Monday, 18 April 2016

Tentang Perjalanan di Muwadaah 2016 (Bag. I dari 2 tulisan)

“IKAMARU bukan sekedar kebanggan, namun juga tantangan untuk menjadi khoirunnas anfa’uhum linnas”

Jumat kemarin, usai kuliah dan menyelesaikan beberapa kegiatan di kampus, saya menyempatkan diri untuk menghadiri acara muwada’ah di pesantren yang amat saya rindukan. Sebelum keberangkatan, sempat ada sedikit masalah soal jadwal, namun apa boleh buat bila tekad di hati sudah bulat. Dengan diantarkan oleh teman sekelas, saya pun pergi ke terminal. Dan singkatnya, sampailah juga saya di Pati sekitar pukul 22.00 dengan lelah yang bercampur bahagia.

Malam itu saya dijemput oleh salah seorang teman baik saya, seorang teman yang dulu juga berjuang bersama saya ketika masih nyantri di Guyangan, Insanul Mahfidz. Saya sering memanggilnya dengan sebutan Kajar. Di rumah Kajar-lah saya menginap malam itu.

Sembari melepas lelah, saya dan anak berperawakan tinggi kurus itu bernostalgia dengan apa yang pernah terjadi selama kami berdua bersekolah di Raudlatul Ulum. Kami berdua bukan sekedar dekat, tapi amat dekat. Kegiatan padatlah yang dulunya membuat kami saling mengenal satu sama lain hingga seperti sekarang.

Akan sangat panjang jadinya, bila saya ceritakan isi nostalgia kami berdua. Setelah sama-sama lelah, kami pun rehat dengan sendirinya. Dan sejurus kemudian, datanglah pagi di hari Sabtu.

Sabtu itu, hanya ada dua agenda besar yang benar-benar ingin saya lakukan. Pertama, berziarah ke Almaghfurulah Yi Suyuthi kemudia yang kedua adalah berkunjung ke pondok yang bertahun-tahun dulu menampung kisah dan semua kenangan saya.

Di temani Kajar, berangkatlah saya ke maqbaroh Guyangan. Tanpa diduga, beberapa teman IKAMARU dari beberapa wilayah, termasuk Semarang, Malang dan Surabaya juga sedang beberapa di sana. Usai “bersapa rindu” dengan Yi Thi dengan bacaan Surat Yasin dan Tahlil, saya dan Kajar bergegas menuju rumah salah seorang teman kami (yang juga saya kangeni), Fajrul Falah alias Jin.
Jin inilah yang dulunya juga banyak membantu saya selama di Guyangan. Orang yang lugu dan sesekali membuat perasaan jengkel lahir karena ucap dan polahnya. Dia orang yang cerdas, setidaknya nama Jin yang melekat pada dirinya bisa dijadikan sebagai bukti. Ya, Jin merupakan potongan silabel dari kata dengan bunyi JIN-ius (plesetan dari jenius). Malam ini, saya akan bermalam di rumah Jin yang letaknya tak jauh dari pondok. Sebelum ini, saya sudah sering menginap di rumah Jin. Jadi, boleh dibilang, saya cukup akrab dengan keluarga si Fajrul ini.

Sesuai rencana yang sempat saya singgung di awal tadi, setelah cukup melepas penat, usai dzuhur kami bertiga berkunjung ke pondok putra, (sekali lagi) tempat yang benar-benar saya rindukan belakangan ini. Dag dig dug rasanya, ketika kaki ini kembali menapak dan melewati gerbang hijau pondok yang dulunya sering mengunci anak-anak yang telat berangkat ke madrasah.
Setelah mendapat izin dari lurah pondok, saya pun hilang sabar untuk segera masuk ke kamar. Dan, Allah! Betapa senangnya hati ini ketika mendapati teman-teman sekamar dulu sedang berkemas-kemas hendak wisuda besok. Semua anak di kamar menyalami saya dengan wajah penuh keceriaan. Saya hampir pangling. Bagaimana tidak, anak-anak MTs yang dulu masih kecil-kecil ketika aku lulus, kini sudah nampak besar. Hampir sebesar saya!

Kamar yang penuh kenangan itu, Abdullah bin Mas’ud namanya. Letaknya amat strategis. Bila ke bawah langsung ke kamar mandi dan dapur, bila ke atas menuju ke komplek G dan lantai 4, tempat menjemur pakaian. Sedangkan jika lurus menuju ke kamar-kamar komplek E dan jika ke kanan menuju komplek d. Banyak yang berubah dari kamar ini. Mulai dari warna cat yang dulunya hijau kini menjadi merah muda, serta beberapa penataan-penataan lain terhadap hiasan kamar. Ini kamar kami!

Puas bercengkrama dengan anak-anak kamar Mas’ud, saya teringar salah seorang teman saya di MDPA yang karena suatu hal ia tidak dapat wisuda bersama saya tahun lalu. Faisal Amar. Dari bawah, saya memberi kode kepada anak di lantai tiga untuk memanggilkan Amar. Dan tidak sampai satu menit, datanglah ia. Wajahnya penuh kebahagiaan. Suara tawanya masih sama. Rambutnya saja yang agak berbeda, agak pendek bila dibandingkan rambut saya, biasanya sebaliknya, hehehe....

Kami berdua bercakap banyak hal di teras kamar Mas’ud. Hingga akhirnya ia harus pergi, karena harus mengikuti gladi bersih wisuda di madrasah. Ya Allah, semua tampak gembira hari ini. Saya yang sudah lulus ini, malah jadi ikut tidak sabar untuk mengikuti prosesi wisuda besok pagi.

Selain Amar, di kantor pondok, saya juga berjumpa dengan Gus Nabil, putra dari pengasuh pondok ini. Dari beliau, saya mendapatkan buku wirid as-Suyutiyyah yang dulu belum dicetak sebagus yang saya dapatkan ini. Selain as-Suyutiyyah, saya juga beroleh majalah Bangkit dari pentolan ISRU yang sedang berkemas-kemas hendak ke madrasah untuk mengikuti gladi bersih pula. 
Saya tidak bisa menuliskan, bagaiamana perasaan saya yang amat senang siang itu melalui tulisan ini. Rasa-rasanya, saya kesulitan mencari kata yang dapat mewakili kegembiraan saya kala itu. Tak apa, toh nantinya semua rekan-rekan IKAMARU 2016 juga pasti akan merasakannya sendiri. Perasaan bahagia ketika kembali ke pondok pesantren. Perasaan bahagia ketika dapat kembali mencium tangan guru-guru Guyangan. Perasaan bahagia-bahagia lain ketika rindu dapat dipatahkan!

Bagikan:

Wednesday, 16 March 2016

Install/Upgrade Kernel Linux 4.5 Final di Ubuntu/Mint dkk

Sejak beberapa hari yang lalu, dunia Linux mulai ramai berkabar ihwal perilisan versi stabil kernel 4.5 oleh Sang Empu Linux. Banyak pembaruan dan perbaikan yang terdapat pada kernel versi ini. Dan atas hal tersebut, saya tak berniat ingin menjelaskannya pada tulisan ini. 
Saya hanya ingin berbagi saja langkah-langkah yang mungkin bisa anda coba untuk menicipi kernel ber-code name Blurry Fish Butt ini. Ah iya, secara khusus langkah-langkah ini hanya untuk rekan-rekan yang menggunakan distro keluarga debian.

Pertama, buka terminal, buat folder baru dengan perintah

$ mkdir namafolder

Enter

Lalu masuk ke folder tersebut dengan perintah

$ cd namafolder

Lalu download ketiga file kernel bertipe *.deb melalui perintah berikut

Untuk yang menggunakan sistem 32bit

$ wget kernel.ubuntu.com/~kernel-ppa/mainline/v4.5-wily/linux-headers-4.5.0-040500_4.5.0-040500.201603140130_all.deb

$ wget kernel.ubuntu.com/~kernel-ppa/mainline/v4.5-wily/linux-headers-4.5.0-040500-generic_4.5.0-040500.201603140130_i386.deb

$ wget kernel.ubuntu.com/~kernel-ppa/mainline/v4.5-wily/linux-image-4.5.0-040500-generic_4.5.0-040500.201603140130_i386.deb
 

Untuk yang menggunakan sistem 64 bit

  • $ wget kernel.ubuntu.com/~kernel-ppa/mainline/v4.5-wily/linux-headers-4.5.0-040500_4.5.0-040500.201603140130_all.deb
  •  
  • $ wget kernel.ubuntu.com/~kernel-ppa/mainline/v4.5-wily/linux-headers-4.5.0-040500-generic_4.5.0-040500.201603140130_amd64.deb
  •  
  • $ wget kernel.ubuntu.com/~kernel-ppa/mainline/v4.5-wily/linux-image-4.5.0-040500-generic_4.5.0-040500.201603140130_amd64.deb

Setelah semua terunduh, jalankan perintah berikut untuk instalasi

$ sudo dpkg -i *.deb

Masukkan password root, lalu ENTER

Setelah selesai silakan reboot distro Anda. 

$ sudo reboot

Dan akhirnya, selamat menikmati.
Bagikan:

Saturday, 12 March 2016

Bagaimana Coba?!

Ada satu hal yang cukup menggelikan sekaligus membuat semacam ironi dalam benak saya beberapa bulan terakhir ini. Lagi-lagi ini tentang open source.

Sebagaimana yang pernah saya kisahkah sebelumnya, saya kuliah di Fakultas Ilmu Budaya UGM yang konon pernah memiliki proyek bernama Budaya Goes Open Source (BUGOS). Dan kini, proyek itu hanya tinggal nama, dan hanya menyisakan beberapa unit komputer di perpustakaan yang masih tertanam Linux Mint.

Selain BUGOS, sebenarnya di tingkat universitas juga sempat berjalan proyek UGM Goes Open Source (UGOS) namun sekali lagi teramat disayangakan proyek tersebut tak terdengar lagi gaungnya. 

Ya, MoU dengan pihak Microsoft mungkin saja adalah salah satu sebab mengapa kedua proyek ini ter-pause, jika tidak ingin dikatakan terhenti. Saya menulis ini secara subjektif dari apa yang saya ketahui di lapangan, jadi soal data empirik silakan bisa dibuktikan oleh pembaca sekalian dengan malakukan penelitian khusus jika memang diperlukan.

Sebelum tulisan ini, saya pernah juga menulis tentang hal yang senada dengan ini. Tentang kesimpangsiuran proyek FOSS di kampus. Namun, tulisan tersebut memang sengaja tidak saya posting karena beberapa alasan.

Baiklah, kembali pada kalimat pertama yang saya tulis di awal tulisan ini. Semenjak beberapa bulan lalu, form login untuk menikmati hotspot di lingkungan FIB mengalami sedikit perubahan. Sebelum masuk pada form login, kini para mahasiswa harus menyetujui beberapa peraturan terkait etika penggunaan fasilitas wifi di kampus. Ada lima poin utama yang tertuang dalam perjanjian tersebut, dan pada ini, saya fokus pada poin kelima yang menganjurkan para mahasiswa untuk menggunakan Free Open Source Software.




Saya ingin memberikan analogi kecil, ketika Anda dilarang melompati pagar namun tidak disediakan pintu atau semacamnya untuk Anda lewat, apa yang kemudian muncul di benak Anda? Bingung? Tepat sekali. Kira-kira kira itulah yang saya pribadi rasakan di lingkungan ini. Bagaimana dengan orang lain? Bukannya saya hendak berprasangka buruk, namun sepertinya meraka tak acuh soal hal ini. Bahkan mereka juga tak acuh soal perangkat yang mereka pakai. Asal menyala, tugas lancar, selesai masalah.

Entahlah, saya juga tak mengerti. Sementar, ada baiknya tulisan ini saya cukupkan dulu. Pening!
Bagikan:

Thursday, 10 March 2016

Bukan Melulu Power Point!

Baiklah, aku mulai tak tahan dengan fenomena kecil yang terjadi di sekitarku. ini persoalan sepele tapi cukup membuat telingaku geli.
Seorang teman, bahkan beberapa dosen mengatakan pada kami, “Silakan kalian buat Power Point tentang bab kedua ini, minggu depan kita diskusikan”. Lalu, tak lama kemudian seorang teman menimpali, “Eh, buatin Power Point-nya ya!”. Saya menggeleng kemudian tersenyum. 

Lewat tulisan ini, aku ingin mengingatkan, sekali lagi mengingatkan BUKAN menjelaskan, bahwa Power Point merupakan salah satu merk perangkat lunak buatan Microsoft. Sedangkan apa yang mereka bicarakan di atas sebenarnya lebih menjurus pada pembuatan presentasi BUKAN Power Point!
Ini tak ubahnya orang-orang pedesaan yang menyebut segala jenis kendaraan bermotor roda dua dengan sebutan Honda, tanpa peduli merk aslinya. Atau secara tanpa sadar melabeli segala jenis air mineral dengan nama Aqua. Dalam pembelajaran bahasa, ini disebut metonimi. 

Secara maksud, tentu saja bukanlah menjadi soal selama tidak menimbulkan kesalahan paham. Namun, akan menjadi lain bila kita membahas ihwal perangkat lunak. Jika para dosen meminta saya membuat tugas melulu dengan Power Point, maka sampai hari ini tidak akan ada tugasku yang sesuai dengan permintaan dosen itu. Bagaimana tidak, lha wong saya tidak menggunakan Ms. Office sama sekali kok. Tapi jika yang dimaksud oleh beliau adalah pembuatan presentasi, maka tentu saja ini tidak jadi soal sama sekali. Sebab untuk melakukan presentasi aku bisa menggunakan WPS Presentation, Libre Office Impress, atau bahkan file yang berformat PDF atau SWF.  

Kalau boleh mengatakan dan mengira-ngira, fenomena tersebut merupakan salah satu dampak branding yang boleh dibilang sangat berhasil. Dan ini menjadi tantangan bagi para penggiat FOSS untuk terus berjuang mempopulerkan media presentasi. Untuk hal ini, aku tak ingin berkelakar banyak tentang keuntungan yang akan diperoleh dari hal ini, namun silakan saja lihat nanti.  

Ini tak jauh beda dengan salah satu syarat yang kadang tertuang dalam perlombaan menulis yang juga kerap membuatku gatal. Misalnya dalam lomba cerpen, “Cerpen diketik dengan Ms. Word, font TNR 12 spasi satu setengah”. Memangnya semua orang pakai Ms. Word Bang?! Lagi-lagi dominasi seolah menafikan pihak lain.
Bagikan:

Wednesday, 20 January 2016

Desain Cover 100% Inkscape

Beberapa lama tidak posting, rasanya gatel juga rupanya!
Sombong-sombongnya nih, lagi sibuk sama event sastra, jadi selama Januari-Februari nanti, ya. . . begitulah bergelut dengan pementasa-pementasan sastra di Jogja. 
Seiring dengan kesibukan itu, secara tidak langsung aku juga terdesak untuk belajar banyak hal, termasuk di antaranya adalah belajar desain grafis untuk keperluan poster, katalog, id-card dan segala "tetek mbengek" lainnya.
Mau tidak mau, aku memang harus belajar.
Awalnya aku masih menggunakan Photoshop 7 untuk urusan desain, eits! jangan salah, biarpun saya pakai Photoshop tapi itu perangkat legal kok, soalnya aku beli lisensinya saat masih SMP dulu. Gila, waktu itu mahal BANGET! Tapi, yah . . . namanya idealisme bocah sih. Lambat laun, usai melihat beberapa hasil majalah Bang Ade Malsasa - ROOTMagz - aku malah jadi tertarik untuk belajar desain dengan open source software. Yups, berkenalan dan bermesraanlah  aku dengan software mungkil bernama INKSCAPE. 
Jujur saja, awalnya aku tidak mengira sama sekali bahwa inkscape bisa membantuku samapai sejauh ini. Kalau dilihat sepintas, tampilannya memamng mirip dengan Corel, namun secara jujur-jujuran saja, interface corel memang lebih menarik dibandingkan FOSS ini. Pun demikian, dengan segala kesungguhan (karena kepepet pekerjaan) akhirnya sedikit demi sedikit aku belajar menggunakan tool-tool inkscape yang tersedia. Akhirnya . . . .jreng-jreng!
Memang belum semahir para desainer, tapi setidaknya sekarang aku merasa mendapatkan hal baru dan HAHAHA, kau tahu . . . di saat sedang mendesain bersama rekan kerja, dengan laptop yang serba pas-pasan perangkatnya ini, aku bisa bekerja dengan lancar dan wus. . wus. . wus . . ., sungguh berbeda dengan rekanku yang harus menunggu laptopnya freeze beberapa saat ketika menggunakan Corel Draw, Photoshop atau Illustrator.
btw, aku ingin mengucapkan terima kasih juga nih, buat temanku, seorang desainer yang cukup berpengalaman. Meskipun dia nggak pakai FOSS, tapi dia nggak pernah tuh ngremehin FOSS, bahkan dia dukung banget aku belajar inkscape. Haha, andai saja orang-orang berpikiran luas seperti dia . . wkwkw
THANKS, FOSS!



Desain Cover dengan Inkscape
Bagikan:

Wednesday, 30 December 2015

Ian Murdock Masih Hidup!

Pagi ini kabar mengagetkan tentang Ian Murdock menggemparkan khalayak, khususnya para penggiat open source di seluruh dunia. Dunia memberitakan bahwa pria kelahiran 1973 itu telah meninggal. Tidak! Ia belum meninggal.

Saya pribadi memang sekedar mengenal beliau melalui beberapa tulisan biografi tentangnya. Seketika itu, saya pun terkagum dengan ciptaanya berupa apt-get yang masih saya gunakan sampai detik ini. Kau tahu, apt-get adalah tool canggih yang benar-benar mempermudah saya dalam melakukan manajemen pemaketan pada distro linux, khususnya linux yang merupakan turunan Debian.

Baiklah, saat ini dunia memang mengabarkan tentang berita duka itu dan segala seluk beluk penyebabnya yang masih simpang siur, namun saya ingin sekedar berbagi angan tentang hal ini. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, makhluk ciptaan Ian Murdock bernama Debian bukanlah makhluk biasa. Ia adalah sistem yang terkenal dengan kestabilan dan kehandalan sistemnya. Selanjutnya, mari kita tengok. . . apakah Debian hanya sekedar berwujud Debian. Ah, saya rasa tidak. Debian telah beranak pinak dengan menjadi inspirasi bagi kelahiran distro-distro besar lainnya, termasuk Ubuntu. Bahkan Blankon pun juga menggunakan Debian sebagai inspirasinya, bahasa terbaik bagi saya untuk basis.

Saya tidak bisa memaksa anda untuk mempercayai pernyataan bahwa Ian Murdock masih hidup. Tapi, entahlah. Karena kematian hanya berlaku bagi orang yang tidak pernah melakukan hal berguna bagi orang lain selama hidupnya. Dan Ian Murdock bukanlah orang yang demikian. Jiwa boleh terbenam dalam tanah. Tapi spirit, sumbangsih, pengaruh dan semangat juang adalah matahari yang membenci arah barat. Apa anda juga akan seperti itu?
Bagikan:

Tentang Tweaking Cinnamon (Bagian Pertama dari 4 Tulisan)



Sebagaimana yang sempat aku singgung di tulisanku sebelumnya, pada kesempatan ini aku akan mencoba untuk berbagai tentang sebuah artikel mengenai tweaking cinnamon desktop. Secara subjektif, aku ingin mengatakan bahwa artikel yang hendak aku coba alih bahasa-kan ini cukup menarik. Mengapa? Tidak ada alasan yang benar-benar kuat sebenarnya, namun satu hal yang aku tangkap, sebagai pengguna setia linux mint, bahwa sampai saat aku menulis coretan ini, linux mint masih menjadi salah satu distro yang cukup populer dan itu juga juga berimbas pada familiarnya desktop cinnamon yang dimilikinya.
Bagi yang belum tahu, cinnamon merupakan salah satu desktop andalan yang dimiliki oleh linux mint selain mate dkk. Bagi sebagian orang yang pernah menggunakan beberapa macam desktop, tak sedikit yang berargumen bahwa cinnamon termasuk desktop cantik yang “agak rakus” dan cenderung berat. 
Berangkat dari hal itu, maka aku rasa argumen tersebut merupakan sebuah tantangan tersendiri untuk “mencoba” melakukan tweaking pada desktop ini. Ah iya, sebagaimana “ketololan” yang sering aku lakukan, dalam pengalih-bahasaan ini aku akan menggunakan gaya ujar seperti biasanya. Jadi, semoga pembaca sekalian tidak bingung dan berujung pada tindakan bunuh diri di awal tahun 2016. Ok, lupakan.
Tweaking ini, akan dibagi menjadi 3 bagian. Pertama, 10 bagian yang (jika tidak berlebihan boleh dibilang) cukup penting, dengan kata lain wajib. Kedua, hal-hal yang direkomendasikan alias sunnah untuk dilakukan dan yang terakhir adalah bagian yang mungkin diperlukan alias mubah untuk dilakukan.
Baiklah, sebelum coretan ini kulanjutkan, ada baiknya cantumkan terlebih dahulu daftar tindakan yang akan dilakukan. Setidaknya, bila agan serius untuk melakukan ini, daftar ini akan mempermudah agan. Maksudnya? Ya, anggap saja ini sebagi list itndakan yang dapat agan pilih dan centang usai dilakukan. Sehingga jelaslah nantinya apa yang akan ada lakukan pada linux mint agan.
Khusus untuk daftar ini aku sengaja tidak menerjemahkannya. Karena aku pikir istilah semacam ini akan menjadi sedikit rancu jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Apalagi oleh orang yang kemampuan berbahasa inggrisnya pas-pasan macam aku, hehe.
    1. TEN ESSENTIAL ACTIONS:
        1.1 Apply all available updates
        1.2 Better settings for the terminal, Update Manager and the mechanism for installing software
            1.2.1 Improve a terminal setting
            1.2.2 Consider changing the settings of Update Manager
            1.2.3 Improve the settings of the mechanism for installing software
        1.3 Install missing drivers
            1.3.1 Preferred order for the non-free video drivers
        1.4 Optimize your Solid State Drive (SSD)
        1.5 Install a better Flash Player and some useful tools for system management
        1.6 Decrease the swap use (important)
        1.7 Solve some known bugs
        1.8 Avoid 10 fatal mistakes!
        1.9 Turn on the firewall
        1.10 Improve multimedia and font support
    2. NINE RECOMMENDED ACTIONS (NOT ESSENTIAL):
        2.1 Remove Mono and Orca
        2.2 Optimize Firefox
        2.3 Tweak Libre Office
        2.4 Disable hibernation (suspend-to-disk)
            2.4.1 How to undo
        2.5 Install an extra web browser
        2.6 Speed up your Linux Mint
        2.7 Improve Power Manager for a laptop
        2.8 Install a better DVD burning application
        2.9 Extra visual effects: the fewer, the better
    3. TEN NEUTRAL TWEAKS (MAYBE USEFUL):
        3.1 Add a weather report to the panel
        3.2 Change the wallpaper
        3.3 Access your network disk (NAS) with Gigolo
        3.4 Migrate your e-mail from Outlook (Express) in Windows, to Linux Mint
        3.5 Install some simple games
        3.6 Make the Grub boot menu pretty
        3.7 Turn NumLock turn on automatically
        3.8 Make available updates more prominent
        3.9 Disable window tiling and the HUD
        3.10 Disable window thumbnails on hover
    4. Want more tips?
5. Get help

Semua tindakan yang disebutkan diatas merupakan tindakan aman dan tidak menimbulkan crash pada sistem linux agan. Dari keterangan diartikel tersebut, si penulis memang seorang spesialis di linux mint dan tindakan-tindakan tersebut telah teruji secara konservatif. Untuk penjelasan detailnya, tunggu artikel selanjutnya . . .

Source : https://sites.google.com/site/easylinuxtipsproject/mint-cinnamon-first
Bagikan: