Tuesday, 8 September 2015

KISAH INSPIRATIF PERKEMBANGAN LINUX DI MUSHOLA SASTRA


Sejak pertama kali datang ke Jogja, aku telah memiliki niat untuk tetap mengembangkan dan menyebarkan “wabah” linux pada orang-orang di sekitarku nantinya. Atas hal ini, aku sangat bersemangat, lantaran asumsi bahwa di UGM pasti banyak yang paham soal linux. 

Hari pertama kuliah, saat ada sebuah kesempatan berkenalan, aku sengaja menyinggung istilah-istilah open source untuk memoles bicaraku. Misalnya, “Salam FOSS, Salam Merdeka!” dan lain-lain. Begitu pun saat aku mengungkapkan hobiku selain menulis, aku beranikan diriku untuk berucap, “Selain menulis, hobi saya adalah bermain sambil pacaran dengan Rafaela”. Atas ujaranku itu, akhirnya beberapa teman baruku banyak yang penasaran dan bertanya, “Siapa itu Rafaela?”. Aku tersenyum dan akhirnya pada sesi perkenalan yang singkat itu, aku sedikit demi sedikit memperkenalkan linux pada teman-teman baruku.

Beberapa memang tertarik, namun malangnya nasib tak dapat kutolak. Aku kalah promo dengan staf bagian sumber daya informasi yang memromosikan windows dan office “legal”nya yang merupakan buah dari MoU dengan Microsoft. 

Aku tak kehabisan akal. Aku dekati staff yang kemarin memresentasikan ihwal windows dan office kemarin, dan akhirnya aku tahu, bahwa mahasiswa hanya mendapatkan jatah Ms. Office saja, sedang Ms. Windows hanya diberikan pada Dosen dan staf-staf administrasi. Aku tertawa dalam hati, “Sama aja bohong”.

Kau tahu, mungkin seperti inilah rasanya Tenzin (anak dari Avatar Aang) atau mungkin Avatar Aang sendiri, saat mencari pengendali udara selain dirinya. Sedang di sisi lain, ia dihadapkan dengan serangan negara api yang begitu ambisius di masa itu. Ok, ini hanya joke.

Pencarianku tetap berlanjut. Hingga akhirnya aku mencoba untuk menghubungi KPLI Jogja yang sialnya tak lagi begitu aktif. Aku masih mencari, hingga pada suatu kesempatan, aku beranikan diri untuk menghubungi dosen-dosen yang pernah bersinggunag dengan proyek UGM Goes Open Source (UGOS). Alhasil, berkenalanlah aku dengan Pak Mardhani dan Pak Erwin. Mereka berdua inilah yang akhirnya memacu semangatku, karena ternyata Pak Erwin termasuk pegiat FOSS yang masih aktif sampai sekarang.

Tak puas sampai di situ, aku masih berusaha untuk mencari pengguna linux yang statusnya mahasiswa sepertiku. Tak lama kemudian, seorang mahasiswa dari Fakultas Teknik menguhubungiku via pesan Facebook. Dengan bahasa yang amat halus ia meminta bantuan tentang linux untuk dijadikan tugas akhir. Aku sempat merinding saat ia bilang, “Saya pakai CentOS mas.”

Masih juga belum puas, aku kembali bertanya-tanya pada diriku, “Bukankah dulu di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) ini pernah ada proyek Budaya Goes Open Source (BUGOS) ya? Lalu, dimanakah sisa-sisa puing proyek tersebut?”. Aku kembali melakukan penelusuran. Satu-satunya sisa proyek BUGOS yang masih dapat kujumpai adalah di perpustakaan FIB yang masih menggunakan linux untuk komputer-komputernya.

Sejujurnya aku hampir putus asa. Namun Tuhan berkata lain. Tuhan memang sutradara paling hebat, pengatur cerita yang tak pernah bisa kutebak dengan pasti. Pemberi kejutan yang paling indah.

Kemarin sore (8 September 2015), usai kuliah, aku hendak menuju ke mushola Al-Adab FIB untuk menunaikan sholat Ashar. Setelah berwudlu, ketika akan masuk mushola, tiba-tiba mataku menangkap sebuah layar notebook axio yang sedang menjalankan libreoffice. Hatiku dag-dig-dug. Aku amati secara diam-diam, dan benarlah dugaanku. AKU MENEMUKAN PENGGUNA LINUX!!!

Kuberanikan diri untuk menyapa orang yang sedang serius bekerja tersebut, “Pakai linux ya, Mas?” tanyaku.

“Iya, mas paham linux juga?” Dan akhirnya perbincangan pun tak dapat dihindari. Perbincangan sempat terhenti saat aku mohon izin untuk menunaikan sholat, dan berlanjut lagi setelah itu.

Dari penuturan Adif, mahasiswa S2 semester akhir ini, masih lumayan banyak kok pengguna linux di FIB. Namun rata-rata mereka anak mushola dan Pak Erwin adalah orang di balik semua ini. Semangat dan gairahku pun kembali memerah. Pada Mas Adif ini, aku bertanya-tanya seputar kronologis perkembangan linux di mushola FIB.

Dari penjelasannya, linux di mushola FIB itu dimulai bertahun-tahun saat ada diskusi tentang pembajakan yang dikaitkan tentang problem hala-haram dari sudut pandang agama. Nah, pada saat itulah Pak Erwin untuk pertama kalinya memperkenalkan linux sebagai alternatif terbaik untuk menghindari pembajakn perangkat lunak. “Kalau kita bekerja menggunakan software bajakan, dan kita tahu akan keharaman melakukan hal itu, maka boleh jadi semua tugas yang kita buat juga bernilai haram. Mengapa? Karena hasil pekerjaan yang kita peroleh bersumber dari hal yang tidak halal” ucap Mas Adif menirukan argumen Pak Erwin.

Setelah diskusi tersebut, akhirnya muncullah kesadaran bersama untuk menggunakan linux dan meninggalkan windows. Dan lagi-lagi, Pak Erwin inilah yang dengan sabar membanti rekan-rekan di FIB untuk masalah instalasi, panduan teknis dan lain-lain.

Hal yang benar-benar aku kagumi dari pengguna linux di mushola FIB ini adalah kesinambungannya. Mereka semua mengakui bahwa pada tahap awal memang perlu sedikit adapatasi, namun pada akhirnya semua itu menjadi lebih mudah saat telah menjadi kebiasaan. Hal tersebut dibuktikan dengan tidak terkendalanya tugas-tugas para pengguna linux di FIB yang selama ini mereka buat denga libreoffice. Yang paling manarik menarik lagi adalah kenyataan bahwa para pengguna linux di mushola FIB adalah sekedar pengguna, bukan tukang oprek seperti aku atau mungkin teman-teman di forum. Mereka mungkin tak paham apa itu sudo, terminal, grub, lingkungan desktop dan hal-hal teknis lainnya, namun kenyataannya mereka telah bertahun-tahun menggunakan linux mint yang bahkan sengaja tidak diupdate untuk keperluan sehari-hari. 

Jika kita mau jujur, kenyataan itu benar-benar menampar kedua pipi kita yang selama ini beranggapan bahwa linux itu sulit, ribet, harus pakai terminal, harus update ini itu dan segudang alasan yang sekarang menurutku merupakan konyol karena tidak mau belajar.
Sebagian dari kita mungkin masih menggugat, OS dan software memang legal, lalu bagaimana dengan MP3 atau film di dalamnya? Jika masih ada orang yang ngotot soal ini, aku hanya akan tertawa. Ya, tertawa untuk menertawakan orang yang hanya berujar tanpa punya tidakan nyata. Tahukah kau, tidak perlu mengejar kesempurnaan untuk sebuah perubahan, langkahkan saja kakimu dan buat perubahan semampumu.

Hari ini aku adalah orang paling bahagia, mungkin inilah rasanya ketika Tenzin atau ayahnya, Avatar Aang menemukan pengndali udara selain dirinya. Dan inilah saatnya untuk aku melanjutkan harapanku.
Bagikan:

Monday, 7 September 2015

CINTA SEJATI CINDERELLA by: Rania el-Amina

Dalam kehidupan nyata, aku tergolong orang yang biasa-biasa saja. Tak ada keistimewaan yang memberikan nilai lebih pada diriku. Bahkan tak jarang aku mengutuki diriku sendiri lantaran tak ada satu pun hal yang dapat aku banggakan. Di dunia ini, mungkin hanya kedua orang tuaku lah yang pernah memujiku dengan tulus.
Hingga usiaku 21 tahun, aku belum pernah sekali pun merasakan bagaimana indahnya cinta. Teman-teman sepermainanku menjulukiku fakir cinta. Aku tak marah, aku juga tak sedikit pun membenci mereka. Setidaknya aku tahu, apa yang mereka katakan itu ada benarnya. Dan mau tak mau aku memang harus mengakui kekuranganku itu. 
Dua tahun terakhir hidupku seolah menjadi tak ada artinya. Setelah kedua orang tuaku meninggal karena tabrak lari, aku memutuskan untuk tak melanjutkan lagi kuliahku. Tentu saja banyak hal yang memaksaku memilih berhenti kuliah, salah satunya adalah karena hidup ini selalu memilik tarif harga yang selalu naik.
Sekarang aku tinggal di rumah peninggalan orang tuaku di pinggiran Kota Yogyakarta. Rumah ini adalah peninggalan yang penuh dengan kenangan. Satu hal yang pasti tak akan kulakukan adalah menjual rumah ini. Karena menjual rumah ini sama artinya menjual kenangan dan kisah hidupku kepada orang lain.
Sejak kecil ibuku selalu mengantar tidurku dengan berbagai dongeng yang dimilikinya. Aku suka mendengarkan dongeng, meski pada akhirnya aku tahu bahwa dongeng sebenarnya adalah bualan belaka. Namun aku tetap suka dibohongi dengan kisah-kisah yang dituturkan ibuku.
“Bisa aku bertemu dengan Cinderella?” tanyaku suatu malam pada ibu.
“Mengapa Aldi ingin bertemu Cinderella?” ibuku menjawab dengan sebuah pertanyaan.
“Aku ingin ditemani Cinderella.”
“Nanti kalau Aldi sudah besar, Aldi pasti akan menemukan Cinderella milik Aldi.” tuturnya begitu lembut.
“Apa semua orang punya Cinderella?”
Wanita dengan keriput di sekitar matanya itu tersenyum lalu meangagguk. Meyakinkan diriku yang saat itu masih berusia 8 tahun bahwa suatu hari nanti aku akan bertemu Cinderella. Namun hingga ibuku meninggal, aku tak pernah bertemu dengan Cinderella. 
Kegilaanku pada tokoh Cinderella tak berhenti pada masa kecilku. Bahkan hingga kini pun aku masih mengidolakan perempuan cantik yang terkenal dengan sepatu kacanya itu. Barangkali itu pula yang membuat diriku tak bisa mencintai seorang wanita lagi, hatiku telah terisi dengan sosok cantik bernama Cinderella. Aku jatuh cinta padanya.
Mungkin kau beranggapan aku gila, sinting, kurang waras atau apalah itu. Namun satu hal yang belum pernah kau ketahui dari diriku adalah aku mempunyai satu keberuntungan yang tak pernah dimilik orang lain. Bahkan aku belum menceritakan hal ini pada siapa pun selain engaku. Tahukah kau, aku pernah bertemu dengan Cinderella di dunia nyata, bahkan aku pernah mecumbunya dan bercinta dengannya pada suatu malam.  
                                                                      
                                                                         ***

Di suatu malam dengan gerimis yang merintik, samar-samar aku mendengar suara tangisan seorang perempuan. Malam itu udara memang cukup dingin untuk membuatku betah berselimut. Namun suar tangis perempuan di malam itu benar-benar mengusik dan membuatku penasaran.
Aku singkap perlahan gorden jendela kamarku dan memperhatikan keadaan di luar rumah. Seketika mataku tertuju pada seorang perempuan yang duduk di bangku panjang depan rumahku. Hantu? Aku tak terlalu percaya pada hal seperti itu. Hidup ini terlalu rumit untuk memikirkan hal yang tak jelas macam hantu.
Gerimis masih merintik. Dengan tergesa-gesa aku turun dari lantai dua rumahku dan segera mendekati gadis itu. Setelah jarak kami hanya kurang dari tiga meter, kuberanikan diri untuk menyapa si pemilik tangis itu.
“Kamu sedang apa di sini?” aku agak gugup.
Perempuan itu masih menangis dan sejurus kemudian menoleh ke arahku. Ia hanya terdiam, namun dapat kutangkap garis kebingungan di raut wajahnya yang canti itu.
“Di luar sini dingin, gerimis pula. Bagaimana kalau kita masuk saja?” tawarku.
Ia masih terdiam menatapku, “Tenang, aku bukan orang jahat kok. . .” ucapku sembil melempar senyum yang dibalas dengan lembut angukan kepala.
Ia berjalan begitu gontai. Seolah-olah tak lagi punya tenaga untuk sekedar melangkahkan kakinya. Dengan hati-hati aku pun menuntunnya menuju rumahku, lalu membantunya untuk duduk di ruang tamu. Aku pun segera mengambil selimut hangat dan segelas teh hangat untuk tamu yang tak kukenal itu.
Ada hal aneh yang aku rasa saat pertama kali melihat wajahnya. Aku merasa pernah melihat gadis ini dalam hidupku. Namun kapan dan dimana, otakku masih belum menemukan jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut.
“Boleh aku tahu namamu?” aku memulai percakan di malam yang terus larut itu.
“A... aku Cinderella.”
Seketika aku tertawa lepas. Sedang gadis itu tetap terdiam seolah heran dan ingin tahu apa yang aku tertawakan.
“Ada yang aneh dengan namaku?”
“Namamu mirip tokoh dongeng yang sering aku dengar sejak kecil.”
“Aku memang berasal dari dunia dongeng”
“Kau bercanda kan?”
“Aku serius!”
“Lalu, bagaimana kau bisa sampai di sini? Apa benar dunia dongeng itu ada?” wajah seriusnya membungkam tawaku, meskipun hatiku masih memungkiri eksistensi dunia dongeng.
Cinderella pun akhirnya bercerita lepas tentang perjalanan panjang yang mengantarkan dirinya sampai ke dunia nyata. Rupa-rupanya ia diusir dari istana lantaran kehilangan sepatu kaca ajaibnya. 
“Kau tahu kan, hanya dengan memakai sepatu itu aku akan menjadi cantik, dan tanpanya Pangeran tak mengenali siapa aku meski kami sudah hidup bersama cukup lama.” jelasnya.
“Itu konyol sekali dan tak masuk akal.”
“Dunia dongeng memang tak pernah memiliki rasionalitas jelas, bukankah kau tahu akan hal itu?”
Aku tertegun dan baru kembali menyadari bahwa apapun bisa saja terjadi di dunia dongeng. Bahkan hal-hal yang tak masuk akal sekali pun. Sangat berbeda dengan duniaku yang selalu bergantung pada kausalitas.
“Apa kau ingin kembali ke duniamu?”
“Tentu saja, namun aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Bisakah kau membantuku . . . eh, siapa namamu?”
“Aldi. Namaku Aldi. Aku tak yakin bisa membantumu, namun baiklah aku akan mencari cara agar kau dapat kembali ke dunia dongeng. Sekarang sebaiknya kau beristirahat, sudah lewat tengah malam.”
“Iya.”
Ia pun beristirahat di kamar lantai satu. Itu adalah kamarku semasa kecil. Satu hal yang baru kusadari memang dialah tokoh yang selama ini aku impikan. Aku menyadari hal itu saat aku masuk ke kamar lamaku dan menjumpai beberapa poster Cinderella berukuran besar di dinding kamar. Cinderella sempat kaget dan bertanya tentang poster tersebut, dan aku kikuk menjawabnya.
 
                                                                      ***
 
Malam terus berlanjut mengusung pagi. Mataku tak terpejam semalaman. Hatiku berdegup tak beraturan. Ada hal aneh yang menderaku dan itu tak bisa aku jelaskan. Aku selalu terbayang wajah Cinderella. Belum pernah aku mengalami kegelisahan yang membingungkan seperti ini.
Kegelisahan itu terus berlanjut hingga surya menyapa pagi. Aku tak seditik pun terpejam, namun tiada kantuk kurasa. Dengan terburu-buru aku turun menuju kamar Cinderella. Saat di depan pintu kamar, kudapati ia sedang melihat keluar jendela dengan wajah yang disirami sinar pagi. Aih, cantik sekali gadis ini.
“Sudah bangun rupanya. . . .” sapaku yang sepertinya membuyarkan lamunannya.
“Aldo, apakah di sekitar sini ada hutan?” pertanyaan itu seolah-olah spontan terlontar begitu saja dari Cinderella.
“Eh, hutan? Ada sih, mau ke hutan? Ngapain?”
“Aku harus bertemu Ibu Peri. Dia tinggal di hutan”
“Ibu Peri? Ini dunia nyata, dan peri itu hanya ada di dunia dongeng”
“Sudahlah, kita coba saja dulu. Bawa aku ke hutan.”
Aku pun tak dapat menolak permintaannya itu. Alhasil, setelah aku memintanya untuk berganti baju--aku memintanya memakai baju ibuku--kami pun berangkat menuju hutan di sepanjang jalur Solo-Jogja. 
“Ini kamu bilang hutan?” ujarnya saat sampai di hutan pinggiran Yogyakarta.
“Iya, kenapa?”
“Aldi . . . Ibu Peri itu tinggal di hutan yang lebat, dia nggak akan mau tinggal di hutan yang pohonnya jarang-jarang seperti ini.”
Aku menangkap raut kekecewan di wajah Cinderella. Namun, “Di sini, hutan memang seperti ini adanya.” ucapku pelan.
“Sudahlah, tak mungkin rasanya mengharap keajaiban pada kegersangan hutan seperti ini.” ia benar-benar kecewa dan mengajak pulang begitu saja.
Sejujurnya, aku tak ingin ia cepat-cepat kembali ke negeri dongeng, tempat ia berasal. Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya bertemu dengan orang yang selama ini kau impikan dan bahkan hanya gara-gara kau mengimpikannya orang-orang di sekitarmu memnganggapmu kurang waras. Dan sekarang orang yang kau kagumi itu ada dihadapanmu, bisa kau perhtikan dengan jelas bibirnya yang tersenyum bahkan menyentuh kulitnya yang begitu lembut.
“Tetaplah di sini, Cinderella.” spontan kalimat itu meluncur begitu saja tanpa kusadari saat Cinderella melangkah masuk rumah.
“Apa maksudmu?”
“Tetaplah di sini, kau tak perlu kembali ke negeri dongen untuk sekedar mencari kebahagiaan semu.”
“Apa maksudmu kebahagiaan semu? Lagi pula aku tak punya alasan untuk tinggal di duniamu”
“Ada! Aku akan jadi alasan agar kau tinggal di sini.”
“Aku tak mengerti, Aldi”
“Aku mencintaimu, Cinderella. Aku mencintaimu sejak usiaku 8 tahun hingga hari ini.”
“Tapi bagaimana dengan pangeran, dia adalah jodohku. . . “
“Dia tidak mencintaimu, cintanya hanya omong kosong belaka”
“Apa! Tutup mulutmu, kau tak tahu apa-apa soal pangeran!” Cinderella mulai bicara dengan nada yang cukup tinggi, pertanda ia muali emosi.
“Coba kaupikir sekali lagi, dia hanya mengenalmu saat kau memakai sepatu ajaib itu saja, dan saat kau kehilangan sepatumu, dia sama sekali tak mengenalimu, apa itu yang kau namakan cinta?”
“Tapi . . .”
“Jika memang pangeran bodoh itu mencintaimu, dia seharusnya mau menerimamu dengan atau tanpa sepatu kacamu yang hilang itu. Tapi apa kenyataannya? Dia tidak menerimamu apa adanya kan? Cinderellah, cintamu dengan pangeran hanyalah dongeng belaka, dan akulah cintamu yang sejati”
Cinderella terdiam. Perlahan-lahan air mata meleleh dari kelopaknya. Membasahi pipinya yang putih bersih itu. Dan tanpa aku duga, tiba ia memelukku. Ia memelukku erat sekali sambil meluapkan tangisnya. Aku pun membalas pelukan itu. 
“Kau benar, Aldi. Sepertinya hidupku di negeri dongeng, termasuk cintaku hanyalah sandiwara belaka. Itu hanya kebahagiaan semu. Terima kasih telah menyadarkan diriku” ucapnya di sela-sela tangis, “Apa kau benar-benar mencintaiku, Aldi?”
“Dunia ini saksinya.”
Cinderella melepas pelukannya dan menatapku begitu dalam. Hatiku berdegup tak berirama. Mataku seolah telah tertau erat dengan matanya hingga tanpa kami sadari, kedua bibir kami juga ikut bertaut seolah tak ingin lepas. Dan tentang apa yang terjadi selanjutnya, ah tak perlu kuceritakan. Cukup kau bayangkan saja.

 
Suatu Malam di Yogyakarta, 26 Agustus 2015
Rania el-Amina
Bagikan:

Sunday, 6 September 2015

FASE-FASE YANG DIALAMI PENGGUNA LINUX

Sebagaimana yang pernah aku katakan sebelumnya dalam beberapa postingan di blog ini, memilih distro linux untuk dijadikan teman di komputer atau laptop itu gampang-gampang susah. Aku lebih senang menyamakannya dengan proses pencarian pasangan untuk hidup. Ok, mungkin itu terlalu berlebihan, namun bukankah itu adalah hal yang menarik juga untak kita pahami?

Jika aku boleh menggolongkan, ada dua faktor yang biasanya menjadi pertimbangan seseorang dalam memilih distro. Faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan distro itu sendiri. Misalnya kemudahannya, kompatibilitasnya dengan hardware, tampilan antarmukanya, dan lain-lain

Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang tidak secara langsung berkaitan dengan distro. Misalnya, dukungan komunitas, selera pengguna dan lain-lain.

Pada tulisan kali ini, aku ingin mencoba untuk menggambarkan beberapa proses yang menurutku akan dialami oleh sebagian besar pengguna linux. Baik pengguna baru maupun pengguna lama. 

Fase-fase yang aku maksud adalah sebagai berikut:

1.Fase Galau dan Move On

Ini adalah fase awal yang dialami oleh pengguna linux. Yaitu ketika ia merasa mulai tidak nyaman dengan OS lamanya dan ingin sebuah perubahan. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi dalam tahap ini, perselingkuhan atau perpisahan

Perselingkuhan akan terjadi bila si pengguna ini menginginkan OS lain untuk mendampingi hidupnya, namun ia belum mau untuk melepaskan “Yang Lama”, karena banyak kenangan yang memang belum mau ditinggalkan. 

Sedangkan perpisahan akan terjadi bila si pengguna ini mau dengan lapang hati melepas “Yang Lama” dan menjalani kehidupan baru dengan linux. Hal ini akan sangat mudah terjadi bila dilatarbelakangi oleh kekecewaan yang mendalam dengan pasangan lama dan ada tekad untuk benar-benar meninggalkannya serta mencari pasangan lain.

2.Fase Pencarian

Fase pencarian memang membingungkan bagi sebagian orang. Banyaknya pilihan terkadang adalah sebuah kendala yang harus disikapi dengan cukup baik. 

Ada banyak kemungkinan yang terjadi dalam fase ini. Beberapa di antaranya adalah proses coba-coba dan proses kepo.

Proses coba-coba biasanya terjadi jika si pengguna ini memilih distro pilihannya tanpa dasar apa pun alias asal pilih. Nilai postifnya dari proses coba-coba ini adalah munculnya kemampuan untuk me-review dan membandingkan secara tidak sadar. Karena berawal dari coba-coba tentunya si pengguna ini tak terlalu berpikiran akan melangkah kemana nanti kalo sudah jadian atau yang lain. Bagi mereka yang menggunakan proses ini, biasanya akan lebih membuka diri dengan kemungkinan-kemungkinan baru yang muncul suatu hari. Sedang sisi negatifnya adalah waktu yang diperlukan cukup lama untuk mencari distro yang pas, pun demikian ada kemungkinan juga justru malah lebih cepat, bila sekali coba langsung suka.

Sedangkan proses kepo adalah proses yang dijalani oleh pengguna dengan membaca terlebih dahulu beberapa review yang ada mengenai distro yang akan dipakainya. Jadi pengguna dengan proses ini biasanya berharap, “Semoga kamu yang pertama dan terakhir”. Plusnya adalah bertambahnya kemampuan dan pengetahuan yang didapat dari review yang dibaca, sedang minusnya adalah mungkin perlu waktu lama untuk mencari yang pas, tapi nggak terlalu masalah sih.

3.Fase PDKT

Jika sudah menemukan distro yang pas, tentu saja setelah mencoba melalui live USB atau yang lain, maka pengguna akan memasuki fase PDKT.

Pada fase ini, si pengguna akan mulai belajar dan menyesuaikan diri dengan distro pilihannya. Tak jarang, pada fase PDKT si pengguna menuliskan “status-status” mesra di akun medsosnya untuk memperkenalkan pilhannya kepada rekan-rekan yang lain.

4.Fase Saling Memahami

Usai fase PDKT dan setelah benar-benar merasa cocok dengan pilihannya, tentunya si pengguna akan memasang secara permanen distro pilhannya tersebut ke hardisk. Ya, ada kemungkinan ia merasa tak ingin pertemuannya hanya terjadi lewat USB belaka, jadi karena sudah teriul-kiul, si pengguna ingin frekuensi pertemuannya ditambah dengan cara memasangnya di laptop.

Fase saling memahami memang sulit, karena sesekali pasangan yang dipilih oleh pengguna terkadang belum mampu memenuhi keinginannya secara maksimal. Pun demikian, si pengguna akan berusaha untuk membantu pilihannya tersebut agar mampu melakukannya suatu hari nanti.

Pada fase ini pula, si pengguna akan muali belajar bagaimana mendandani desktopnya agar terlihat cantik, memodif pilihannya agar lebih cepat dan lalin-lain

5.Fase Pasca-Jadian

Baik hubungan manusia dengan manusia atau manusia dengan distro linux sebagaimana yang aku bahas saat ini, tak akan berwarna bila “begitu-begitu” saja, alias tak punya masalah. Dan ini terjadi biasanya pasca jadian atau instalasi.

A.Konflik

Konflik adalah hal wajar dan dapat terjadi kapan saja. Sejatinya, bila si pengguna mau menyadarinya, koflik yang ia dapat sebenarnya adalah sebuah pengalaman dan pengetahuan baru yang amat berharga. Dengan kata lain, tanpa konflik, si pengguna hanya akan tahu itu-itu saja dan tidak berkembang pengetahuannya.

Untuk mengatasi konflik ini, si pengguna bisa saja berusaha untuk mengobatinya menggunakan resep dari Dr. Duckduckgo atau Dr. Google serta bisa minta tolong pada rekan-rekan dokter di forum yang banyak beredar di dunia (mbak) maya.

B.Penyelesaian

Menyelesaikan konflik berarti mengisyaratkan bahwa satu set pengetahuan baru telah didapatkan oleh pengguna baru. Namun ada kemungkinan juga penyelesaian konflik ini tidak membuahkan apa-apa. Bagaiman bisa? Tentu, peluang tersebut mungkin terjadi bila si pengguna menuntaskan konflik dengan cara meninggalkan pilihannya dan beralih ke distro lain yang ia anggap lebih mampu memahami kebutuhan dan dirinya.

6.Fase Menjalin kesetiaan atau Move On ke 2

Setelah mengalami konflik, ada dua kemungkina yang akan terjadi, yaitu tetap setia atau move on ke distro lain.

Proses menjalin kesetiaan itu berarti kita mencoba untuk menerima distro kita apa adaya sambil berusaha memaksimalkan kemampuan yang dimilikinya serta menutupi segala kekurangannya dengan berbagai metode alternatif yang ada. Tentu saja ini adalah pilhan yang cukup baik. Setidaknya, si pengguna akan menjadi lebih matang dalam memahami distro yang menjadi teman hidupnya itu. Dan jika lebih ditekuni lagi, ia akan menjadi spesialis distro.

Namun, yang namanya hati memang tidak bisa dipaksa dengan mudah. Jadi, perpisahan dengan distro adalah hal yang mungkin terjadi. Bahkan kalimat, “Oh si Fedora, iya itu mantan aku dua tahun lalu. . . ” juga hal yang mungkin-mungkin saja terjadi. Bagi pengguna yang benar-benar merasa tak lagi nyaman dengan pilhannya, biasanya akan mencari pasangan lain, tak jarang pulang ada yang terbayang-bayang dengan kenangan bersama OS masa lalunya.

7.Fase Kamulah Pilihanku

Ini adalah fase yang dapat dicapai oleh pengguna yang benar-benar sanggup untuk bertahan dengan distro pilihannya. Biasanya pada fase ini, si pengguna sudah tak terlalu tertarik dengan distro atau OS lain. Ia sudah merasa puas sekali dengan pilhannya, mereka akan berpikir bahwa kamu (distro) adalah segalanya, i love u!

8.Fase Berbagi

Setelah cukup lama bersama, tentunya akan banyak kenangan dan pengalaman yang didapatkan oleh si pengguna. Nah pengalaman ini biasanya akan menjadi modal utama untuk si pengguna mengajak orang lain untuk menggunakan linux, menulis review, membuat dokumentasi, dan lain-lain. Tentang bagaimana atau langkah apa yang digunakan bisa beragam dan berbeda-beda sesuai kemampuan dan gaya yang dimiliknya. Intinya mereka-mereka pengguna linux tentunya akan merasa sangat bahagia bila ada orang lain juga yang dapat merasakan kebahagiaan yang saat ini ia dapat dari linux.


9.Fase Produktif

Fase ini memang tak terlalu banyak dilewati oleh beberapa pengguna. Kebanyakn dari mereka merasa cukup puas sampai pada fase ke delapan. Namun, tak sedikit pula yang mau mencoba hingga ke fase ini, yaitu fase di mana si pengguna mulai berkarya tentang linux atau FOSS dalam bidang yang ia sukai.

Ada yang produktif mengembangkan perangkat lunak, produktif melakukan dokumentasi, mendesain, ada yang yang produktif meng-upload tampilan desktop agar dapat menginspirasi orang lain dan masih banyak lagi. 

Kira-kira itulah fase-fase yang dialami oleh sebagian besar pengguna linux. Pada intinya, dapat kita pahami bahwa belajar linux itu tidak serta merta langsung mahir dan bisa. Secara alamiah ada proses-proses yang memang dan mungkin harus dilewati oleh penguna linux, baik lama maupun baru, maka nikmatilah proses itu. Perlu digarisbawahi, fase-fase yang aku sebutkan tadi bisa jadi tidak terjadi secara berurutan alias loncat fase, dan itu mungkin terjadi karena linux berada di wilayah perangkat lunak bebas. Dan bisa jadi kebebasan itu berimbas pada banyak hal dan kemungkinan-kemungkinan lain. Tulisan ini? Haha, mungkin juga ini produk based on linux, karena idenya juga berasal dari linux. Hehe. . . 
Bagikan:

Thursday, 3 September 2015

Fitur-fitur Windows yang TIDAK ADA di Linux

Pagi gan!  

Beberapa waktu yang lalu, pasca peluncuran Windows 10 banyak sekali artikel-artikel yang membahas tentang fitur-fitur linux yang diadopsi oleh Windows 10. Bahkan tidakh hanya WIndows 10 saja, pada versi WIndows-windows yang sebelumnya pun ada kabar-kabar yang senada dengan itu.
 
Bagi sebagian orang, hal tersebut bisa jadi sebuah kabar yang mengembirakan, khususnya bagi pengguna linux. Mengapa? Karena dengan diadopsinya fitur-fitur linux, secara tidak langsung orang-orang di sana terlah mengakui fungsionalitas dan performa linux. Dan itu adalah satu poin tersendiri.
 
Namun setelah aku berangan-angan semalam, terbesit dalam otakku tentang beberapa hal yang ada d windows namun tidak ada di linux. Untuk hal yang satu ini, aku tak tahu akan jadi kabar menyedihkan atau kabar yang membahagiakan. Fitur-fitur apakah itu?
 
 1.Refresh
 
Bagi sebagian besar orang, ini adalah fitu penting dan sangat vital. Karena eh karena, menurut mereka, dengan menjalankan fitur ini melalui klik kanan dan klik Refresh, komputer akan menjadi lebih ringan alias tidak lagi lemot. Apakah hal itu benar? Atau cuma mitos? Aku persilakan deh, agan baca-baca postingan di internet, banyak kok yang membahas mitos tentang refresh ini.
 
Sayangnya, fitur refresh ini tidak ada di linux. Sekali lagi, TIDAK ADA. Meskipun bisa dibuat secara manual menggunakan xdootoll, namun menurut agan-agan apakah masih perlu refresh dipasang di linux? Well, semua jawaban kembali pada diri masing-masing, apalagi yang tangannnya sering merasa gatal karena tidak terbiasa me-refresh, bagaimana munurutmu?
 
2.Perusak data dan sistem
 
Fitur ini sering dinamai dengan virus. Sesuai namanya, vitur ini memiliki peranan penting di sistem windows, salah satunya yang paling sering adalah meng-hidden file atau folder pada usb. Jadi, fitur ini adalah fitur otomatis yang berjalan pada lingkungan windows dan dapat berjalan secara amat rahasia tanpa diketahui oleh pemilik komputer. Fitur yang hebat bukan?
 
Tak hanya menyembunyikan berkas, beberapa jenis pengembangan fitur ini juga mampu untuk menggandakan dirinya dan meningkatkan beban penggunaan memory pada komputer, bahkan ada juga lho yang dapat mengubah beberapa fungsi yang akhirnya membuat komputer sulit mati dan sulit nyala. Wih, keren. Meskipun secara default fitur windows ini tidak langsung aktif, namun rata-rata fitur ini akan secara otomatis aktif bila komputer windows tersebut terkoneksi dengan internet dan tidak memasang antivirus di komputernya.
 
Lagi-lagi sayang sekali, fitur ini tidak bisa agan nikmati di linux. Karena linux terlalu pelit soal urusan izin akses direktori. Namun, apakah kira-kira kedepannya nanti fitur ini dapat berjalan baik di linux? Entahlah, dunia masih terus berputar. 
 
3.Keylog privasi
 
Ini adalah fitur terbaru di windows 10 yang beberapa hari terakhir menjadi buah bibir di dunia maya. Fitur keren ini memeliki fungsi yaitu mengingat semua input data dari keyboard yang agan lakukan. Misalnya, agan sedang membuka situs tertentu dan login dengan mengetikkan passwordnya agan, maka secara otomatis fitur ini akan merekamnya dan mengirimkannya pada Microsoft. Dengan kata lain, hampir semua aktivitas agan di lingkungan windows 10 itu diperhatikan oleh pihak MIcrosoft, wow nyaman sekali. Bahkan pacar-pacar kita aja nggak tahu password fb, twitter, apalagi rekening kita, tapi Microsoft tahu lho. Perhatian banget kan? Kalo nggak percaya, baca nih ada situsnya http://localghost.org/posts.
 
Apesnya, fitur hebat ini belum ada yang mengembangkan di linux. Jadi, yah . . .terima nasib ajalah.
 
4.Loaderable atau aktivator able
 
Loaderable atau aktivatorable adalah fitur yang sudah cukup lama dapat digunakan di windows. Fitur ini memungkinkan windows untuk dapat digunakan tanpa harus membayar sepeser pun untuk waktu yang tidak ditentukan. Untuk menggunakan fitur ini, biasanya diperlukan alat tambahan semacam KMSpico, 7loader, XP activator dan lain-lain. Ajaibnya, dengan pengaktifan fitur ini, windos yang didapat tanpa membeli tadi, dapat berubah solah-olah windows genuine.
 
Namun entah mengapa fitur hebat ini tidk dilirik sama sekali oelah pengembang linux. Jadi untuk menikmati fitur ini agan harus pakai windows dulu. Tertarik?
 
5.Software-software ghaib
 
Software-software ghaib adalah sebutan pribadiku untuk software yang tiba-tiba ada di komputer padahal kita tidak merasa menginstallnya, apalagi membutuhkannya. Secara teknis, dapat dijelaskan bahwa software-software ghaib ini sebenarnya adalah bonus yang diberikan saat agan menginstall aplikasi/software di windows. Enak sekali kan, sudah installnya tinggal klik-klik dan klik, eh masih dapat bonus software lain termasuk juga addons baru untuk periklanan di browser. Wih, enak banget. Fitur ini juga dapat memaksimalkan ruang hardisk yang terpakai, biar nggak mubadzir.
 
Berbeda dengan linux yang hanya memasang software yang kita mau tanpa memberi bonus apa-apa. Misalnya kita install wine, ya sudah wine itu aja bonusnya. Pelit banget kan?

Pada intinya, semua OS itu pasti punya kekurangan dan kelebihan yang beragam. Semisal, windows yang kelebihan memory dan linux yang kurang dan hal-hal lainnya. Jadi jangan saling menjatuhkan, kalau pun terpaksa lakukanlah dengan bijak dan tersamarkan. Dan akhirnya, semua penilaian kembali pada diri masing-masing.
Bagikan:

Wednesday, 2 September 2015

9 Kemampuan Hebat yang Dimiliki Semua Pengguna Linux SEKALIPUN NEWBIE BANGET!

Aku selalu terkesima dan kagum pada orang-orang yang “berani” menggunakan linux sebagai sistem operasi di komputer mereka. Diakui atau tidak, sampai hari ini sistem operasi linux masih konsisten menjadi OS minoritas yang jarang digunakan oleh sekian juta pengguna komputer. Bahak tak sedikit yang tak menyadari bahwa gadget Android yang ada digenggaman mereka adalah salah satu produk yang berjantung Linux.
Menjadi kelompok minoritas tak mudah. Selalu saja ada yang orang-orang yang memandang remeh pengguna linux. Atau sering juga malah menganggap bahwa pengguna linux adalah manusia aneh yang mencari keribetan di tengah-tengah kemudahan. Dan satu hal yang aku sendiri sebenarnya juga kurang mengerti, mengapa pengguna linux diidentikkan dengan Hacker? Apa karena di linux aplikasi terminal sering digunakan? Padahal tak jarang pengguna linux adalah pengguna desktop biasa yang hanya menggunakan OS linux untuk pekerjaan sehari-hari layaknya pengguna windows.
Anggapan-anggapan sinis tersebut tak jarang juga memengaruhi pemikiran pengguna linux, terutama pengguna baru atau yang sering menyebut diri mereka newbie. Karena merasa sebagai kaum minoritas, banyak dari pengguna pemula merasa minder atau kurang percaya diri saat menggunakan linux di depan rekan-rekannya. Padahal, kalau boleh aku menilai, pengguna linux itu manusia keren dan hebat. Mereka punya kemampuan-kemampuan khusus yang tidak semua pengguna komputer memilikinya, bahkan seorang pemula sekalipun.
Oke, akan aku coba untuk tulis beberapa kemampuan hebat yang secara otomatis dimiliki oleh pengguna linux, dan silakan diangan-angan apakah yang aku tulis ini tepat atau salah total. Angan-angan tentang skill pengguna linux yang aku dapat saat pulang dari kuliah tadi antara lain,
1. Kemampuan menjadikan USB media bootable
Ketika seseorang ingin menggunakan linux, tentunya ia akan menempatkan iso linux pada sebuah media bootable, baik itu CD/DVD atau flashdisk. Memasang sistem operasi melalui CD/DVD boleh dibilang hal biasa dan amat lumrah, namun menjalankan sistem operasi melalui flashdisk boleh dibilang adalah hal istimewa dan menarik (terbukti sekarang windows-windows terbaru juga mendukung penginstallan melalui usb).
Apa yang hebat dari menjalankan sistem operasi dari flashdisk? Percayalah itu adalah skill yang sangat bermanfaat dan dapat menjadi kemampuan yang sangat dibutuhkan, khususnya pada situasi-situasi tertentu. Mau buktinya? Perhatikan ilustrasi berikut.
Suatu ketika laptop temanmu terserang virus atau sistem operasinya sedang bermasalah yang menyebabkan laptopnya tidak bisa booting. Padahal dia perlu mencetak file yang ia simpan di hardisk laptopnya. Lalu, sebagai seorang teman apa solusi termudah untuk mengatasi problem temanmu itu? Memintanya menginstal ulang windows? Berapa waktu yang dibutuhkan? Atau melepas hardisknya untuk menjadikannya hdd eksternal baru menyalin dokumennya di komputer lain? Apa itu efisien?
Nah pada saat inilah kemampuanmu menjalankan sistem operasi linux melalui usb sangat diperlukan. Mengapa USB bukan DVD. Hal perlu dipahami adalah tingkat kecepatan baca CD/DVD masih kalah jauh dibandingkan flashdisk. Cukup dengan menancapkan flashdisk dan sret . . .sret . . .tidak sampai 15 menit data temanmu tadi sudah dapat dicertak. Bahkan itu bisa jadi alternatif untuk menggunakan laptopnya yang bermasalah tadi. Keren kan?
2. Kemampuan mengatur BIOS dan partisi
Tidak semua pengguna komputer paham mengenai pengaturan BIOS, bahkan BIOS pada komputer atau laptopnya sendiri. Beruntunglah mereka yang meggunakan linux, karena sedikit banyak mereka pasti pernah mengutak-atik BIOS setidaknya untuk mengatur first boot-nya.
Selain BIOS, hal yang jarang dipahami oleh pengguna komputer pada umumnya adalah permasalahan partisi. Dengan menginstal linux, setidaknya kita akan memahami dan belajar ihwal pemartisian. Mulai dari jenis partisi, type partisi, dan lain-lain. Jika pengguna windows mungkin hanya familiar dengan NTFS dan FAT, maka pengguna linux sedikit lebih maju karena selain mengenal dua jenis file system tersebut mereka juga mengenal EXT, SWAP dll.
3. Kemampuan memerintah komputer dengan baris perintah
Salah satu hal yang mungkin dianggap momok bagi mereka-mereka yang mengenal linux adalah baris perintah. Mereka yang tidak paham linux pasti masih beranggapan bahwa linux itu hanya dapat dijalankan oleh mereka-mereka yang paham bahas pemrograman saja, karena linux tidak ada gambarnya, tidak ada cursornya dan stigma lama lain.
Jika argumen itu dilontarkan puluhan tahun lalu, mungkin ada benarnya, namun akan menjadi salah total jika dilontarkan di zaman sekarang. Linux telah berkembang dengan pesat, bahkan aku berani mengatakan bahwa linux sekarang lebih bagus tampilan dan lebih mudah daripada windows. Oke hal ini memang masuk dalam ranah relatif, namun pada dasarnya konsep peribahasa, “Alah bisa karena biasa” juga berlaku.
Satu hal menarik yang rupanya baru aku sadari adalah. Linux bukanlah kacang lupa kulitnya. Meski kini ia telah tampil cantik, ia tetap memfungsikan terminal sebagai antarmuka berupa baris perintahnya. Nah di sinilah poin plus yang dapat didapatkan pengguna linux. Karena linux juga sangat mendukung pengoperasian komputer menggunakan baris perintah, maka niscaya sedikit banyak pengguna linux akan terbiasa dan paham ihwal perintah-perintah console.
Tak jarang ada beberapa pengguna linux yang memang ingin tampak keren di depan rival atau buat memikan cewek, sengaja mempertontonkan kebolehannya memutar MP3 melalui teminal (pakai mocp) bahkan browsing web menggunakan terminal (pakai w3m atau lynx). Haha, dasar!
4. Kemampuan memodifikasi sistem operasi
Distro linux memang sengaja dibuat dengan standar global. Hal ini setelah aku angan-angan memang sangat bagus untuk memacu kreativitas penggunanya. Minimal dari segi desktopnya, kita diberi kesempatan untuk berkreasi semaksimal mungkin. Entah itu menggunakan dock semacam cairo-dock, plank, dockbarx atau aksesoris lain semacam, tint2, conky, covergooblus dll.
Aku yakin, seorang pemula pun pasti akan memodifikasi sistem operasi yang dipakainya, dan sekarang pertanyaannya adalah apakah itu bisa dilakukan di “OS tetangga”?
5. Kemampuan berbagi, baik dengan bertanya atau menjawab
Linux dikembangkan dan dibesarkan oleh komunitas. Keberadaan komunitas ini tentunya sangat membantu pengguna lain bila sewaktu-waktu mengalami masalah dengan distronya.
Dengan bergabung di komunitas, ada hal positif yang dapat diperoleh seorang penggunal linux adalah terbukanya perpustakaan pengetahuan gratis. Bahkan pengetahuan itu dapat diperoleh tidak hanya dari jawaban para member yang lebih paham, namun dari seorang pengguna baru sekalipun melalui pertanyan yang dilontarkan.
Jika kita mau, dan memang memiliki waktu, ada baiknya pertanyaan atau pun jawaban yang berserakan di forum itu kita jadikan modal ide untuk menulis tutorial yang lebih lengkap untuk kita bagikan lagi pada mereka. Selain bermanfaat, secara tidak langsung kita juga akan belajar sesuatu yang sering disebut pendokumentasian. 
6. Kemampuan mengatasi permasalahan sistem operasi secara mandiri
Seperti yang telah diungkapkan di poin di atas, linux dikembangkan di lingkungan komunitas. Jika kita memang sedang mengalami suatu permasalahan, tentunya kita akan mencari solusinya dengan browsing terlebih dahulu di web-web yang bersebaran di internet. Dan bila belum menemukan solusi, barulah kita bertanya. Pada momen-momen ini, biasanya akan muncul seorang yang pernah mengalami hal yang sama dengan yang kita alami, dan orang tersbut akan memberikan solusi, sedang kita adalah eksekutor utamanya untuk memperbaiki permasalahan di komputer kita sendiri.
Nilai positfnya, selain kita memperoleh pengetahuan dari permasalahan yang kita hadapi, kita juga akan terbiasa untuk mandiri dan tidak sedikit-sedikit perhi ke tukang service komputer. Toh, tidak semua tukang service komputer paham soal linux.
7. Kemampuan untuk mengajak orang lain menggunakan perangkat lunak legal
Orang yang telah menggunakan linux, biasanya akan cenderung untuk membuat komunitas di sekitarnya. Namun, bagaimana bila tak ada? Makan terbesitlah inisiatif untuk memperkenalkan linux pada teman-teman sekitarnya. Satu hal yang mungkin kita jarang menyadarinya, ketika kita memperkenalkan linux, secara tidak langsung kita telah belajar mengenai public relation dan presentasi secara riil.
Tak jarang juga kita jadi PD untuk menyampaikan kalimat-kalimat anti pembajakan perangkat lunak (hanya perangkat lunak, karena kenyataannya MP3 da film-filmnya masih belum legal. Haha!). Dan kita melakukan itu semua atas dasar kesadaran dan tak ada tujuan komersil apalagi kapitalis. Wih!
8. Kemampuan untuk membandingkan sistem operasi satu dengan yang lain
Seorang pengguna linux mempunyai kebebasan memilih distro mana yang menurutnya cocok untuk menemani hari-harinya. Tentunya, saat ia memilih satu demi satu distro, secara tidak sadar orang tersebut telah memiliki kemampuan dasar untuk membandingkan kelebihan distro satu dengan distro lain, baik dari segi desktop, fitur dan lain-lain. Itulah salah satu hal positif dari keberagaman linux, berbeda bukan bila OS hanya memilik satu tampilan, satu fitur dan gitu-gitu aja . . .hehe, maaf lagi jadi antagonis.
9. Kemampuan untuk menjadi manusia yang tidak sekedar mengikuti perkembangan teknologi, namun juga ikut mengembangkan teknologi
Seperti yang diposting di linux biasawae, banyak hal yang dapat kita lakukan untuk membantu mengembangkan linux. Misalnya untuk yang sudah level-level mengah ke atas adalah dengan ikut memperbaiki bug suatu distro. Lalu bagaiman dengan newbie? Apa dapat berkontribusi? Tentu, dengan melaporkan adanya bug ke web pengembang yang bersangkutan. Dengan memberikan masukan, itu sama halnya dengan kita menyumbangkan gagasan atau ide yang nantinya akan ditindak lanjuti untuk kenyamanan pengguna di seluruh dunia. Wow keren!
Setidaknya 9 hal inilah yang tadi muncul di angan-anganku saat mengayuh sepeda sepanjang perjalan pulang dari kampus. Satu hal lagi yang ingin aku tekankan di sini, bahwa seorang penggun pemula alias newbie sekali pun adalah orang-orang hebat. Jadi jangan lagi ragu, ayo ajak temanmu, pacarmu, selingkuhanmu, atau siapa pun untuk belajar menggunakan linux! Tentunya dengan cara yang baik lho . . . .
Bagikan:

Monday, 31 August 2015

5 LANGKAH MUDAH BERKREASI DENGAN PESAN ERROR DI TERMINAL LINUX

Pagi gan, haha. . . Terima kasih buat grup linux di Fb yang lagi-lagi memberi saya ide untuk membuat postingan terbaru untuk blog ala kadarnya ini. Terimaksih juga buat agan dengan nick DA NY yang kemarin bertanya, kira-kira seperti inilah jawabannya.
Ok, untuk yang belum tahu. . .  Di postingan kali ini aku akan membahas salah satu trick unik di linux. Apa itu? Jreng. . .jreng. . .”MEMODIFIKASI PESAN ERROR COMMAND NOT FOUND”. . . . Trik macam apa sih itu?
Oke, simak dulu sebentar penjelasan (yg semoga mampu menjelaskan) ini.
Saat kita mengetikkan perintah di terminal linux dengan perintah yang tidak sesuai, contoh: lele, ayam panggang, aku dan lain-lain, maka terminal akan mengeluarkan output berupa pesan “command not found”. Nah pada post kali ini, kita akan bahas bagaimana caranya mengubah pesan error not found tersebut sesuai keinginan kita. Caranya?
Ok, pertama siapkan mental dan berdoalah terlebih dahulu sebelum melakukan apapun. Boleh sambil minum teh? Boleh.
Kedua, edit file .bashrc yang ada di /home/NAMAUSER. Cara praktisnya, buka terminal (ctrl+alt+t) lalu ketikkan
gedit .bashrc (enter)
ketiga, setelah text bashrc muncul pada gedit, masukkan kode ajaib ini dengan cara mem-paste-kannya di baris paling bawah.
 
command_not_found_handle () {
       printf "gak ana perintah ngono kuwi, cuk!\n Jajalen maneh, yo!!\n"
    return 127
}
 
Jangan sampai salah ya! Taruhannya nyawa lho . . .haha
Keempat, save tuh file .bashrc dan close
Terakhir, silakan dicoba dengan membuka terminal baru lalu mengetikkan perintah sesuka hati agan. Dan hasilnya . . . Jreng-jreng!

Perintah di atas masih bisa dimodif lagi untuk penambahan suara dengan cara menyisipkan perintah espeak "KALIMAT ANDA" tepat di atas kode printf. Seperti ini
 
command_not_found_handle () {
        espeak "KALIMAT ANDA”
       printf "gak ana perintah ngono kuwi, cuk!\n Jajalen maneh, yo!!\n"
    return 127
}

Ok. Mudah bukan? Gini nih enaknya pakai linux. Bahkan error pun dapat dijadikan mainan dan dimodifikasi. Hidup Windows! Ups! Hidup Rania! Hehe :-)
Sekian, semoga bermanfaat.
Bagikan: