Wednesday, 15 July 2015

Saturday, 4 July 2015

Kamu Sebenarnya Hidup Dimana Sih?

Aku jadi teringat tentang sebuah cerpen yang pernah termuat di koran Minggu Jawa Pos, yang judulnya, “Isrtri Pengarang”. Setidaknya ada beberapa hal menjengkelkan yang saat ini aku alami--dan kurang ajarnya--hampir mirip dengan plot cerita di cerpen itu.
Istri Pengarang, berkisah tentang kecemburuan seorang istri pengarang novel yang kurang terkenal pada suaminya. Perempuan bernama Diana itu mulai merasa curiga pada suaminya yang sering keluar malam dengan alasan bisnis bersama penerbit. Kecemburuan Diana kian menguat ketika ia membaca kisah-kisah percintaan yang ditulis oleh sang suami dalam novel atau cerpen-cerpennya. Tak sedikit cerpen yang bersudut pandang orang pertama itu menggambarkan hal-hal mesra bahkan sampai intim dengan dengan seorang perempuan bernama Nadia. Kedetailan si suami dalam menulis kisah membuat Diana berpikiran bahwa hal-hal yang keluar dari pikiran suaminya adalah nyata dan benar-benar terjadi.
Namun masalahnya adalah, siapa sebenarnya Nadia? Suatu hari, dengan kecurigaan yang kian menggebu Diana mencoba mencari tahu ihal perempuan yang namanya sering muncul sebagai tokoh utama perempuan di tulisan suaminya itu. Namun hasilnya nihil, tak ada kejelasan sama sekali tentang Nadia.
“Kau tahu, ini rasanya seperti cemburu pada hantu. . . Hantu juga tak pernah jelas adanya, namun berhasil membuat sebagian besar orang takut, begitu pun gadis bernama Nadia itu.” ungkap Diana.
Di akhir kisah, saat Diana tak lagi punya pekerjaan lantaran terkena PHK, dan bayang-bayang ketakutan akan hadirnya sesosok Nadia, membuatnya menjadi kalap dan tanpa sadar menusukkan pisau ke tengkuk suaminya saat sedang menulis kisah tentang percintaanya dengan Nadia.  Namun sekali lagi penyesalan selalu datang terlambat, karena Diana baru menyadari bahwa yang ditulis suaminya adalah dirinya sendiri. Ya, Nadia hanyalah permainan suku kata dari Dia-na menjadi Nadia. Sayangnya saat ia menyadari hal itu, suaminya telah lenyap di bawah nisan, dan dirinya meringkuk di rumah sakit jiwa karena cemburu pada hantu.
Kisah tentang Diana itu mungkin juga aku alami, namun aku bukan sebagai Diana melainkan sebagai suami Diana alias si pengarang. Beberapa hari setelah kembali dari Kalimantan, aku mendapati banyak perubahan aneh pada beberapa teman akrabku. Namun bila melihat seperti ini jadinya, mungkin akan kucabut status mereka sebagai teman akrab, karena rupanya mereka tak benar-benar paham tentang aku, hanya sebatas kenal atau lebih tepatnya hanya sebatas teman (tidak) akrab.
Sebagai manusia yang telah nyata hidup di dunia, sebenarnya aku kurang begitu suka dengan tradisi baru tentang medsos yang berkembang saat ini. Mengapa, karena kegiatan bermedsos saat ini terlalu berlebihan, bahkna membuat sebagian besar dari orang-orang, termasuk teman-temanku lupa bahwa medsos adalah bagian dari dunia maya bukan dunia nyata. 
Hal menjengkelkan yang baru kualami kemarin adalah saat aku kembali menulis beberapa kisah-kisah semi fiktif dan memostingnya di media sosial. Kisah-kisah yang aku tulis memang sedikit berbau percintaan remaja, dan celakanya beberapa temanku beranggapan bahwa itu adalah 100% nyata. Alhasil . . . . Ya, begitulah. Karena aku sedang menjaga hati untuk seseorang dan dalam cerita-cerita yang kubuat itu tidak berkaitan dengan orang yang kukasihi, melahirkan dugaan bahwa aku akan meninggalkan kekasihku yang juga teman mereka itu.
Sebenarnya bukanlah suatu masalah bila teman-temanku itu hanya sabatas menduga-duga, toh aku juga sering menduga-duga tentang akhir kisah drama dari Detective Conan, namun hal menjemukan yang terjadi adalah mereka dengan sok tahunya membawa kisah dari dunia maya itu ke dunia nyata, dan BRAK! Timbullah konflik yang benar-benar nyata, masalah yang benar-benar terjadi dan menghampiri aku, si Tuhan dalam ceritaku. Melihat kenyataan itu, aku baru menydari bahwa mereka dan sebagian dari kita rupanya belum siap untuk menjadi bagian dari masyarakat dunia maya, bahkan celakanya kita juga belum bisa dengan baik menjadi masyarakat dunia nyata.
Bagaimana tidak, bukankan seorang yang jiwanya terganggu pun bisa (menyamar) menjadi orang yang alim dan bijak dengan mengutip berbagai qoute dari orang-orang yang waras. Bukankah tak jarang, kita temui orang-orang yang di dunia nyata tampaknya waras namun menjadi begitu gila di dunia maya? Sebenarnya itu bukan suatu kesalahan menurutku, sekali lagi kutegaskan ini adalah dunia maya, menyalahkan dunia maya tak ubahnya seorang Diana yang menyalahkan Nadia yang “seolah-olah” merebut suaminya. Di akhir coretan ini, aku hanya ingin mengatakan sekaligus mengajak pada teman-teman yang lain, jika ingin menilai suatu barang di dunia nyata, maka jadilah masyarakat dunia nyata, dan begitu pun sebaliknya jika ingin menilai susuatu di dunia maya. Tentu saja kita akan sulit mengetahui betapa hebatnya suatu software tanpa menggunakan lalu menilainya saat ia berada di dalam komputer, sama halnya dengan kita akan amat kesulitan mengetahu pedasnya sambal jika itu ada di dalam komputer.
Bukankah hal yang biasa seseorang mengatakan dirinya sedang galau di medsos, namun pada kenyataannya ia sedang bersenang-senang dengan pujaan hatinya? Kau mengerti bukan?
Bagikan:

Sunday, 28 June 2015

Pesan Untuk Tiga Teman sepermainan

Entah ada angin apa yang menerpa batinku, tiba-tiba saja aku teringat dengan kisah-kisah yang pernah kita lalui bersama saat masih duduk di sekolah menengah dulu. Bagaimana keadaan kalian? Sehat kan?? Tentu saja aku berharap Tuhan senantiasa melindingi teman-teman sepermainanku.
Cukup lama kita tak saling berjumpa, jarak dan kesibukan boleh tersalahkan sebagai penyebabnya. Kita berempat terpencar di tiga tempat yang berbeda, dan kecil kemungkinan kita berjumpa walau rumah kita sebenarnya berdekatan, kecuali kalian berdua, Anin dan Alin, sebab kalian sama-sama berada di Surabaya, meskipun sebenarnya aku sendiri tak yakin kalau kalian akan mau menyempatkan waktu buat bertemu. Kesibukan, ya aku maklum.
Saat masih di SMP aku tak mengira kita akan berpisah seperti ini, Ega di Malang, Anin Alin di Surabaya, dan aku . . . Ahay aku masih transisi dari Pati ke Yogyakarta alias Jogja. Tentu saja, saat itu, hampir tak ada hari yang kita lalui tanpa kebersamaan. Bahkan saat hari libur pun, selalu saja ada alasan buat kita untuk bertemu di sekolah. Haha, mungkin itulah yang namanya teman.
Baru saja aku termenung, dan menyadari bahwa dunia seni adalah satu hal yang menyatukan kita yang berbeda-beda ini. Ya. . . Meski pun aku sadar, seniku tak terlalu baik--lebih-lebih seni musik--jika dibandingkan dengan kalian, Setidaknya aku cukup cakap untuk bercerita dan memberikan kalian peluang untuk mengejekku atas guyonan-guyonanku yang jarang berhasil. Tak apa.
Satu kenangan yang masih terekam kuat di benakku adalah saat kiat bermain teater di Oktober 2010 lalu. Yang aku ingat bukanlah keberhasilan kita menampilkan sebuah drama yang pada akhirnya menarik minat kakak-kakak SMA untuk mengajak kita tampil bersama di Januari 2011, melainkan proses-proses yang kita lalui untuk sampai pada keberhasilan kecil itu.
Aku masih ingat betapa seriusnya seorang sutradara cantik bernama Agatha Mega Kristi membuat naskah drama berjudul Hilangnya Happy Ending Story Maker. Aku masih ingat betapa kerasnya ia mengoreksi hasil editan naskah yang aku ketik, dan tentunya juga aku akan salalu ingat bagaimana ia memaksaku untuk mencari laptop untuk menulis naskah karena saat itu laptopku sedang digaransikan. Aku masih ingat betapa all out-nya seorang Anindia Hardiyanti mendandani dirinya yang seharusnya tanpa didandani pun wajahnya sudah mendekati make up penyihir jahat dengan rambut yang bermekaran.
Dan tentunya aku masih ingat betapa hebatnya seorang Alinnur Awalina membuat dirinya nampak bodoh dengan baju dan tingkahnya, ya aku masih ingat semua itu, termasuk teman-teman lain.
Kalian ingat, aku sempat dimarahi habis-habisan oleh Bu Endah lantaran hendak menyalahkan sekolah karena tak sedikitpun memberi dana untuk acara ini. Tak hanya Bu Endah, bahkan suaminya pun, Pak Dadija Oetama juga mendiamkan aku lantaran menyebut Apresiasi Seni & Sastra dengan Pentas Seni karena dianggap mengubah total inti makna kegiatan. Dan saat itu aku sempat berpikir, apakah semua seniman itu serumit ini? Namun beberapa tahun aku mondok, aku baru sadar bahwa itulah yang namanya prinsip dan The Power of Words.
Ahay, kita pernah bertingkah tanpa logika saat usia itu, bahkan terlampau sering. Sekarang, diusia kita yang boleh dikatakan telah remaja menuju dewasa ini, terbesit dalam benakku sebuah pertanyaan yang mengkin tak memerlukan jawaban vokal, namun memerlukan jawaban berupa tindakan, “Kapan kita akan berpentas dalam satu panggung lagi?” 
Aku menyadari, bahkan sudah sejak dulu, bahwa kelihaianku berakting kalah jauh dibandingkan kalian bertiga, namun sudah sejak lama pula aku sedikit mengubah cara pandangku, bahwa kualitas akting yang sesungguhnya tak diukur saat seseorang menginjak panggung semata, melainkan juga saat ia turun dari panggung, masih mampukah ia berakting sesuai tuntutan naskah yang telah ditulis oleh Tuhannya? Karena rupanya itu adalah akting yang paling sulit dan drama manusia terpanjang yang pernah di pentaskan di jagat ini.
Anin, Ega, Alin, aku berprasangka kalau kalian akan menjadi orang yang berhasil, satu hal saja yang ingin kumohon pada kalian untuk suatu hari nanti, tolong ajari juga anak-anak generasi bangsaku. Ajari mereka untuk berbuat jujur, berterima kasih dan memaafkan, itu saja.
I Miss you all.
Bagikan:

Tuesday, 23 June 2015