Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Sunday, 27 December 2015

Rasa yang Kembali


Beberapa waktu yang lalu, seseorang teman yang baru saya kenal menemui saya di kampus. Ia datang dengan membawa sebuah laptop berwarna hitam yang ia kabarkan rusak. Dalam hal ini saya ingin menyebutnya sedang bermasalah. Ya, bukan rusak. Haha, alasan subjektif sebenarnya, karena di otak saya sebuah perangkat dikatakan rusak jika tidak dapat digunakan sama sekali. Orang Jawa biasanya mengistilahkannya dengan, “mati pletes!”.

Kehadiran laptop yang sedang bermasalah tersebut sedikit banyak melengkapi perumpamaan yang sempat terngiang di kepala saya, “Pucuk dicinta, ulam pun tiba”. Mengapa? Karena sehari sebelum teman saya itu datang, saya telah mengunduh distro favorit yang selalu menjadi favorit saya dan baru saja dirilis, apa lagi kalau bukan Linux Mint 17.3 Rosa.

Maka, setelah memeriksa permasalahan yang terjadi pada laptop teman saya tadi, saya mengindikasikan bahwa sistem operasi yang terpasang telah mengalami corrupt file system. Sok tahu? Ya, saya memang sok tahu. Apa salahnya? Toh yang terjadi memang demikian. 
 
“Bagaimana Ram, bisa?” tanya teman saya dengan wajah mulai cemas.
 
“Kamu butuhnya kapan?”
 
“Nanti sore, Ram. Aku harus presentasi tugas nanti, dan file-nya ada di situ”.
Aku tangkap wajahnya makin cemas. Dari kecemasannya itu, aku mengira bahwa file ada di laptop ini memang cukup penting dan harus segera diselamatkan.
 
“Ok, gini aja. Ini file-nya bisa aku ambi. Namun untuk memperbaiki laptop ini seperti semula, aku sedikit butuh waktu. Karena kalau mau install Windows yang ori harus nunggu bapak yang di DSDI datang”.
 
“Harus yang dari DSDI ya, Ram?”
 
“Setidaknya, kalau mau yang legal. . . maka jawabnya, iya!”
 
“Nggak ada alternatif lain yang lebih cepet?”
 
“Ada sih, tapi aku nggak yakin kamu setuju?”
 
“Apa?”
 
“Pakai Linux, seperti laptopku.” 
 
Ah, iya . . . panggil saja temanku dengan sebutan Putri (bukan nama sebenarnya, karena dia malu kalo namanya ditulis). Putri pun sejenak memperhatikan laptopku dan beberapa kali melakukan aktivitas kecil seperti membuka web browser, smplayer, writer, dan beberapa hal lainnya.
 
“Ini Linux . . . ,” belum sempat aku menjawabnya, ia menyambung ujarannya, “bagus kok, emang kenapa kalau Linux?” aku sempat tersentak dengan responnya tersebut. 
 
“Ya. . . , barangkali saja kamu nggak suka atau gimana gitu.”
 
“Nggak beda jauh sama Windows kan?”
 
“Sebenernya nggak sih.”
 
“Ok, pasang itu aja deh. Yang penting bisa dipakai, ntar kalo nggak bia aku kontak kamu ya!”
 
“Sip!”
 
Alhasil, aku pun memasang Rosa yang kemarin aku unduh ke laptop hitam tersebut. Secera tidak langsung sebenarnya aku juga ingin mereview performa Rosa pada laptop celeron dengan RAM 1 GB, dan frekuensi 1,4 GHz itu.
 
Sesekali aku perlihatkan tampilan awal Rosa pada Putri saat berjalan pada mode Live USB. Ia menggut-manggut melihat apa yang terjadi pada laptopnya. Dan spontan, wajahnya terlihat ceria ketika kutunjukkan file presentasinya dalam keadaan sehat wal afiyat dan siap ditampilkan nanti sore.
 
“Ram, misalnya nih . . . Tampilannya kamu ganti kaya Windows, bisa? Kalau nggak ngrepotin sih.”
 
Aku hanya mengangguk. Meskipun aku belum pernah mengubah tampilan Linux ke tampilan Windows, karena alasan selera dan apa ya . . . kupikir bahwa Linux punya sejuta tampilan yang lebih menarik, lagi pula tampilan Windows bukanlah standar untuk tampilan desktop, menurutku. Pun demikian, karena ini permintaan, aku cukup bermodal yakin dapat melakukan apa yang ia minta, itu saja.
 
Singkat cerita, penginstalan selesai dan berjalan dengan lancar. Rosa yang kupasang tersebut menggunakan Cinnamon sebagai default desktop-nya. Sementara aku jalankan dan aku cek, alhamdulillah lancar. Beberapa update telah aku lakukan dengan bantuan UGM-Hotspot. Selain update, aku juga menambahkan beberapa aplikasi khusus, semisal WPS untuk menggantikan Libreoffice, smplayer dan audacious untuk pemutar medianya, XDM untuk download manager yang aku integrasikan dengan firefox, Wine untuk sekedar berjaga-jaga kalau dia membutuhkan dan sentuhan terakhir adalah mengubah wajah default Rosa ke wajah Windows 10.
 
Ah iya, aku sengaja mengganti Libreoffice dengan WPS karena aku pikir si Putri akan lebih familiar dengan interface WPS yang mendekati MSOffice dibandingkan Libreoffice. 
 
Sekali lagi, semua telah berjalan dengan lancar. Dan untuk tampilan Windows aku dapatkan dari gnoome-look.org. Lebih detailnya, melalui tautan http://gnome-look.org/content/show.php/Windows+10+Transformation+Pack?content=171327.
 
Sekitar satu jam setengah, semua sudah beres, aku pun menunjukkan hal-hal dasar padanya. Tentang password root, pengelola berkas, pengelola paket, serta cara shutdown tentunya, hehe.
 
Senyum pun mengembang dengan manisnya dari kedua belah bibir Putri. Ah, hampir lupa kuceritaan, sebelum ia pergi aku memasang pada laptopnya aplikasi teamviewer agar dapat me-remote deksktop-nya jika sewaktu-waktu diperlukan.
 
Saat browsing tentang tampilan Windows 10 untuk Linux, aku menemukan sebuah artikel yang menarik berbahasa Inggris tentang tweak desktop cinnamon. Sepertinya, aku harus kembali keduniaku. Ya, berbagi dan belajar open source, setelah beberapa bulan vacum lantaran pentas yang jadwalnya beruntun nan bertubi.
 
Ketika melihat begitu nyamannya laptop Putri berjalan dengan Rosa, tiba-tiba aku jadi ingin memasangnya di laptopku. Haha, iya, laptopku saat ini masih berjalan dengan Freya dan Rafaela. Pada mulanya, aku menggunakan Rafaela saja. Namun karena sering dioprek, Rafaela jadi agak berat dan aku menemukan Freya yang ternyata jauh lebih ringan. Didorong kebutuhan untuk segera menyelesaikan tugas kuliah yang mulai menumpuk, akhirnya aku pasanglah Freya bersandingan dengan Rafaela. Kau tahu, mungkin itulah yang selayaknya kusebut sebagai cinta. Meski aku tahu bahwa Rafaela tak sesempurna dulu, dan aku telah menemukan yang lebih baik (lebih ringan dan responsif), hatiku tetap tak mampu berpaling dari keluarga Mint. Dan sekarang, perasaan itu tumbuh lagi. Apakah aku harus memungkasi tahun ini dengan kembali ke pelukan linuxmint?
Bagikan:

Wednesday, 23 September 2015

Ketika Rafaela Cemburu Pada Freya


Pada kumandang takbir Idul Adha semalam, aku akhirnya memutuskan untuk menduakan Rafaela. Ya, setelah cukup lama berpikir dan menimbang ini itu, aku pun mempersiapkan mental untuk membagi hati (baca: partisi) untuk menginstall Freya. 

Mengapa Freya dan bukan yang lain? Cukup panjang sih ceritanya, namun tak apalah sambil berbagi cerita dengan rekan-rekan pengguna Linux yang lain.

Jadi gini, aku pribadi adalah pengguna lama Linux Mint. Setidaknya aku sudah mengenal Mint sejak Julia dilahirkan (rilis). Julia adalah pendamping hidup (distro) yang mendampingiku selama beberapa waktu. Dari Julia inilah aku mendapatkan banyak pengalaman berharga, termasuk juga pengalaman remastering distro.

Aku memang sering bergonta-ganti distro awalnya, namun entah mengapa hatiku mengatakan bahwa Julia dan saudara-saudaranya, Katya, Lisa, Maya, Nadia hingga Rafaela adalah pendamping hidupku yang terbaik. Selain karena kecantikan dan ketidak-rewelannya, dukungan komunitas yang ada juga cukup membantuku untuk bertahan dan nggak pernah move on dari Mint.

Namun belakangan ini aku merasa Rafaela agak kurang vit. Aku sebenarnya maklum, karena aku adalah pacar yang selalu memforsir kehidupannya. Bagaimana tidak, aku memaksa Rafaela untuk menuruti semua nafsu dan egoku, dan ia tak pernah menolak keinginanku itu. Ah, tidak. . .  Ia pernah sekali menolak saat aku ingin mendandaninya dengan Pantheon. Ia bilang, “Baju itu tak cocok buatku, Ram. Maaf. . .”. Aku pun tak bisa berbuat apa-apa, karena kenyataannya Rafaela malah sakit (crash) ketika aku paksakan berdandan dengan Pantheon.

Rafaela-ku memiliki banyak fitur tambahan. Ia adalah pacar yang hebat dan tangguh. Bagaimana tidak, ia memiliki berbagai macam jenis desktop. Mulai dari Cinnamon (aslinya), Mate, Xfce, KDE, LXDE, Openbox, Fluxbox, dan Enlightenment. Selain itu, aku juga sering bermain-main dengan terminalnya, mengaktifkan fungsi-fungsi efeknya, hingga coba-coba bermain dengan metasplot, nmap, wireshark dkk, yah. . .meskipun hanya sekedar coba-coba, tapi aku harus mengakui bahwa Rafaela adalah pasangan paling pengertian yang pernah kumiliki.

Ah iya, beberapa waktu yang lalu, karena aku terobsesi dengan film Bloody Monday, aku pun akhirnya mendandani Rafaela sehingga mirip dengan komputer si Falcon. Sekali lagi thanks, ya Rafaela kamu udah mau ngertiin kemauanku.

Namun, di sisi lain, aku merasa Rafaela tak segesit dulu saat pertama kali kami berjumpa. Semua ini memang salahku, namun aku juga tak bisa terus-terusan menyalahkan keadaan dan diriku. Apalagi sekarang tugas mulai banyak. Sempat terbesit dalam pikiranku untuk mengulangi semua hubungan ini dari awal, namun aku takut. Aku takut Rafaela tak setuju. Aku takut kalau dia beranggapan cintaku padanya mulai luntur, padahal tidak. Aku masih menyayanginya.

Diam-diam aku melakukan uji coba beberapa distro. Mulai dari Ubuntu, Kali, Fedora, OpenSuse, hingga akhirnya EOS Freya. Entah mengapa tiba-tiba hatiku tertaut begitu saja saat menjalankan Freya melalui USB. Ia begitu memesona, pikirku. Setelah cukup lama aku berkenalan dan jalan-jalan (mencoba fitur-fitur bawaannya), kuberanikan diri untuk bilang pada Rafaela, “Ela, aku ingin mencarikanmu teman. Kenalkan, namanya Freya. Ia yang akan membantumu mendampingi hidupku”.

Airmata Rafaella menetes perlahan. Ia hanya terdiam, dan aku kikuk dengan segala yang terjadi ini. Maafkan aku Rafaela, aku tak ingin terus-terusan menyakitimu, aku tak ingin terus-terusan memaksamu untuk menuruti egoku. Percayalah, aku akan senantiasa bersamamu.

Usai instalasi, aku nyalakan ulang komputer. Dan ternyata Rafaela benar-benar ngambek, merajuk plus cemburu. Dia tidak mau meload GRUB milik Freya. Akhirnya aku bicara padanya secara baik-baik melalui terminal. Melalui terminal tersebut, aku katakan padanya, “sudo update-grub” dan dia memintaku untuk membisikkan password root dan akhirnya ikhlas juga Rafaela meload GRUB Freya. Thanks Rafaela. I love you!

Kau tahu, Freya memang cantik. Namun, dia agak sedikit manja. Ia tak seperti Rafaela yang sekali install langsung dapat digunakan kerja secara normal. Usai jadian dengan Freya aku harus membayar sekian ratus MB untuk membuatnya dapat bekerja maksimal.

Beberapa hal yang aku lakukan pasca jadia dengan Freya adalah menghidangkakan browser lain padanya, menambahkan codec, SMPlayer, synaptic (karena aku nyaman kalo pakai synaptic), WPS, XDM, Gedit, men-tweak beberapa fiturnya dan tak lupa menyapa terminalanya dengan sapaan, “sudo apt-get dist-upgrade”.

Tapi tak apalah. Toh sekarang aku sudah punya jadwal khusus dalam berkencan. Untuk urusan tugas-tugas kuliah aku serahkan pada Freya, karena dia masih gesit. Kalau untuk keseharian, dan belajar lain-lain aku tetap akan menggenggap jemari kekasih terbaikku, Rafaela.
Bagikan:

Tuesday, 22 September 2015

Rusman dan Rusmini Oleh: Rania el-Amina

Rusman tetap kukuh pada pendiriannya. Ia ingin tetap menjadi penulis. Meskipun dirinya tahu kualitas tulisannya tak mampu bersaing di media masa mana pun. Baginya menulis adalah panggilan hidup yang tak semua orang mampu menjalaninya. “Ini adalah takdirku!” tandasnya dalam hati.

Ia memang gemar menulis sejak kali pertama jatuh cinta pada Rusmini, teman sebangkunya semasa SMA. Di sela-sela kegiatan belajar mengajar, Rusman tak pernah absen menuliskan sekian bait puisi untuk memikat hati Rusmini. Tak jarang pula, ia diam-diam menyelipkan sepucuk surat cinta ke dalam buku tugas Rusmini saat jam istirahat.
Perbuatan Rusman yang dilakukan secara diam-diam itu tak selamanya mulus. Pernah suatu ketika, surat yang diselipkan di buku tugas Rusmini ketahuan Bu Leli, guru Bahasa Inggris yang tengah mengajar saat itu. 

Rusman dan Rusmini pun dibuat malu bukan kepalang. Karena surat yang ditulis Rusman itu dengan cukup lantang dinarasikan Bu Leli di depan anak-anak. Akibatnya, hampir seisi SMA menjadikan kejadian Selasa siang itu buah bibir di lingkungan sekolah.

Akibat kejadian itu pula, Rusmini yang awalnya mulai tertarik pada Rusman seketika balik kanan membenci Rusman. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Namun Rusman tak pernah menyerah. Dan barangkali itu pula yang akhirnya membuat Rusmini mau menikah dengan Rusman.

Mereka menikah setahun setelah lulus kuliah. Meski berbeda jurusan, Rusman mengambil konsentrasi sastra sedang Rusmini mengambil akutansi, kebiasaan Rusman menulis surat cinta tetap berlanjut. Jika dikatakan lulus, sebenarnya kurang tepat. Karena yang lulus kuliah hanyalah Rusmini, sedang Rusman tak melanjutkan kuliahnya karena harus merawat ibunya yang mulai sakit-sakitan sebelum akhirnya meniggal dunia.

Kehidupan lelaki berkumis tipis itu pun boleh dibilang sederhana. Kesehariannya hanya diisi dengan menulis dan berjualan buku di toko milik temannya. Penghasilannya yang tak seberapa itulah yang digunakan untuk menyambung hidupnya hari demi hari sampai akhirnya ia menikah dengan Rusmini.

Berbeda dengan Rusman, Rusmini memiliki latar keluarga yang cukup mapan. Alamarhum ayahnya adalah pengusaha kayu Kalimantan yang cukup terkemuka di Jawa. Dan setelah lulus dari bangku perkuliahan, Rusmini bekerja sebagai teller sebuah bank swasta di Semarang. Kehidupan mapan yang jauh berbeda dengan Rusman, rupanya tak mengahalangi perasaan cinta untuk tetap tumbuh di hati Rusmini. Akhirnya, bulan pertengahan bulan Juli pun jadi saksi dua sejoli itu mengikat janji suji di pelaminan.

Kehidupan rumah tangga Rusman berjalan biasa-biasa saja. Semua kebutuhan hidup tercukupi oleh gaji yang diterima Rusmini sebagai seorang teller. Sayang, hingga pernikahan mereka menginjak lima tahun, perut Rusmini belum juga ada isinya.

“Apa sayangmu akan berkurang karena aku tak bisa memberimu keturunan?” tanya Rusmini penuh iba.

Rusman tersenyum sambil membelai rambut panjang Rusmini. Ia tatap dalam mata istrinya dengan penuh kasih.

“Kamu adalah pelengkap hidupku. Asal kamu masih di sisiku, aku tak pernah merasa kekurangan suatu apapun”

“Apa kamu tak rindu kehadiran seorang anak?”

“Apa arti rindu pada anak bila istriku bersedih dan aku tak bisa berbuat apa-apa. . .”

Mereka pun akhirnya larut dalam buaian mesra sepasang suami istri. Cumbuan, lenguh dan keringat adalah hal yang selalu mengeringi perjalanan panjang mereka dalam menemukan suara tangis bayi. 

***

Kabar tentang dollar yang menembus Rp. 14.000 menjadi kabar buruk bagi keluarga Rusman. Akibat dari melemahnya nilai rupiah itu bank tempat Rusmini bekerja terpaksa harus mem-PHK puluhan karyawannya, dan nama Seta Rusmini termasuk ke dalam daftar karyawan yang di-PHK.

Satu-satunya sumber pemasukan keluarga pun lenyap. Sementara ini hanya sisa gaji bulan kemarin dan uang pesangon dengan jumlahnya tak seberapa itu yang Rusmini andalkan untuk mengepulkan asap di dapur.

“Kita tak lagi punya apa-apa. . .” 

“Kita masih memiliki satu sama lain, aku milikmu dan aku memiliki dirimu, Rusmini.”

“Tapi uang kita mungkin tak cukup hingga bulan depan.”

“Kebahagian kita tidak bergantung pada jumlah uang di kantong. Lihat sisi baiknya, sayang.”

“Aku tak tahu sisi baik mana yang kau maksud, Mas.”

“Kita jadi punya banyak waktu untuk terus bersama. Kamu tak perlu lagi terburu-buru bangun pagi untuk pergi ke kantor yang kini telah membuangmu. Dan kita semakin punya banyak waktu untuk menghadirkan suara bayi di ruangan ini.”

Rusmini tersenyum. Ia selalu merasa begitu tenang bila mendengar Rusman menghibur dirinya. Ia akui bahwa Rusman memang lihai dalam mengatur kata dan mengambil hatinya melalui tulisan-tulisannya.

“Mengapa kau tak coba mengirim karya-karyamu ke media?”

“Mereka tak akan mau menerima karyaku.”

“Mengapa, kan belum dicoba. . .”

“Media itu kejam, mengirim karya ke mereka tak ubahnya dengan berjudi, yang mereka butuhkan bukan keindahan namun penghasilan.”

“Kita pun perlu penghasilan. Coba saja . . .”

Rusman tak lagi punya pilihan. Apa yang dikatakan istrinya ada benarnya. Ia memang tak pernah sekali mengirimkan karya-karyanya ke media masa sebagaimana yang sering dilakukan oleh rekan-rekannya. Dalam hatinya selalu terbesit ketakutan bahwa karyanya hanya akan menjadi sampah di meja redaksi.

***

Keadaan benar-benar memaksa Rusman untuk mencari uang. Terlebih saat istrinya jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Dari keterangan dokter, Rusmini harus menjalani operasi pada bagian paru-parunya. Celakanya ongkos rumah sakit tidaklah murah apalagi gratis. Prinsipnya tentang karya yang menjadi sampah di meja redaksi benar-benar di uji. Kali ini mau tidak mau ia harus bermain judi dengan redaktur media untuk mengembalikan kesehatan istrinya. Mengorbankan prinsip yang selama ini digenggam terlalu kuat. Demi satu-satunya orang tercinta dalam hidupnya, Rusmini.

Rusman pun segera bergegas mengumpulkan semua karya-karya yang dibuatnya sejak SMA. Ia pilih karya-karya yang menurutnya terbaik untuk dikirim ke berbagai media masa. Ada sekitar tujuh puluh cerpen yang ia kirim ke lima belas media masa berbeda. Mulai dari koran lokal, koran nasional, majalh hingga tabloid. Kali ini Rusman benar-benar menggantungkan harapannya pada karya-karya yang pernah dibuatnya, sebab Rusman tak memiliki keahlian lain selain menulis.

Tiga hari setelah pengiriman karyanya, beberapa surat penolakan mulai berdatangan mengiris hati Rusman. Untuk pertama kalinya Rusman merasa tercabik-cabik hatinya. 

“Redaktur kampret! Apa mereka tak mengerti sastra! Mengapa semua karyaku ditolak semudah ini!” umpat Rusman saat membaca surat penolakan yang di terimanya pagi itu.

Pikiran Rusman benar-benar kalut. Di telinganya terngiang ucapan dokter yang mengatakan bahwa bila Rusmini tak segera dioperasi maka nyawanya tak akan dapat diselamatkan. Beberapa barang di rumah telah terjual, termasuk alat-alat elektronik yang dimiliki Rusman untuk biaya rumah sakit. Satu-satunya harapan yang dimiliki Rusman adalah setumpuk karya-karyanya yang rapi disimpan di almari.

Karena terlalu kalut, Rustam pun tak dapat berpikir jernih lagi. Kali ini ia berjudi lagi dengan karya-karyanya. Ya, semua karya yang dimilikinya di kirimkan ke semua media masa yang ia ketahui. Berbeda dengan yang pengiriman karya beberapa hari yang lalu, Rusman menambahkan kalimat ancaman di bagian akhir surat pengiriman karyanya.

“. . . Kalau karya-karyaku tak dimuat dalam tiga hari, aku bersumpah akan bunuh diri. Dan itu semua karena KAU!”

Rusman kian terpukul dan kehilangan akal sehat saat dokter mengabarkan bahwa nyawa istrinya tak dapat tertolong. Padahal rumah seisinya telah tergadaikan untuk biaya operasi. Lelaki berbadan kurus itu shock berat karena ditinggal mati orang yang dicintainya. Akal sehatnya benar-benar hilang, dan akhirnya ia pun nekat mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri setelah membakar semua karya-karyanya.

Jasad Rusman yang tergantung di tali pertama kali ditemukan oleh seorang tukang pos yang hendang mengantar surat-surat untuk Rusman. Surat-surat yang isinya tawaran kontrak kerja dan penerbitan karya-karya yang telah dibakarnya. 

Yogyakarta, 27 Agustus 2015

Rania el-Amina
Bagikan:

Monday, 7 September 2015

CINTA SEJATI CINDERELLA by: Rania el-Amina

Dalam kehidupan nyata, aku tergolong orang yang biasa-biasa saja. Tak ada keistimewaan yang memberikan nilai lebih pada diriku. Bahkan tak jarang aku mengutuki diriku sendiri lantaran tak ada satu pun hal yang dapat aku banggakan. Di dunia ini, mungkin hanya kedua orang tuaku lah yang pernah memujiku dengan tulus.
Hingga usiaku 21 tahun, aku belum pernah sekali pun merasakan bagaimana indahnya cinta. Teman-teman sepermainanku menjulukiku fakir cinta. Aku tak marah, aku juga tak sedikit pun membenci mereka. Setidaknya aku tahu, apa yang mereka katakan itu ada benarnya. Dan mau tak mau aku memang harus mengakui kekuranganku itu. 
Dua tahun terakhir hidupku seolah menjadi tak ada artinya. Setelah kedua orang tuaku meninggal karena tabrak lari, aku memutuskan untuk tak melanjutkan lagi kuliahku. Tentu saja banyak hal yang memaksaku memilih berhenti kuliah, salah satunya adalah karena hidup ini selalu memilik tarif harga yang selalu naik.
Sekarang aku tinggal di rumah peninggalan orang tuaku di pinggiran Kota Yogyakarta. Rumah ini adalah peninggalan yang penuh dengan kenangan. Satu hal yang pasti tak akan kulakukan adalah menjual rumah ini. Karena menjual rumah ini sama artinya menjual kenangan dan kisah hidupku kepada orang lain.
Sejak kecil ibuku selalu mengantar tidurku dengan berbagai dongeng yang dimilikinya. Aku suka mendengarkan dongeng, meski pada akhirnya aku tahu bahwa dongeng sebenarnya adalah bualan belaka. Namun aku tetap suka dibohongi dengan kisah-kisah yang dituturkan ibuku.
“Bisa aku bertemu dengan Cinderella?” tanyaku suatu malam pada ibu.
“Mengapa Aldi ingin bertemu Cinderella?” ibuku menjawab dengan sebuah pertanyaan.
“Aku ingin ditemani Cinderella.”
“Nanti kalau Aldi sudah besar, Aldi pasti akan menemukan Cinderella milik Aldi.” tuturnya begitu lembut.
“Apa semua orang punya Cinderella?”
Wanita dengan keriput di sekitar matanya itu tersenyum lalu meangagguk. Meyakinkan diriku yang saat itu masih berusia 8 tahun bahwa suatu hari nanti aku akan bertemu Cinderella. Namun hingga ibuku meninggal, aku tak pernah bertemu dengan Cinderella. 
Kegilaanku pada tokoh Cinderella tak berhenti pada masa kecilku. Bahkan hingga kini pun aku masih mengidolakan perempuan cantik yang terkenal dengan sepatu kacanya itu. Barangkali itu pula yang membuat diriku tak bisa mencintai seorang wanita lagi, hatiku telah terisi dengan sosok cantik bernama Cinderella. Aku jatuh cinta padanya.
Mungkin kau beranggapan aku gila, sinting, kurang waras atau apalah itu. Namun satu hal yang belum pernah kau ketahui dari diriku adalah aku mempunyai satu keberuntungan yang tak pernah dimilik orang lain. Bahkan aku belum menceritakan hal ini pada siapa pun selain engaku. Tahukah kau, aku pernah bertemu dengan Cinderella di dunia nyata, bahkan aku pernah mecumbunya dan bercinta dengannya pada suatu malam.  
                                                                      
                                                                         ***

Di suatu malam dengan gerimis yang merintik, samar-samar aku mendengar suara tangisan seorang perempuan. Malam itu udara memang cukup dingin untuk membuatku betah berselimut. Namun suar tangis perempuan di malam itu benar-benar mengusik dan membuatku penasaran.
Aku singkap perlahan gorden jendela kamarku dan memperhatikan keadaan di luar rumah. Seketika mataku tertuju pada seorang perempuan yang duduk di bangku panjang depan rumahku. Hantu? Aku tak terlalu percaya pada hal seperti itu. Hidup ini terlalu rumit untuk memikirkan hal yang tak jelas macam hantu.
Gerimis masih merintik. Dengan tergesa-gesa aku turun dari lantai dua rumahku dan segera mendekati gadis itu. Setelah jarak kami hanya kurang dari tiga meter, kuberanikan diri untuk menyapa si pemilik tangis itu.
“Kamu sedang apa di sini?” aku agak gugup.
Perempuan itu masih menangis dan sejurus kemudian menoleh ke arahku. Ia hanya terdiam, namun dapat kutangkap garis kebingungan di raut wajahnya yang canti itu.
“Di luar sini dingin, gerimis pula. Bagaimana kalau kita masuk saja?” tawarku.
Ia masih terdiam menatapku, “Tenang, aku bukan orang jahat kok. . .” ucapku sembil melempar senyum yang dibalas dengan lembut angukan kepala.
Ia berjalan begitu gontai. Seolah-olah tak lagi punya tenaga untuk sekedar melangkahkan kakinya. Dengan hati-hati aku pun menuntunnya menuju rumahku, lalu membantunya untuk duduk di ruang tamu. Aku pun segera mengambil selimut hangat dan segelas teh hangat untuk tamu yang tak kukenal itu.
Ada hal aneh yang aku rasa saat pertama kali melihat wajahnya. Aku merasa pernah melihat gadis ini dalam hidupku. Namun kapan dan dimana, otakku masih belum menemukan jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut.
“Boleh aku tahu namamu?” aku memulai percakan di malam yang terus larut itu.
“A... aku Cinderella.”
Seketika aku tertawa lepas. Sedang gadis itu tetap terdiam seolah heran dan ingin tahu apa yang aku tertawakan.
“Ada yang aneh dengan namaku?”
“Namamu mirip tokoh dongeng yang sering aku dengar sejak kecil.”
“Aku memang berasal dari dunia dongeng”
“Kau bercanda kan?”
“Aku serius!”
“Lalu, bagaimana kau bisa sampai di sini? Apa benar dunia dongeng itu ada?” wajah seriusnya membungkam tawaku, meskipun hatiku masih memungkiri eksistensi dunia dongeng.
Cinderella pun akhirnya bercerita lepas tentang perjalanan panjang yang mengantarkan dirinya sampai ke dunia nyata. Rupa-rupanya ia diusir dari istana lantaran kehilangan sepatu kaca ajaibnya. 
“Kau tahu kan, hanya dengan memakai sepatu itu aku akan menjadi cantik, dan tanpanya Pangeran tak mengenali siapa aku meski kami sudah hidup bersama cukup lama.” jelasnya.
“Itu konyol sekali dan tak masuk akal.”
“Dunia dongeng memang tak pernah memiliki rasionalitas jelas, bukankah kau tahu akan hal itu?”
Aku tertegun dan baru kembali menyadari bahwa apapun bisa saja terjadi di dunia dongeng. Bahkan hal-hal yang tak masuk akal sekali pun. Sangat berbeda dengan duniaku yang selalu bergantung pada kausalitas.
“Apa kau ingin kembali ke duniamu?”
“Tentu saja, namun aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Bisakah kau membantuku . . . eh, siapa namamu?”
“Aldi. Namaku Aldi. Aku tak yakin bisa membantumu, namun baiklah aku akan mencari cara agar kau dapat kembali ke dunia dongeng. Sekarang sebaiknya kau beristirahat, sudah lewat tengah malam.”
“Iya.”
Ia pun beristirahat di kamar lantai satu. Itu adalah kamarku semasa kecil. Satu hal yang baru kusadari memang dialah tokoh yang selama ini aku impikan. Aku menyadari hal itu saat aku masuk ke kamar lamaku dan menjumpai beberapa poster Cinderella berukuran besar di dinding kamar. Cinderella sempat kaget dan bertanya tentang poster tersebut, dan aku kikuk menjawabnya.
 
                                                                      ***
 
Malam terus berlanjut mengusung pagi. Mataku tak terpejam semalaman. Hatiku berdegup tak beraturan. Ada hal aneh yang menderaku dan itu tak bisa aku jelaskan. Aku selalu terbayang wajah Cinderella. Belum pernah aku mengalami kegelisahan yang membingungkan seperti ini.
Kegelisahan itu terus berlanjut hingga surya menyapa pagi. Aku tak seditik pun terpejam, namun tiada kantuk kurasa. Dengan terburu-buru aku turun menuju kamar Cinderella. Saat di depan pintu kamar, kudapati ia sedang melihat keluar jendela dengan wajah yang disirami sinar pagi. Aih, cantik sekali gadis ini.
“Sudah bangun rupanya. . . .” sapaku yang sepertinya membuyarkan lamunannya.
“Aldo, apakah di sekitar sini ada hutan?” pertanyaan itu seolah-olah spontan terlontar begitu saja dari Cinderella.
“Eh, hutan? Ada sih, mau ke hutan? Ngapain?”
“Aku harus bertemu Ibu Peri. Dia tinggal di hutan”
“Ibu Peri? Ini dunia nyata, dan peri itu hanya ada di dunia dongeng”
“Sudahlah, kita coba saja dulu. Bawa aku ke hutan.”
Aku pun tak dapat menolak permintaannya itu. Alhasil, setelah aku memintanya untuk berganti baju--aku memintanya memakai baju ibuku--kami pun berangkat menuju hutan di sepanjang jalur Solo-Jogja. 
“Ini kamu bilang hutan?” ujarnya saat sampai di hutan pinggiran Yogyakarta.
“Iya, kenapa?”
“Aldi . . . Ibu Peri itu tinggal di hutan yang lebat, dia nggak akan mau tinggal di hutan yang pohonnya jarang-jarang seperti ini.”
Aku menangkap raut kekecewan di wajah Cinderella. Namun, “Di sini, hutan memang seperti ini adanya.” ucapku pelan.
“Sudahlah, tak mungkin rasanya mengharap keajaiban pada kegersangan hutan seperti ini.” ia benar-benar kecewa dan mengajak pulang begitu saja.
Sejujurnya, aku tak ingin ia cepat-cepat kembali ke negeri dongeng, tempat ia berasal. Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya bertemu dengan orang yang selama ini kau impikan dan bahkan hanya gara-gara kau mengimpikannya orang-orang di sekitarmu memnganggapmu kurang waras. Dan sekarang orang yang kau kagumi itu ada dihadapanmu, bisa kau perhtikan dengan jelas bibirnya yang tersenyum bahkan menyentuh kulitnya yang begitu lembut.
“Tetaplah di sini, Cinderella.” spontan kalimat itu meluncur begitu saja tanpa kusadari saat Cinderella melangkah masuk rumah.
“Apa maksudmu?”
“Tetaplah di sini, kau tak perlu kembali ke negeri dongen untuk sekedar mencari kebahagiaan semu.”
“Apa maksudmu kebahagiaan semu? Lagi pula aku tak punya alasan untuk tinggal di duniamu”
“Ada! Aku akan jadi alasan agar kau tinggal di sini.”
“Aku tak mengerti, Aldi”
“Aku mencintaimu, Cinderella. Aku mencintaimu sejak usiaku 8 tahun hingga hari ini.”
“Tapi bagaimana dengan pangeran, dia adalah jodohku. . . “
“Dia tidak mencintaimu, cintanya hanya omong kosong belaka”
“Apa! Tutup mulutmu, kau tak tahu apa-apa soal pangeran!” Cinderella mulai bicara dengan nada yang cukup tinggi, pertanda ia muali emosi.
“Coba kaupikir sekali lagi, dia hanya mengenalmu saat kau memakai sepatu ajaib itu saja, dan saat kau kehilangan sepatumu, dia sama sekali tak mengenalimu, apa itu yang kau namakan cinta?”
“Tapi . . .”
“Jika memang pangeran bodoh itu mencintaimu, dia seharusnya mau menerimamu dengan atau tanpa sepatu kacamu yang hilang itu. Tapi apa kenyataannya? Dia tidak menerimamu apa adanya kan? Cinderellah, cintamu dengan pangeran hanyalah dongeng belaka, dan akulah cintamu yang sejati”
Cinderella terdiam. Perlahan-lahan air mata meleleh dari kelopaknya. Membasahi pipinya yang putih bersih itu. Dan tanpa aku duga, tiba ia memelukku. Ia memelukku erat sekali sambil meluapkan tangisnya. Aku pun membalas pelukan itu. 
“Kau benar, Aldi. Sepertinya hidupku di negeri dongeng, termasuk cintaku hanyalah sandiwara belaka. Itu hanya kebahagiaan semu. Terima kasih telah menyadarkan diriku” ucapnya di sela-sela tangis, “Apa kau benar-benar mencintaiku, Aldi?”
“Dunia ini saksinya.”
Cinderella melepas pelukannya dan menatapku begitu dalam. Hatiku berdegup tak berirama. Mataku seolah telah tertau erat dengan matanya hingga tanpa kami sadari, kedua bibir kami juga ikut bertaut seolah tak ingin lepas. Dan tentang apa yang terjadi selanjutnya, ah tak perlu kuceritakan. Cukup kau bayangkan saja.

 
Suatu Malam di Yogyakarta, 26 Agustus 2015
Rania el-Amina
Bagikan:

Wednesday, 27 May 2015

Rama dan Rania (Bag. II End)

Terlalu asik memperhatikan permainan gitar akustiknya, membuatku terlena dan lagu yang ia nyanyikan kandas sebelum reff yang kedua. Agaknya Rania menyadari kehadiran diriku.reflek aku buru-buru menghadap ke bawah, menoleh ke kiri, kanan sambil menundukkan kepala seolah mencari barangku yang -tak- hilang.
“Nayla, sedang apa? Mencari sesuatu?” selidik Rania.
“Ah, tidak Ran. Kukira tadi ada barangku yang jatuh, mungkin cuma perasaanku aja, maklum lagi banyak tugas.”
“Benar...?”
“Hmm...” aku mengangguk. “Kamu suka lagu barusan?” ucapku mengalihkan perhatian.
“Oh, lagu tadi... Kamu dengerin aku ya?” jawab Rania sambil membuat senyuman, namun tak selang berapa lama wajahnya pasi.
“Iya, tadi dari luar, samar-samar aku dengar suaramu Ran” kudekati Rania, “gitarmu bagus.” sambungku.
Rania terdiam, ia malah tertunduk lesu sambil mengelus tabung resonansi gitar abu-abu yang masih di pangkuannya itu.
“Kenapa Ran? Kok jadi masam gitu wajahnya?”
“Kamu tahu Nay, ini adalah satu-satunya benda paling berharga yang masih kumiliki.”
Aku kurang mengerti dengan maksud Rania, alhasil aku hanya mengeryitkan dahi sebagai isyarat ketidak pahamanku.
“Iya Nay... aku punya kenangan tersendiri dengan gitar ini, sebuah kenangan kelam yang memberiku sebuah pelajaran berharga tentang arti sebuah persahabatan. Satu kenangan yang membuatku berani melangkah sampai hari ini.” Tuturnya sambil meneteskan bening air mata.
Agaknya peristiwa yang dialaminya begitu dalam dan menyedihkan. Aku jadi tak tega untuk melanjutkan.
“Ma... maafkan aku Ran, aku tak bermaksud mengungkit masa lalumu, aku tak ingin kau sedih”
“Nggak apa-apa Nay, suatu hari nanti kau pasti tahu, dan semoga kau masih mau berteman denganku pada hari itu”
“Iya! Pasti! Kita akan berteman selamanya. Jika butuh teman, datang saja padaku. Ada aku untukmu Ran.”
Aku berusaha menghiburnya, namun Rania justru malah langsung mendekapku, sebuah dekapan hangat dari seorang sahabat.
“Makasih Nay.” Bisiknya lirih.
Aku senang Ram, Rania mau mempercayaiku, tapi....
Rama,
Sebenarnya ada satu alasan lain yang membvuatku mengirim surat ini padamu. Aku ingin kau tahu apa yang tengah berkecamuk di batin sahabatmu ini. Mungkin aku bisa menebak pendapatmu, namun aku mohon Ram, berikan aku sebuah solusi,beri aku jalan keluar.
Rama, aku bingung sekali dengan apa yang sedang berlaku pada diriku. Aku tak ingin menjalani perasaan terlarang ini. Ya Ram, aku terlanjur mencintai Rania,menyayanginya lebih dari sekedar sahabat. Aku yakin engkau pasti tahu bagaimana perasaan-perasaan membingungkan yang menderaku saat ini. Tolonglah Ram, berikan aku titik terang agar aku terhindar dari dosa ini. Aku bahkan tak pernah berpikir bagaimana aku bisa mencintai sesama jenisku sendiri. Aku ingin tahu pendapatmu soal ini, dan tolonglah... Tolong bantu aku  keluar dari kegelapan ini.
Sobat,
Aku rasa cukup ini dulu cerita lepasku. Sebenarnya masih belum tuntas cerita yang ingin kusampaikan, namun tak apa, setidaknya lekaslah kau balas surat ini. Aku butuh saran darimu.

Sekian
Sahabat kecilmu
Nayla Prasilia.

Rama kembali melipat kertas merah jambu yang kini berpindah ke tangan kirinya dengan wajah penuh kerisauan. Bibirnya tampak bergetar mencoba untuk bertutur, namun tak ada sedikit pun suara yang mengapung di udara terdengar.
“Nayla, haruskah aku jujur bahwa Rania adalah diriku? Haruskah aku mengatakan, bahwa aku mengikutimu ke kota beberapa hari setelah keberangkatanmu? Aku mencintaimu Nay.” bisik Rama lirih.
Debur ombak masih saling bersahutan. Rama berdiri meninggalkan bibir pantai yang kini diselimuti kain malam. Tak tampak lagi pasir yang ditempatinya tadi, hanya jejak langkah tak beraturan yang pergi menjauh meninggalkan pantai dalam nyanyian ombaknya. Jejak yang mewakilkan kerinduan pada seorang sahabat masa lalu.


*Lirik lagu peterpan, “Jauh Mimpiku.”
Bagikan:

Tuesday, 26 May 2015

Rama dan Rania (Bag. I)

Matahari mulai merapat ke pangkuan senja, perlahan sinarnya mulai memudar. Dari balik rimbun pohon, sedikit cahaya masih berbias agak menyilaukan. Hingga akhirnya samar-samar oranye kemerahan menyeruak, mewarnai batas lautan nun di sana.
Rama masih tampak duduk terkapar di bibir Pantai Harapan. Berkali-kali gelombang laut berusaha menggapainya, namun sekalipun tidak pernah berhasil. Dengus ombak sore itu hampir seirama dengan desir kesedihan yang menggelombang di hatinya. Dengan segunung kerinduan yang menjulang, mata sembabnya masih meraba kertas merah jambu yang sedari tadi digenggam dengan tangan kanannya. Sepucuk surat dari sahabat masa lalunya, Nayla Prasilia.
Rama dan Nayla adalah sepasang sahabat sejak masih dalam bualan bunda. Kebersamaan mereka terjalin dengan baik karena rumah mereka hanya berjarak sepuluh langkah orang dewasa, begitu dekat. Tujuh hari dalam seminggu, tiada sehari pun berlalu tanpa kebersamaan Rama dan Nayla. Kebanyakan orang yang baru mengenal Rama atau Nayla, selalu beranggapan bahwa mereka berdua adalah saudara -kakak beradik-. Dimana ada Rama di situ ada Nayla. Meski umur mereka hanya selisih sebelas hari, namun badan Rama terlihat tumbuh lebih besar dari Nayla, jadi wajar saja jika orang-orang berpikir Rama adalah kakak dari Nayla.
Selain karena rumah mereka yang berdekatan, kebersamaan mereka berdua terjalin begitu baik lantaran sejak TK bahkan hingga SMA, Rama dan Nayla selalu duduk sebangku. Pernah suatu hari ketika Nayla diminta oleh guru kelas empat SD-nya untuk bertukar tempat duduk dengan Dewi -teman sekelas Rama dan Nayla- Ia malah langsung menangis histeris. Rama pun sebenarnya juga sempat meneteskan air mata ketika itu, hanya saja ia tak sampai menangis layaknya Nayla, gengsi barangkali. Melihat itu, akhirnya sang guru pun membiarkan Rama dan Nayla tetap duduk sebangku, dan tersenumlah mereka berdua.
Kebersamaan iyu terus berlanjut hingga masa remaja menghampiri mereka berdua. Sungguh keindahan persahabatan yang begitu indah dari Tuhan. Sebuah jalan yang seolah sangat terencana.
Sebenarnya, dalam hati Rama, sedikit demi sedikit telah mulai tumbuh benih-benih cinta pada Nayla, namun ia selalu saja mencoba untuk memalingkan dirinya dari perasaan yang menyesakan dada itu. Rama selalu berusaha untuk tetap menganggap Nayla sebagai adik sendiri walaupun pada akhirnya selalu saja gagal.
Tiada hari tanpa kebersamaan Rama dan Nayla. Persahabatan yang mereka jalin begitu sempurna, dan barangkali itulah yang membuat hati serta perasaan Rama begitu terpukul ketika harus berpisah dengan Nayla.
Ya, selepas SMA, Naylapergi meninggalkan tanah kelahirannya. Ia hendak melanjutkan studinya ke sebuah universitas di kota sana. Sebuah perpisahanyang tak pernah mereka rencanakan, terbayang pun tidak.
Rasa pilu kembali datang, menerpa bersama angin yang terlahirdari gulungan ombak, dengan agak terbata-bata Rama mulai mengeja kembali surat yang dikirim oleh sahabat karibnya, dari Nayla.



2 November 2011
Rama Edo 6
di Pantai Harapan

Salam sobat, salam tasbih pantai harapan yang selalu riang bergembira menggelorakan ketenangan.
Tak akan berhenti aku berdo’a untuk kesehatan dirimu. Aku selalu berharap semoga setiap langkahmu, serta hembus nafasmu selalu disertai oleh ridha-Nya, juga rekah senyum bibirmu tak pernah kuncup sekalipun badai pilu menghantam pikiran dan sinar mentari yang menjelma rindu, amat menyengat kalbu, melahirkan perasaan yang membebah dalam rasa yang belum bisa tersatukan.
Sobat,
Bersama selaut rindu yang bergelayut, aku mencoba menggoreskan pena yang akan berkabar tentang jauh jarak yang membentang di antara kita berdua, tentang keadaanku di kota baru yang aku singgahi ini. Sebuah kota yang mempertemukanku dengan seorang perempuan yang amat baik padaku. Seseorang yang begitu dalam menyayangiku, selayaknya dirimu. Namanya Rania, Rania inilah yang memperhatikan aku selalu, orang yang selalu ada untuk menemaniku. Rama, aku sempat berfikir bahwa Rania adalah seorang Rama yang lain, Rama dalam wujud seorang perempuan. Namun tentu saja tidak, karena Rama adalah sahabatku yang tiada duanya di dunia ini.
Tentang Rania, dia adalah satu-satunya teman baru yang cepat akrab denganku. Aku sendiri sempat merasa heran, sebab semenjak  pertama jumpa ketika OSPEK, ia selalu memperhatikan diriku, aku sering sekali menangkap basah dirinya ketika sedang memandangku. Alhasil, memerahlah wajahnya.
Rama, kupikir pertemuanku dengannya bukanlah sebuah kebetulan , garis tuhan menurutku. Sebab entah bagaimana, hari ini Rania menjadi teman satu fakultasku, teman satu kelas dan teman ketika pulang-pergi kuliah. Ya, rumah Rania tak jauh jaraknya dengan rumah yang aku tinggali, jadi kami berdua selalu menghabiskan waktu bersama.
Rania juga memiliki hobi yang sama denganmu, memetik gitar dan bernyanyi. Dan kau tahu lagu kesukaan Rania? Yaps, lagu yang sering kau nyanyikan bersamaku ketika kita masih bersama adalah lagu favoritnya. Dia itu mirip sekali denganmu, mungkin itulah sebabnya aku lekas akrab dengan Rania. Ia membuatku merasa nyaman ketika bersamanya. Aku sering bercerita tentangmu padanya, namun Rania selalu saja tak percaya dan menganggapku mengada-ada. Ah, ingin rasanya kupertemukan kalian berdua, supaya Rania percaya bahwa di dunia ini ada seseorang seperti dirinya, hanya saja seorang lelaki.
Belakangan ini aku sering bercerita pada Rania, saat aku bersedih atau dalam masalah, ialah muaraku dalam meluapkan keluh kesah. Hampir semua posisimu terwakilkan oleh kehadirannya.
Bukan, bukan maksudku hendak menggantikan kau dengan orang lain, sebab tak akan ada seorangpun yang mampu menggantikan posisimudi hatiku tidak akan Ram. Kaulah sahabat terbaik yang kumiliki di dunia ini. Hanya kau, Rama.
Sobat,
Pernah suatu ketika aku tanpa sengaja melihatnya sedang memetik senar gitarnya sambil mendendangkan sebuah lagu. Meskipun agak samar terdengar, aku kenal benar lagu yang sedang ia nyanyikan. Itu lagu kesukaanmu.
Pernah kusimpan jauh rasa ini
Berdua jalani cerita
Kau ciptakan mimpiku
Dan itu hanya sesalkan diriku
Kau ciptakan mimpiku
Jujur ku hanya sesalkan diriku
Kuharus lepaskanmu
Melupakan senyummu
Semua tentangmu tentangku
Hanya harap jauhku
Jauh mimpiku
Bagikan:

Saturday, 23 May 2015

Cinta Pertama Ayda (end)

Hari pernikahanku kian dekat namun sikap ayda masih dingin padaku. Beberapa kali kucoba menyapa, mengajak makan atau sekedar mengajak keluar dari kamar untuk jalan–jalan. Tapi, ia selalu menolak tanpa berucap satu pun kata. Hanya menggeleng lalu pergi meninggalkanku begitu saja.
Tentang Ruwayda ini aku belum berani bercerita pada siaapa pun, termasuk pada ayah–ibu apalagi Mas dani. Aku khawatir keresahan akan menghampiri mereka. Jadi, aku lebih memilih diam dan menyimpan rapat permasalahan ini.
Sayangnya kelihaianku menutupi masalah ini tak berlangsung lama. Sebab tak selang berapa lama, ibu mulai curiga terhadap kami. Apalagi kesehatan ayda yang secara drastic menurun, kian menguatkan kecurigaan ibu. Pun tahu demikian, tampaknya ibu juga memilih untuk diam terlebih dahulu sembari membawa Ayda ke rumah sakit untuk diperiksa keadaannya.
Keadaan kian memburuk saat dokter memberikan keterangan tentang penyakit Ayda. Menurut dokter infeksi saluran pernafasan akut yang di idap Ayda sejak kecil mulai kambuh lagi dan cukup parah. Ditambah lagi infeksi pada lambungnya akibat makan tak teratur menjadikan tubuh ramping Ayda terbaring tak berdaya.
Kabar itu membuat ayah dan ibu tersentak. Keadaan Ayda yang memburuk ini, bisa jadi akan menghambat rencana pernikahanku, bahkan mungkin terancam gagal! Karena tak mungkin aku berbahagia di atas kepedihan adikku.
* * *
Kalender bulan Januari telah menunjuk angka ke–17. Tepat sehari sebelum acara pernikahan sebagaimana yang tercantum di undangan yang telah disebar. Namun kepastian akan hari esok masih jadi mesteri bagiku.
Sejak sore kamarin Mas Dani menemaniku menginap di rumah sakit. Karena keadaan kian rumit seperti ini, mau tidak mau aku terpaksa menceritakan semua tentang Ayda pada Mas Dani, termasuk keadaannya.
Adikku sendiri masih belum sadar sejak tiga hari kemarin. Di hidungnya masih tertempel selang oksigen untuk membantunya bernapas. Sejujurnya aku amat prihatin melihat keadaan adikku. Ia begitu teriksa karena cinta pertamanya.
“Ada yang bernama Dani ?” Tanya seorang suster mengagetkan aku, ayah, ibu serta Mas Dani yang duduk di bangku koridor.
“ Saya, sus…” ucapan Mas Dani.
Suster tersebut memberi isyarat pada kami untuk masuk ke ruangan Ayda. Sebenarnya syarat itu lebih khusus ditujukan pada Mas Dani. Namun rasa khawatir telah menutup jalan pikir kami.
“Mas Dani…Mas Dani…” setengah sadar Ayda menyebut nama kekasihku berulang – ulang.
 “Iya Ayda, Mas ada di sampingmu.” ucap Mas dani sambil menggenggam telapak tangan Ayda yang tersambung dengan selang infus.
“Maafkan Ayda … Ayda jatuh cinta pada Mas Dani …” ucap Ayda lemas dan terbata–bata.
Mas Dani melempar pandangannya ke arahku. Semua yang ada di ruangan terdiam. Aku sendiri tak tahu harus bagaimana. Yang mampu kulakukan hanya menahan tangis dan memundukkan kepalaku, mencoba menyembunyikan kegelisahanku.
“Ayah, ibu, Ayda ingin pulang sekarang. Ayda ingin melihat Mbak Rindi menikah dengan Mas Dani.”
“Tapi Ayda belum sembuh …” ucap ayah lembut.
“Percayalah. Ayda tak apa–apa. Ini permintaan Ayda...”
Aku tetap dalam diamku. Akhirnya ayah meminta pertimbangan dokter yang bertugas saat itu. Dan dengan segala pertimbangan, dokter pun mengijinkan Ayda pulang malam itu juga. Dan menjalani rawat jalan.
* * *
Adzan Isya' telah berkumandang. Bersamaan dengan kepulangan kami dari rumah sakit. Dengan amat hati–hati aku dan Mas Dani membantu Ayda berjalan menuju ke kamarnya untuk beristirahat.
Rupanya segala acara pernikahan telah dipersiapakan dengan baik oleh keluarga Mas Dani. Tinggal menghitung jam saja aku akan mendengar lafal ijab–Kabul diucapkan. Sayangnya bukan bahagia yang kurasa malah kebimbangan dan kegusaran yang kudera.
“ Ayah, ibu… Mas Dani ..” kebimbanganku angkat bicara, seketika semuanya menoleh namun terpatung diam.
“ Ijinkan Rindi … menyerahakan hari bahagia besok untuk Ayda…”
“ Maksud kamu apa Nduk?” Tanya ayah
“Mas Dani nikahilah Ayda…”
Senyap menyelimuti ruangan kami berbincang
“Adik bercanda kan ?”
“Adik serius Mas!, Bahagiakanlah Ayda! Demi aku, Mas.”
“Tapi Dik …
“Rindi yakin …?” Tanya ibu
“Insyaallah, ini pilihan Rindi … dan Mas, kumohon kabulkanlah permintaan ini, demi cintaku pada Mas…”
Mas Dani tampak linglung. Ia tamapak belum dapat percaya apalagi menerima tentang apa yang baru saja aku ucapkan.
“Rindi tahu ini berat. Tapi, ini untuk kebaikan kita semua. Biarkan saat Ayda bangun nanti ia menjadi pengantin untuk Mas Dani.”
Kekasihku itu pun tertunduk diam sebelum akhirnya berkata dengan suara yang cukup lirih, “Baiklah.”
“Kamu yakin, Nak ?” ayah memastikan. Dan Mas Dani cukup menjawab dengan sekali anggukan kepala.
* * *
Di rumah Mas Dani, segala persiapan telah sempurna. Di pagi yang masih hangat itu merdu terdengar lagu “Pengantin Baru” yang diputar berkali–kali.
Dengan wajah sedikit pasi, Ayda nampak begitu anggun dengan pakaian putih khas mempelai wanita. Jilbab dengan warna senada dengan pakainya turut mempercantik wajah oval manisnya.
Meski hatiku masih sesak dengan semua ini, namun kucoba untuk tetap tersenyum sambil membantu adikku berjalan menuju tempat dilaksanakannya ijab–kabul.
Beberapa tamu undangan nampak bingung mendapati kejadian ini. Tentu saja hal itu wajar, karena yang tertulis di undangan adalah namaku dan Mas Dani, bukan Ruwayda Anjani, adikku. Namun, hal itu tak sedikit pun berpengaruh pada keteguhanku.
“Dik, maafkan aku …” undang Mas Dani sambil menatap mataku cukup dalam.
“Sudahlah, mungkin semua ini memang jalan dari Allah mulai sekarang panggil aku “Mbak” bukan “Dik” lagi …”
“…”
“Sudahlah… Dani, ikhlaskan hatimu, bukankah kamu yang dulu mengajariku tentang keikhlasan menerima takdir?” kuhela napasku panjang.
“Iya dik… eh … Mbak Rindi … Insyaallah, do’akan aku.”
Aku bersyukur, orang tua Mas Dani dapat dengan legawa menerima semua ini. mereka adalah orangtua yang amat baik.
“ Sudah siap, Pak ?” Tanya Kiai Yusuf, teman Ayah Mas Dani yang akan menjadi penghulu pernikahan adikku hari ini.
“Iya Kiai, silakan dimulai.“ ucap pak Harun, Ayah, Mas Dani.
Mas Dani dan Ayda duduk berdampingan menghadap sebuah meja kecil yang tepat menghadap ke arah Kiai Yusuf.
“ Sudah siap, Mas …?” Tanya Kiai
“ Insyaallah Kiai”.
“ Baiklah …”. Semua hadirin terdiam dan memakukan pandangan mereka pada Mas Dani dan Kiai Yusuf yang saling berjbat tangan.
“ Bismillahirrohmanirrohim…”
“Tunggu sebentar Kyai…” suara Ayda yang lemah itu memontong ucapan Kyai Yusuf.
“Maaf, belum selayaknya saya duduk di sini, silahkan Mbak Rindi …” Ayda mencoba berdiri dan seolah mempersilahkan diriku untuk mengantikan posisinya di sebelah Mas Dani.
Semua tamu terdiam memandangi kami
“Ayo Mbak …” ucap Ayda menyakinknku dengan seyuman manisnya.
“Tidak Ayda, Mbak sudah ikhlas kamu menikah dengan Mas Dani …”
“Sudahlah … Ayda lebih ikhlas lagi menerima Mas Dani sebagai kakak, bukan suami Ayda.”
Baiklah, sekarang aku lebih canggung dan bingung. Sejenak aku terdiam, termangu dengan segala yang berlaku belakangan ini. 
“Ayolah mbak... “ tangan Ayda meraih lalu menggenggam tanganku.
“Ayda keluar dari rumah sakit bukan untuk menikah, tapi Ayda ingin melihat mbak menikah dengan orang yang mbak cintai selama ini.”
Aku masih terdiam. Airmataku menetes hangat di kedua belah pipiku. Spontan kupeluk tubuh ringkih Ruwayda erat-erat. Beberapa tamu yang melihat kami tampak mengusap kedua matanya yang berlinang airmata pula.
“Mas Dani, ajak Mbak Rindi duduk.. ayo...” ucap Ayda sambil melepas pelukanku lalu tersenyum.
Tanpa menunggu lagi, aku langsung duduk di sebelah kiri Mas Dani. Sejurus kemudian, Kyai Yusuf kembali menggenggam tangan Mas Dani lalu mengucapkan lafadz ijab yang disambung dengan lafadz qobul yang diucapkan dengan lancar oleh Mas Dani.
“Bagaimana saksi, sah?” tanya Kiai Yusuf pada para saksi pernikahan.
Dan semuanya serempak menjawab “sah”. Terima kasih Ya Allah, aku tak tahu harus dengan apa kuungkapkan kebahagianku ini.
Kiai Yusuf kemudian melantunkan do'a yang cukup panjang usai aku mengecup tangan Mas Dani. Semua hadirin ikut mengucapkan, “amin” dan mengangkat kedua tangannya. Termasuk Ayda. Namun....
Usai berdo'a keperhatikan tangan Ayda tak ia usapkan pada wajahnya sebagaimana lazimnya orang berdo'a.
Kedua tangannya masih mengatup menjadi satu di pangkuannya. Ayda tak bergerak, matanya juga masih terpejam. Oh, Ya Allah....!

                                                                                                            Rania el-Amina

                                                                                                            3 September 2014
Bagikan:

Sunday, 17 May 2015

Cinta Pertama Ayda



Pada ini, aku tak bisa mengurai dan menjelaskan apa yang kurasakan. Hatiku terasa sesak. Segala rasa benar–benar telah membelengguku. Senang bimbang, sedu, sedih, dan rasa tak percaya melebur lalu mengusik hatiku. Bahkan aku tak tahu apa nama perasaan ini, aku juga tak sanggup membendung airmata yang kini meleleh di pipiku. Ini airmata bahagia atau duka, aku pun tak mengerti.
            Dia kini sedang duduk di pelaminan, bersamaku. Bersanding sebagai sepasang pengantin yang ditaburi aneka warna bunga dan ucapan selamat dari semua orang yang dating memandang.
            Perkenalkan, lelaki dengan kumis tipis yang menggenggam jemariku ini adalah Mas Dani. Tiga belas tahun lalu ia adalah teman SMP-ku. Walau usianya beberapa bulan lebih muda dariku namun semenjak kita jadian ketika kelas VIII SMP aku telah terbiasa memanggilnya dengan sebutan “Mas” sebaliknya, ia memanggilku dengan sapaan “Dik”.
            “Apa kamu tak merasa geli dengan sapaan itu?” tanyanya suatu ketika.
            Aku hanya menggeleng dan tersenyum untuk menjawab pertanyaannya itu jujur saja kali pertama aku jatuh hati pada Mas Dani, entah mengapa hatiku seketika yakin bahwa ialah jodoh dari Tuhan untuku. Dan sekarang, harapanku di masa sekolah itu terbukti benarnya, setidaknya sekarang ia telah menjadi suamiku, imam dalam hidupku.
            Meski sempat berpisah namun perasaanku pada mas Dani tak pernah berubah. Ya tamat dari SMP, ia melanjutkan studinya di sebuah pondok pesantren di daerah Jawa Tengah, sedangkan aku menetap dan bersekolah di pinggiran kota Surabaya.
            Sesekali kami berkomunikasi melalui sepucuk surat yang saling berkabar tentang keadaan. Biasanya Mas Dni mengirim surat padaku di awal tiap–tiap bulan hijriyah dan itu adalah momen yang selalu kutunggu.
            Di pondok tempat Mas Dani belajar memang ada larangan keras membawa handphone jadi kami berkomunikasi dengan berkirim surat. Awalnya cukup merepotkan menurutku, namun lama–kelamaan, aku malah senang dengan cara ini. Lebih berkesan pikirku.
            Selama berpacaran Mas Dani tak pernah mengajakku jalan Bahkan menyentuh tanganku hanya sekali dua kali, itu pun juga ketika masih SMP dulu.
            “Aku tak mau menyentuhmu, karena aku mencintaimu, Dik. Mas mencoba menghargai Adik sebagai seorang wanita”. Jelasnya padaku saat ia bertandang ke rumah. Jawaban yang amat lugu, namun kian membuatku jatuh hati pada lelaki berkecamata itu.
            Mas Dani memang tak pernah mengajakku jalan sebagaimana lazimnya muda–mudi yang berpacaran, namun sebagai gantinya. Ia akan bertamu ke rumahku ketika ia punya cukup waktu di masa liburannya yang relatif singkat. Aku sendiri tak pernah mempersalahkan ihwal pertemuan yang jarang itu. Aku percaya meskipun Mas Dani berada nun di sana, ia akan tetap menjaga hatinya buatku, sebagaimana halnya yang kulakukan ini.
            Selama bertahun–tahun menjalani LDR--hubungan jarak jauh--kami tak pernah mendapat masalah yang menggangu hubungan kami. Justru hubungan kami malah mendapat ujian ketika suatu sore Mas Dani bertamu ke rumahku.
            Pada itu, langit mulai menguning. Burung di angkasa juga mulai beranjak pulang ke sarangnya. Suara nyaring kicaunya cukup ampuh untuk menentramkan jiwa–jiwa yang lelah carai bekerja.
            Sepulang dari berziarah di makam nenek, aku terkejutkan dengan sepeda motor biru yang parkir di depan rumahku sepeda, motor yang tentunya tak asing lagi bagiku. Tapi tumben sekali Mas Dani tak mengabariku kalau ia akan ke rumah. Diburu rasa penasaran, kukayuh sepeda onthelku lebih cepat dan …
            “Mas Dani …eh, assalamu’alaikum” ucapku gugup
            “Walaikumum salam”. Balasanya sambil terseyum ke arahku, “baru pulang. Dik?” lanjutanya.
            “Iya, Mas. Rindi tadi dari makam” jawabku sambil mengambil tempat duduk yang bersebrangan dengan Mas Dani.
            Dari ruang tengah, Ayda–adik perempuanku–datang dengan sepiring cemilan dan segelas es jeruk.
            “ Silahkan, Mas” ucapan Ayda lirih.” Mbak kok lama sekali kasihan kan Mas Dani nunggunnya …" sambung Ayda. Di sore yang cerah itu ibu juga ikut ngobrol dengan Mas Dani. Suasana amat cair, apalagi tampaknya ibu sudah tahu tentang hubunganku dengan Mas Dani yang selama ini aku sembunyikan dari beliau.
            Namun, ada hal yang tak biasa dan cukup membuatku merasa heran ketika melihat Ayda begitu terbuka apalagi bicara lepas. Baru kali ini aku melihat Ayda secerah ini. Perlu diketahui, usia Ayda dengan usiaku selisih dua tahun. Karena bersekolah di SMP yang sama, ia pun cukup mengenal Mas Dani, namun sikapnya amat acuh.
            Pernah suatu ketika saat aku hendak curhat pada Ayda tentang Mas Dani, eh dengan entengnya ia maleh berdiri lalu beranjak pergi begitu saja meninggalkanku.
            “Ayda ndak mau dengar cerita tentang Mas Dani, pasti intinya nanti juga sama.” ucapanya lirih dan sukses membuatku jengkel.
            Penasaran dengan “sifat barunya” ini aku pun langsung bertanya padanya usai Mas Dani berpamitan.
            “Tumben Ayda ramah banget kenapa?”
            “Ramah? Nggak ah biasa aja kok mbak.”
            “Hem … biasanya saja kalau dengar kata, Mas Dani langsung ngacir pergi.”
        “Ayda kan Cuma berusaha menerima calon kakak  ipar Ayda.” Ujarnya lalu tertawa dan menggalkanku masuk ke rumah.
            Semenjak kejadian itu sikap Ayda benar–benar berubah bahkan tak jarang ia bertanya padaku tentang mas Dani, ia juga sering bertanya kapan kekasihku itu akan mampir lagi ke rumah.
            Sejujurnya, aku merasa sedikit curiga pada Ayda, lebih tepat lagi khawatir kalau ia jatuh cinta pada Mas Dani. Ah, apa ini …aku cemburu pada adikku sendiri? Aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada diriku ini.
            Kucurigaanku pada Ayda rupanya benar terbukti walau ia tak mengatakan secara langsung dari gerak–geriknya aku tahu kalau ia sedang kasmaran, dan yang merisaukan hatiku, cinta pertama Ayda adalah kekasihku, Mas Dani.
            Saat sedang melamun, tanpa sadar jari telanjuknya bergerak seolah menulis kata “ Dani & ayda’ yang dilingkupi sekitarnya dengan garis berbentuk hati.
            “ Kamu ngapain Ay” tanyaku mengagetkannya
            “ Eh, Mbak Rindi. Nggak kok … nggak apa–apa ?”
             “ Jujur sama mbah, Ayda sedang jatuh cinta kan ?” terlaku spontan.
            Ia hanya menggeleng kepala lalu pergi ke kamarnya.
            Ah, Tuhan … kenapa ini ? aku tak mengerti mengapa aku begitu khawatir Ayda akau merebut Mas dani dariku? Bukankah selama bertahun–tahun ini hubungan kami baik–baik saja. Bahkan saat kuliah pun Mas dani mampu pula untuk menjaga hatinya untuku. Lalu, mengapa harus Ayda yang merenggangkan hubungan antara kami berdua?
            Hatiku kian bergejolak saat kutahu bahwa ayda sering menelfon Mas Dani sebelum ini, akau tak pernah menaruh sedikitpun rasa curiga pada Mas dani namun akhir – akhir ini hatiku tak bisa tenang. Setiap detik adalah ke khawatiran, kegelisahan serta kecungaan pada adikku sendiri, pada Ruwayda Anjani.
*  * *
            Dalam belenggu kecemburuan, aku mencoba meminta kejelasan dari Mas Dani memastikan ihwal hatinya kuteleponlah ia segera
            “ Tut …
“Iya Assalamu’alaiku ada apa dik?”
“ Mas …” suaraku tiba – tiba memberat dan menjadi sesak karena menahan tangis.
“ Dik … kok menangis kenapa? ada masalah?
“ … adik takut kehilangan Mas”
“Dik Rindi …adik tak percaya sama aku? Bukankah selama ini hatinya Mas sampean yang menjaga?
“Adik percaya, tapi …adik takut. Ini soal Ayda Mas!
“ Ayda kenap ?
“ Ayda jatuh cinta pada Mas Dani.”
“ Ha … ha… yang benar saja. Jangan ngomong yang tidak–tidak ….” Mas Dani terdengar tak percaya dengan ucapanku .
“Rindi serius Mas!”
“Dik, percayalah … cinta mas Cuma buat Rindi seorang bukan yang lain, termasuk Ayda.” Ucapanya tegas.
Mendengar hal itu, hatiku menjadi agak lega. Setidaknya aku bisa kembali membangun keyakinan bahwa Mas dani benar – benar tak punya perasaan khusus pada Ayda.
“Mas Dani …” ucapan lirih
“Iya dik …”
“ Nikahi aku, Mas”
Pernikahan ya, mungkin itulah satu–satunya jalan yang mampu membuat hatiku tenang. Dan tentunya dengan langkah itu aku akan dapat memiliki Mas dani seutuhnya Toh usia kami juga sudah cukup matang untuk mulai membangun rumah tangga, jadi tiada salahnya aku meminta Mas dani agar segera menikahiku.
Atas permintaanku itu perlu tiga hati bagi Mas dani untuk menyetujuinya. Aku memaklumnya tentang pernikahan adalah salah satu bentuk ibadah, dan ibadah itulah boleh dilakukan asal–asalan, apalagi latarbelakang pesantren yang dimiliki Mas dani, tentunya akan membuatnya berpikir matang sebelum akhirnya berkata “ setuju”
* * *
Tepat seminggu setelah Mas Dani menyetujui permintaanku, bersama kedua orang tuanya, ia berkunjung ke rumahku dan melamarku. Duhai Tuhan betapa senangnya hati ini sebab orang yang aku cintai telah datang bertatap muka dengan orang tuaku dan tak lama lagi aku akan menikah dengannya.
Meskipun singkat dengan segala basa – basi dan babibu-nya, akhirnya ayah sepakat pernikahan kami akan dilangsungkan tanggal 18 Januari itu artinya tiga minggu lagi sejak hari ini. Mestinya menurutku terlalu lama, namun tak apalah, toh semua jga perlu persiapan.
Tak perlu menunggu lagi, undangan pernikahan telah disebar dengan pencantuman hari yang telah ditentukan. Hampir semua keluargaku, baik dari ayah maupun ibu memberiku selamat kecuali satu …Adik kandungku Ruwayda.
Semenjak Mas Dani datang melamarku, wajahnya tampak selalu masam. Awalnya aku tak ingin terlalu memikirkannya, namun lama kelamaan kelakuannya membuat hatiku tak tenang.
Lima hari sudah Ayda tak keluar dari kamarnya. Selain untuk berwudlu, bahkan untuk makan pun aku jarang melihatnya keluar aku jadi merasa berdosa padanya.
“Ayda, kamu kenapa ?”
Ia hanya menggeleng lalu memaligkan mukanya dariku aku ikut terdiam, kuperhatikan perlahan – lahan pipinya basah oleh airmata yang jatuh dari katupan kelopak matanya. Ia sodorkan padaku secarik kertas yang terlipat harisontal.
Tuhan, aku belum pernah jatuh cinta pada selain orang tuaku dan utusan-Mu dan kini, aku telah mendapati persaan indah itu menghiasi hatiku, namun mengapa harus Mas Dani yang menghadirkan perasaan itu padaku Tuhan?

Aku takut menyakiti kak Rindi namun aku tak sanggup menyembunyikan persaan cinta ini, dan kemarin Mas Dani telah melamar kak Rindi, itu artinya tertutup sudah kesempatan bagiku untuk memperjuangkan cintaku. Tuhan, berilah aku kekuatan, Engkau yang Maha Bijaksana, bahagiakanlah kami semua.
  Lidahku terasa kaku dan tak mampu berucap kata. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan apalagi kini aku telah benar–benar tahu bahwa Ruwayda juga mencntai Mas Dani. Apa aku harus mengalah untuknya, dan itu artinya aku harus merelakan penantianku demi perasaan adikku. Atau aku harus tetap kukuh pada pendirianku dan aitu artinya akau akan melukai adikku. Tuhan sungguh berat cobaan yang kau berikan ini …
* * *
Bersambung....
Lanjutkan Membaca Cerepen Cinta Pertama Ayda (end)

Bagikan: