kebetulan sebagian penghuni tendanya sedang asik bercanda dan bernyanyi di depan teras tenda. Sambil melihat Kak Ofi bercanda dengan mereka-mereka, dengan sigap dan cepat aku pun membenahi tenda tamu yang terobohkan oleh angin itu, dan dalam sekejap... berdirilah kembali tenda kuning itu dengan gagahnya.
Usai membenahi tenda, aku segera menggabungkan diri dalam canda yang telah Kak Ofi buat dengan arek-arek Kalsel. Sesekali Kak Ofi memberikan permainan dan tebakan seru namun membingungkan dan sulit dipecahkan oleh rekan-rekan Kalsel.
Coba tebak, berapa nyamuk yang saya bunuh” ujar Kak Ofi yang disambung dengan tepukan kedua telapak tangannnyayang seolah olah menangkap nyamuk.
Lima!” ucap sesorang dari mereka yang aku lupa namanya.
Salah, berapa ada yang tahu...” sambung Kak Ofi bersemangat dengan permainan tebak nyamuknya.
Dua! Dua nyamuk!” teriak seseorang dari dalam tenda yang sejurus kemudian terbuka sampingnya karena kain tendanya diangkat oleh seseorang yang tersenyum manis di bawahnya.
Yupz, betul... siapa namanya tadi yang jawab?”
Kak Lina” teriak teman-teman Kalsel menjaab pertanyaan Kak Ofi.
Sejenak kami pun ngobrol bersama di tenda kontingen Jawa Tengah putri itu, dengan sesekali aku mengayunkan tanganku untuk sekedar membunyikan gitar yang kupinjam dari anak Kalsel.
Kak Ofi nggak haus” tanyaku.
Haus sih, tapi dari tadi nggak ada yang bikinin minum...” sindirnya
Wah, sore-sore gini asik nih kak kalo ada yang mau bikinin kopi hangat”
Oh, Kak Rama sama Kak Ofi mau kopi?” tanya Karlina “bentar ya...” sambungnya
Sambil menunggu Karlina membuatkan kami kopi, aku dan Kak Ofi melanjutkan berkeliling untuk pengecekan terlebih dahulu. Setelah semua dipastikan beres, kami kembali ke tenda tadi dengan suguhan kopi buatan Karlina.
Percayakah kau, hampir-hampir saja senyum Karlina menculik hatiku yang selama ini aku jaga untuk seseorang yang telah menantiku sana. Sepotong senyum dari wajahnya yang manis itu benar-benar menikam hatiku, dan membuat rembulan malam seolah menjelma wajahnya. Apa lagi usai kejadia malam itu. . . Ah! Aku harus mampu manjaga hati. . . (BERSAMBUNG...)

Lanjutkan Membaca Bagian ke-2
Bagikan: