Sunday, 21 June 2015

#The Second Love (TSL)

Sempat terbesit dalam benakku bahwa linux bukanlah slax semata, sebagaimana jenis-jenis windows yang bervariasi menurut versinya. Akibat dari pemikiran itu, aku jadi rajin bertanya pada mbah google dan mencari keluarga linux yang lain, dan ternyata dugaanku itu benar, di internet banyak sekali disebar berbagai varian linux. Pun demikian, entah mengapa aku masih belum tertarik dengan linux-linux lain, hatiku masih tertnacap di linux slax.
Menurut pengalaman yang aku dapat dari membaca beberapa artikel di internet, kita diperbolehkan untuk mengobok-obok sistem yang ada di linux dengan predikat legal. Selain itu, kita juga boleh membagi linux yang kita miliki kepada orang lain sesuka hati kita. Ya, hal itu amat diperbolehkan dalam hal software-software open source, seperti linux.  
Berbeda dengan windows yang mengharuskan kita untuk memebeli lisensinya bila ingin memakainya, dan bila kita tidak membeli maka windows kita termasuk windows ilegal alias melanggar hukum.
***
Suatu ketika aku bertandang ke rumah salah seorang sepupu di provinsi sebelah. Ketika di rumahnya aku dimintai konsultasi mengenai komputernya yang sering error lantaran diserang oleh virus.
“Tukang service bilang, ‘Kalo pengen aman dari virus ya, jangan pakai windows, dik’ gitu, Ram. Emangnya kalo nggak pake windows pakai apaan lagi coba?” tanya sepupuku.
“linux, Mas”
“Apa linux? Apaan tuh? Baru dengar aku. . .”
“Linux itu, seperangkat software yang memiliki fungsi untuk menjalankan komputer seperti windows” jelasku sederhana.
“Eh, bentar... Bentar...” sepupuku tiba-tiba pergi ke kamarnya dengan wajah seolah teringat sesuatu, “ini linux yang kamu maksud bukan?” ucapnya tiba-tiba sambil menunjukkan sebuah DVD biru bertuliskan, Mandriva.
Spontan aku kaget, karena aku sendiri baru pertama kalinya melihat langsung distro dalam bentuk DVD seperti yang dipegang oleh sepupuku, “Iya, kak. . . Tapi aku belum pernah liat yang itu”.
“Ya usah, ini coba kamu pasang di komputerku... Aku pengen liat linux itu kaya gimana.”
Aku agak gugup saat itu, aku seolah termakan dengan ucapanku sendiri yang terlalu mengunggulkan linux di hadapan sepupuku. Bahkan selama itu, aku belum pernah sekalipun menginstall linux di komputer, karena aku hanya sebatas menggunakan linux live usb belaka tanpa menginstallnya pada komputer.
“Waduh mas, masangnya lain kali saja ya... Aku belum pernah masang soalnya... Gimana kalo DVD-nya aku coba dulu di rumah, ntar kalau udah suskses, aku kemari lagi buat masang di komputermu?”
“Ehmmm, boleh... Boleh, ya udah ini buat kamu aja DVD-nya”
“Lah! Makasih mas!”
Aku pun segera pulang. Aku amat penasaran saat itu tentang linux Mandriva. Setelah samapi di rumah, bergegas aku coba DVD pemberian sepupuku itu di laptopku. Ya, aku dibelikan laptop oleh kedua orang tuaku saat aku duduk di kelas VIII.
Beberapa kali aku mencoba, kebingungan sukses kepalaku pening. Rupa-rupanya, menginstall linux sedikit berbeda dengan menginstall windows. Aku bertanya-tanya pada orang-orang di sekitarku yang aku anggap tahu ihwal komputer dan sayang sekali rata-rata dari mereka yang aku temui pandai soal teori komputer tapi nol soal praktek.
Tak satu pun dari mereka yang aku tanya tahu cara menginstall linux ke komputer, padahal sudah banyak dari mereka yang tahu teori-teori tentang linux. Alhasil, aku kembali berziarah ke mbah google, dan bertanya pada beliau. Jawaban belia cukup aneh juga menurutku, karena menurutnya untuk menginstal linux aku membutuhkan dua jenis partisi, yaitu partisi mount (/) dan partisi swap.
Setelah cukup yakin, dengan ilmu yang kuperoleh dari si mbah, aku pun mencoba untu memraktekannya dan alhmadulillah berhasil.
Ada hal yang membuatku takjub adalah lingkungan desktop mandriva yang amat familiar dan lebih bagus dari slax yang dulu pernah membuatku jatuh hati. Pada hari itu juga, untuk pertama kali dalam hidupku, aku bisa menginstal sebuah distro linux dan pertama kalinya juga berhasil mengajak seseorang memakai linux. Meski saat itu, aku belum bisa total lepas dari windows, namun aku berusaha semaksimal mungkin untuk memperbanyak waktuku berduan dengan mandriva dan segala kecantikan yang dimilikinya.
Bagikan:

2 comments:

Yobi Sardiyanto said...

Itu Mandriva versi brp ya? Setahuku distro itu sudah discontinued sejak 2011. Rosa, Mageia, dan OpenMandriva merupakan distro yg masih aktif hasil pengembangan dari Mandriva.

Rania el-Amina said...

mandriva 2009 gan . . . Iya, betul sekarang mandriva udah nggak dikembangin lagi, tapi ruh proyeknya masih berlanjut di rosa, mageia dan OpenMandriva . . .