Wednesday, 18 November 2015
Sunday, 8 November 2015
Sunday, 1 November 2015
Friday, 30 October 2015
Sekali Lagi Tentang Presiden RI dan Open Source!
Beberapa hari belakangan ini, di beberapa forum yang aku ikuti terdengar begitu riuh soal Pak Onno "yang menggugat" presiden RI. Beberapa media mengabarkan berita tersebut dan berujung pada debat kusir pada kolom komentarnya. Jika melihat cara mereka berkomentar, boleh aku katakan sebagian besar dari mereka yang berdebat tidak begitu paham apa yang merek kritiki dan apa yang mereka persalahkan.
Beberapa komentator yang moderat seringkali mengucapkan, “Semua hal kan ada positif dan negatifnya”. Untuk kali ini aku tidak terlalu tertarik untuk ikut berdebat mana yang salah mana yang benar. Semua bisa saja benar, tapi bisa juga salah. Anggap saja kita sedang berjudi tentang nasib masa depan yang akan terjadi pasca terjadinya MoU RI dengan Microsoft.
Aku memang pernah menulis soal surat tentang pengguna open source yang meminta perhatian dari pemimpin negeri. Namun, apalah arti surat bodoh itu. Usai mengikuti pesta rilis Ubuntu Wily kemarin, aku jadi terngiang-ngiang soal dukungan open source di Indonesia.
Sekarang, persetan dengan apa yang mau dilakukan oleh para petinggi negara. Jika itu dianggap yang terbaik, maka biarkanlah. Namun tetap saja, sebagai pengguna open source, aku merasa perlu adanya sedikit perubahan dalam tubuh komunitas yang telah berkembang cukup pesat.
Aku sempat kagum dengan apa yang telah dilakukan oleh tim GrombyangOS. Ya, mereka benar-benar terjun ke lapangan untuk memberikan sosialisasi tentang FOSS dan Linux. Anggaplah itu adalah contoh yang sederhana dan langkah pertama yang cukup baik dan perlu dilanjutkan serta di kembangkan.
Soal biaya? Untuk sebuah harapan kemerdekaan, tentu saja sedikit banyak ada biaya yang harus dikeluarkan. Orang Jawa bilang, “Jer basuki mawa bea”. Tapi entah mengapa aku merasa nggak ikhlas kalau uang negara dilarikan keluar negeri untuk membeli perangat lunak dan embel-embel dukungan yang akan diberikan. Aku lebih senang kalau duit negara itu dipakai untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam negeri ini, di bidang apapun lah . . . asal bukan bidang suap dan korup lho!
Mereka lebih baik, ya tentu saja. Kacamata mereka adalah kacamata bisnis. Tapi ayolah, sampai kapan kita akan jadi konsumen. Seperti yang sudah pernah aku bilang sebelumnya, meski tak sebaik produk yang komersial, namun setidaknya kita mampu mengembangkan produk yang sepadan dan cukup untuk sekedar memenuhi kebutuhan perkomputeran sehari-hari. Jangan pernah lupa, ketika negara ini dibentuk, negara ini cuma punya modal semangat dan tindakan-tindakan pasti secara pelahan hingga terwujud keadaan seperti sekarang ini. Nah, lalu kenapa kita takut untuk membuat perubahan?
Maaf, maaf . . . Aku mulai nglantur, intinya ada atau tidak adanya dukungan pemerintah, bukanlah alasan bagi pengguna open source untuk berhenti berkarya. Menjadi pengguna fanatik, sesekali bukanlah masalah, asal fanatik yang memberikan solusi. Kita sudah memiliki lumayan banyak SDM dan karya-karya open source. Tinggal bagaimana mengemasnya saja. Ini bukan soal pemasaran melulu, ilmu dan pengetahuan tidak melulu harus menjadi barang dagangan. Pada suatu posisi, pengetahuan harus menjadi barang yang dapat dibagikan secara cuma-cuma. Dan terakhir, untuk Anda, Pak Presiden RI, tolong jawab pertanyaan ini--bila Anda sempat membaca tulisan ini tentunya--, “Adakah yang salah dari sebuah harapan untuk terbebas dari belenggu produk asing? Adakah yang slaah dari keinginan untuk memerdekaan Indonesia? Adakah yang salah dengan membangkan produk dalam negeri yang meskipun masih ala kadarnya ini? Apakah kami salah bila kami berujar seperti ini?”. Saya yakin Anda orang cerdas dan hebat, namun mungkin belum kenal dengan barang yang namanya Open Source, jadi tentu saja aku tidak bisa menyalahkan orang yang tidak tahu.
Beberapa komentator yang moderat seringkali mengucapkan, “Semua hal kan ada positif dan negatifnya”. Untuk kali ini aku tidak terlalu tertarik untuk ikut berdebat mana yang salah mana yang benar. Semua bisa saja benar, tapi bisa juga salah. Anggap saja kita sedang berjudi tentang nasib masa depan yang akan terjadi pasca terjadinya MoU RI dengan Microsoft.
Aku memang pernah menulis soal surat tentang pengguna open source yang meminta perhatian dari pemimpin negeri. Namun, apalah arti surat bodoh itu. Usai mengikuti pesta rilis Ubuntu Wily kemarin, aku jadi terngiang-ngiang soal dukungan open source di Indonesia.
Sekarang, persetan dengan apa yang mau dilakukan oleh para petinggi negara. Jika itu dianggap yang terbaik, maka biarkanlah. Namun tetap saja, sebagai pengguna open source, aku merasa perlu adanya sedikit perubahan dalam tubuh komunitas yang telah berkembang cukup pesat.
Aku sempat kagum dengan apa yang telah dilakukan oleh tim GrombyangOS. Ya, mereka benar-benar terjun ke lapangan untuk memberikan sosialisasi tentang FOSS dan Linux. Anggaplah itu adalah contoh yang sederhana dan langkah pertama yang cukup baik dan perlu dilanjutkan serta di kembangkan.
Soal biaya? Untuk sebuah harapan kemerdekaan, tentu saja sedikit banyak ada biaya yang harus dikeluarkan. Orang Jawa bilang, “Jer basuki mawa bea”. Tapi entah mengapa aku merasa nggak ikhlas kalau uang negara dilarikan keluar negeri untuk membeli perangat lunak dan embel-embel dukungan yang akan diberikan. Aku lebih senang kalau duit negara itu dipakai untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam negeri ini, di bidang apapun lah . . . asal bukan bidang suap dan korup lho!
Mereka lebih baik, ya tentu saja. Kacamata mereka adalah kacamata bisnis. Tapi ayolah, sampai kapan kita akan jadi konsumen. Seperti yang sudah pernah aku bilang sebelumnya, meski tak sebaik produk yang komersial, namun setidaknya kita mampu mengembangkan produk yang sepadan dan cukup untuk sekedar memenuhi kebutuhan perkomputeran sehari-hari. Jangan pernah lupa, ketika negara ini dibentuk, negara ini cuma punya modal semangat dan tindakan-tindakan pasti secara pelahan hingga terwujud keadaan seperti sekarang ini. Nah, lalu kenapa kita takut untuk membuat perubahan?
Maaf, maaf . . . Aku mulai nglantur, intinya ada atau tidak adanya dukungan pemerintah, bukanlah alasan bagi pengguna open source untuk berhenti berkarya. Menjadi pengguna fanatik, sesekali bukanlah masalah, asal fanatik yang memberikan solusi. Kita sudah memiliki lumayan banyak SDM dan karya-karya open source. Tinggal bagaimana mengemasnya saja. Ini bukan soal pemasaran melulu, ilmu dan pengetahuan tidak melulu harus menjadi barang dagangan. Pada suatu posisi, pengetahuan harus menjadi barang yang dapat dibagikan secara cuma-cuma. Dan terakhir, untuk Anda, Pak Presiden RI, tolong jawab pertanyaan ini--bila Anda sempat membaca tulisan ini tentunya--, “Adakah yang salah dari sebuah harapan untuk terbebas dari belenggu produk asing? Adakah yang slaah dari keinginan untuk memerdekaan Indonesia? Adakah yang salah dengan membangkan produk dalam negeri yang meskipun masih ala kadarnya ini? Apakah kami salah bila kami berujar seperti ini?”. Saya yakin Anda orang cerdas dan hebat, namun mungkin belum kenal dengan barang yang namanya Open Source, jadi tentu saja aku tidak bisa menyalahkan orang yang tidak tahu.
Puisi di Wily Release Party 2015
Ditulis Oleh Rania Amina
pada 09:47
dalam Aku dan Linux, Apresiasi Satra, Puisi, Sepotong Kisah
|
No comments
Seseorang yang "lupa" aku tanyakan namanya memintaku untuk memosting puisi yang aku bawakan dalam Pesta Rilis Ubuntu di Fakultas Teknik siang-sore tadi. Jujur saja aku akui, bahwa jika dikoreksi dari sudut pandang sastra, puisi yang aku bawakan bukanlah termasuk puisi yang bagus karena ada beberapa unsur puisi yang "sengaja" aku abaikan. Hal itu aku lakukan bukan tanpa sebab, setidaknya aku hanya ingin menyesuaikan dengan hadirin yang mendengarkan,. Tentu saja aku dapat mengatakan bahwa hadirin yang ada di tempat tersebut belum tentu paham ihwal sastra, maka dari itu goal yang aku harap dari puisi yang aku buat lebih condong ke pehaman dan pesan yang ingin aku sampaikan, dan semoga berhasil.
By the way, thanks banget buat arek-arek panitia dari Fakultas Teknik yang telah memberikan aku kesempatan buat membawakan puisiku, thanks juga buat Mas Dedy dkk, keren dah pokoknya!
Oh, iya ini puisi yang aku bawakan tadi. Semoga bermanfaat!
Sebuah Pertemuan Penguin Garuda
telah terbit matahari pagi ini
untuk jadi saksi kita berkumpul di sini
tak lain sekedar menyatukan visi hati
berharap sebuah kesepakatan akan lahir
mengapa niat baik jarang terlihat
mengapa niat baik selalu jadi barang teracuhkan
mereka sebut kita bagian dari hacker (sedikit penjelasan)
dimana salahnya?
bukankah kita berdiri dengan kaki yang kita miliki
kita ambil bagian soal perkembangan teknologi
kita coba tak sekedar jadi pengikut ketidakpastian
kitalah simbol dari kebhinekaan yang telah lama terkonsep
berbagi bagian dari kehidupan
pengetahuan tak ubahnya bom waktu yang harus segera dilempar
bagai makanan jutaan orang lapar
tak mau berbagi adalah tanda kematian hidup
kita bukan pengemis bukan peminta-minta
bukan saatnya bergantung pada yang duduk di kursi
untuk apa sebuah harapan
bila akhirnya dikecewakan
maka kawinkanlah kegagahan garuda dengan kedermawanan penguin
sudah tiba masa kita bungkam segala suara
yang tak pernah lelah pandang sebelah mata cita-cita kita
apa yang salah dari keinginan merdeka?
tapi kenapa mereka asingkan kita
kita bukan pejabat yang naik pangkat jadi koruptor
kita bukan teroris yang rajin membenihkan teror
kita hanya ingin berbagi mengapa sulit sekali
matahari masih saksikan pertemuan kita
saudaraku, kita berjuang tanpa mengenal nama
kita membantu tanpa pandang sara
tak ada pamrih diantara kita, dan semoga itu berlaku selamanya
sekarang tiba saatnya sebuah pertanyaan
apa penguin yang kita piara, akan terbiarkan mendekam
atau kita terbangkan dengan sayap garuda raya?
itu sebuah pilihan
Yogyakarta 2015
Rania el-Amina
Puisi ini terinspirasi dari Sajak Pertemuan Mahasiswa karya Si Burung Merak
telah terbit matahari pagi ini
untuk jadi saksi kita berkumpul di sini
tak lain sekedar menyatukan visi hati
berharap sebuah kesepakatan akan lahir
mengapa niat baik jarang terlihat
mengapa niat baik selalu jadi barang teracuhkan
mereka sebut kita bagian dari hacker (sedikit penjelasan)
dimana salahnya?
bukankah kita berdiri dengan kaki yang kita miliki
kita ambil bagian soal perkembangan teknologi
kita coba tak sekedar jadi pengikut ketidakpastian
kitalah simbol dari kebhinekaan yang telah lama terkonsep
berbagi bagian dari kehidupan
pengetahuan tak ubahnya bom waktu yang harus segera dilempar
bagai makanan jutaan orang lapar
tak mau berbagi adalah tanda kematian hidup
kita bukan pengemis bukan peminta-minta
bukan saatnya bergantung pada yang duduk di kursi
untuk apa sebuah harapan
bila akhirnya dikecewakan
maka kawinkanlah kegagahan garuda dengan kedermawanan penguin
sudah tiba masa kita bungkam segala suara
yang tak pernah lelah pandang sebelah mata cita-cita kita
apa yang salah dari keinginan merdeka?
tapi kenapa mereka asingkan kita
kita bukan pejabat yang naik pangkat jadi koruptor
kita bukan teroris yang rajin membenihkan teror
kita hanya ingin berbagi mengapa sulit sekali
matahari masih saksikan pertemuan kita
saudaraku, kita berjuang tanpa mengenal nama
kita membantu tanpa pandang sara
tak ada pamrih diantara kita, dan semoga itu berlaku selamanya
sekarang tiba saatnya sebuah pertanyaan
apa penguin yang kita piara, akan terbiarkan mendekam
atau kita terbangkan dengan sayap garuda raya?
itu sebuah pilihan
Yogyakarta 2015
Rania el-Amina
Puisi ini terinspirasi dari Sajak Pertemuan Mahasiswa karya Si Burung Merak
Sunday, 25 October 2015
Rindu pada Rasa
Kalu boleh aku katakan, aku tak begitu paham motifku dalam menulis tulisan ini. Aku rasa tulisan kali ini benar-benar berangkat dari kegersangan hatiku yang berlarut-larut. Secara sederhana, aku sedang mengalami kerinduan yang tak jelas. Ya, tak jelas pada siapa, dan tak jelas mengapa aku merasa rindu. Namun, yang sementara ini kusadari adalah kerinduanku pada sesuatu yang kesebut rasa.
Sudah sebulan lebih sandaran yang selama ini menegakkan hatiku pergi. Sesuatu yang rumit membuatnya lenyap begitu mudahnya. Menyisakan lembab dan basah di kedua pipi. Entahlah, apakah hidup yang dijalaninya saat ini mengalami perubahan dengan ada atau tidak adanya diriku, aku tak tahu. Lagi-lagi aku sekedar tahu, bahwa kalimat dalam puisi Chairil Anwar benar-benar berlaku pada diriku. Ya, batinku terasa mampus karena dikoyak sepi.
Ketika kembali kupndangi foto-fotonya yang tersenyum, kubaca kembali surat demi surat yang pernah ia kirimkan untukku, seketika sesak sekali dadaku. Aku tak mampu mengatur naik-turun napasku. Aku ingin menyapanya kembali, namun rupanya kehangatan yang dulu telah benar-benar marah padaku dan mungkin hengkang karena alasan itu.
Ya, sadar atau tidak, ini tulisan memang nglantur. Aku tak tahu harus dengan kalimat apa kurepresentasikan perasaanku ini. Puisi tak lagi cukup untuk mengobati kerinduanku pada rasa. Jika aku trus berdiam diri seperti ini, aku seolah merasakan perih Zainuddin ketika ditinggal oleh Hayati. Seperti Rendra yang kehilangan intuisi kebahasaannya, atau seperti Sujiwo Tejo yang kehilangan republiknya.
Kekacauan ini mungkin saja simbol dari kekacauan dalam diriku yang sebagian memang aku biarkan keluar. Kekecewaan pada diriku pasca acara dimalam Jumat kemarin jelas masih tergambar detail di kepalaku. Dalam nuraniku pun aku sedang terjadi kecamuk antara aku dan seseorang yang mengaku-aku diriku. Arg! Aku tak bisa menjelaskan, sialan! Kali ini, aku benar-benar ingin airmata basahi wajahku, aku ingin airmata melegakan semua yang kusebalkan ini, bagai awan yang menyatu sebagai air dalam hujan.
Rania dalam Ombangambing Hati
Saturday, 17 October 2015
Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu (Puisi Cinta Tanpa Cinta)
Angin apa ini dinginnya melebihi rindu
Rantingranting pohonan jadi bersampur merah
Mengajakku menari gigil di bawah jembatan
Rahim tua yang melahirkan anakanak sungai
Mimpiku pun jatuh pada selembar daun
Dihempaskannya di atas batubatu kali
Sebelum terbawa arus deras lahar dingin
Hancur dan sampai muaranya: lautmu
Betapa mungkin angin tipis ini rutin
Mengurai rambut panjangmu menjadi gerimis
Sebelum hujan pecah di bingkai jendela
Dan kupukupu terbang ke dalam cermin kamarmu
Asef Saiful Anwar
Puisi tersebut pertama kali aku dengar dibawakan oleh grup musikalisasi puisi Ramu Rima saat acara Kampung Budaya FIB UGM. Sejujurnya saat awal mendengar aku kurang begitu tertarik dengan puisi yang dinyanyikan oleh grup tersebut. Alsannya simpel, karena aku tak bisa menangkap dengan jelas kalimat yang terlantun dari puisi karya Asef Saiful Anwar itu.
Rantingranting pohonan jadi bersampur merah
Mengajakku menari gigil di bawah jembatan
Rahim tua yang melahirkan anakanak sungai
Mimpiku pun jatuh pada selembar daun
Dihempaskannya di atas batubatu kali
Sebelum terbawa arus deras lahar dingin
Hancur dan sampai muaranya: lautmu
Betapa mungkin angin tipis ini rutin
Mengurai rambut panjangmu menjadi gerimis
Sebelum hujan pecah di bingkai jendela
Dan kupukupu terbang ke dalam cermin kamarmu
Asef Saiful Anwar
Puisi tersebut pertama kali aku dengar dibawakan oleh grup musikalisasi puisi Ramu Rima saat acara Kampung Budaya FIB UGM. Sejujurnya saat awal mendengar aku kurang begitu tertarik dengan puisi yang dinyanyikan oleh grup tersebut. Alsannya simpel, karena aku tak bisa menangkap dengan jelas kalimat yang terlantun dari puisi karya Asef Saiful Anwar itu.
Kemudian, setelah beberapa bulan di FIB entah ada angin apa, tiba-tiba aku memiliki hasrat untuk mencari tahu puisi Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu. Alhasil, aku pun mendapatkan syair utuh tersebut dari buku antologi dengan judul yang sama dari salah seorang teman dudukku.
Lamat-lamat aku perhatikan bait demi bait puisi tersebut. Lalu aku mecoba menyanyikannya dengan nada yang tentunya tak sebaik penyanyi aslinya. Aku bukan seorang ahli perpuisian, namun boleh dibilang aku adalah penikmat puisi yang sok, sok ingin tahu apa maksud dari puisi yang aku dapatkan itu.
Lamat-lamat aku perhatikan bait demi bait puisi tersebut. Lalu aku mecoba menyanyikannya dengan nada yang tentunya tak sebaik penyanyi aslinya. Aku bukan seorang ahli perpuisian, namun boleh dibilang aku adalah penikmat puisi yang sok, sok ingin tahu apa maksud dari puisi yang aku dapatkan itu.
Aku tahu dan amat menyadari bahwa ada nilai romantisme dalam puisi angin tersebut, namun aku sendiri tak tahu mengapa jadi demikian. Padahal tak ada satupun kata cinta kutemukan dalam tiga bait puisi itu. Ya, romantisme cinta tanpa kata “cinta”. Setidaknya aku bisa membayangkan seorang yang amat cantik muncul dalam imajinasiku saat menghayati puisi tersebut. Perempuan yang tergerai ramputnya, perempuan yang mampu menggetarkan kehidupanku, perempuan yang melahirkan kerinduan pada hatiku.
Rekan-rekan yang ingin mendengarkan bagaimana puisi ini dilantunkan atau dimusikalisasikan dapat mendownload lagunya di link bawah ini.
